Wisata dan Ziarah di Makam Ki Ageng Pengging Sepuh Boyolali

 
Wisata dan Ziarah di Makam Ki Ageng Pengging Sepuh Boyolali

Sekilas Sejarah

Lokasi makam berada di wilayah Pengging Kamardikan, Banyudono, Boyolali. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah guru Mahesa Jenar, perwira pasukan pengawal raja yang mendapat anugerah gelar Rangga Tohjaya dan menjadi tokoh utama dalam buku "Nagasasra dan Sabuk Inten" karya SH Mintardja. Ki Ageng adalah juga ayah Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Kebo Amiluhur.

Menurut riwayat, Pangeran Handayaningrat menikah dengan Retno Pembayun, puteri sulung Brawijaya Pamungkas atau Brawijaya V, Raja terakhir Majapahit. Dari perkawinan itu lahir Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Kebo Amiluhur. Sumber lain menyebut ia memiliki lima anak, yaitu Retno Pandan Kuning, Retno Pandansari, Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Kebo Sulastri. Wikipedia menyebut nama asli Ki Ageng Pengging Sepuh adalah Sharif Muhammad Kebungsuan, putra bungsu Sayyid Husein Jumadil Kubro dengan Putri Jauhar dari Kerajaan Muar Lama, Malaysia. Muhammad Kebungsuan konon pendiri Kerajaan Maguindanao di Filipina. Namun ada pula sumber yang menyebut nama aslinya adalah Jaka Sengara.

Pangeran Handayaningrat adalah kepala tanah perdikan Pengging dan dikenal sebagai Ki Ageng Pengging Sepuh setelah ia wafat dan Ki Kebo Kenanga menggantikannya dengan julukan Ki Ageng Pengging. Ki Ageng Pengging Sepuh tewas tertusuk keris Sunan Ngudung, ayah Sunan Kudus, pada perang antara Demak dan Majapahit. Sunang Ngudung kemudian tewas oleh Adipati Terung. Mungkin karena Ki Ageng Pengging Sepuh tewas terkena racun warangan keris, maka Mahesa Jenar dikisahkan oleh SH Mintardja sebagai sosok yang kebal segala macam racun, yang paling kuat sekalipun. Itu karena ia telah mendapat sari pati bisa ular Gundala Seta dari Ki Ageng Sela, sahabatnya yang bisa menangkap petir itu.

Tiga makam utama di area Makam Ki Ageng Pengging Sepuh Boyolali itu berada di bawah Pohon Kepuh yang tinggi besar dan rindang. Pohon yang sangat mengesankan itu menurut Ki Narto telah berusia lebih dari 600 tahun. Dua makam bersebelahan adalah Makam Ki Ageng Pengging Sepuh dan isterinya Retno Pembayun. Satu lagi adalah Makam Kebo Amiluhur, bungsu Ki Ageng yang tidak memiliki anak.

Jika Kebo Kenanga masuk Islam dan menjadi murid terbaik Syekh Siti Jenar, maka Kebo Kanigara tetap setia pada agama lama (Hindu) dan konon meninggal saat bertapa di puncak Gunung Merapi. Yang menarik adalah adanya sebuah makam di pinggir pagar keliling yang disebut sebagai makam Widuri, yang dikenal sebagai anak tunggal Kebo Kanigara.

Lokasi Makam

Kompleks makam Ki Ageng Sri Makurung Prabu Handayaningrat atau disebut juga Ki Ageng Pengging Sepuh di dusun Malangan desa Dukuh kec. Banyudono kab. Boyolali. 

Dusun Malangan, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Lokasi GPS : -7.56371, 110.68339