Biografi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

 
Biografi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy adalah ulama Kharismatik, tawadlu, dan berpenampilan sederhana berasal dari Situbondo Jawa Timur, beliau adalah pengasuh pesantren Salafiyah Syafi’iyah ke-4 (empat) setelah KHR. Ahmad Fawaid As’ad.

Riwayat dan Kelahiran
Tanggal 25 Januari 1980 beliau dilahirkan dari pasangan Nyai Hj. Zainiyah As’ad dengan KH. Dhofier Munawar di desa Sukorejo Situbondo dengan nama kecil Muhammad Imdad.

Bayi lelaki yang bernama Muhammad Imdad ini diasuh oleh Nyi Siti. Bersama ibu asuhnya inilah, Muhammad Imdad lebih banyak menghabiskan hari-harinya. Nyi Siti juga sangat menyayangi anak asuhnya itu. Pun halnya dengan anak tersebut, sangat menyayangi ibu asuhnya.

Dan apapun yang diingini anak asuhnya, Nyi Siti tidak pernah berpikir untuk menolaknya. Pada masa-masa inilah Imdad kecil sangat nakal. Ia sering melempar sesuatu jika merasa kecil. Nyi Siti selaku ibu asuhnya kerap kali menerima bugem atau pukulan dari anak asuhnya.

Mengetahui cucunya ngamuk seperti itu, Kiai As’ad bertanya sebab cucunya ngamuk. Nyi Siti menjawab pertanyaan Kiai As’ad bahwa Imdad ngamuk karena dirinya lagi ngajar santri. Kiai As’ad dengan nada bergurau meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah. Saat itu Kiai As’ad menjelaskan kepada Nyi Siti kalau nama cucunya itu masih Muhammad Imdad akan sangat nakal dan sulit diatur.

Maka atas permintaan Kiai As’ad, Nyai Zainiyah merubah nama Muhammad Imdad menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy. Ahmad Azaim Ibrahimy resmi menjadi nama dari cucu Kiai As’ad itu sekitar ia baru berumur 8 tahun.

Menjadi Santri Kelana
Masa kanak-kanaknya tanpa terasa berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu. Tahun 1992 iapun lulus SD. Karena masih belum siap pisah dengan teman-teman SD nya, ia kembali melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Ibrahimy Sukorejo. Masa pendidikannya di SMP milik keluarganya ini ia tempuh dari tahun 1992-1994. Di SMP Ibrahimy ini ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan SMP nya. Dengan berbagai pertimbangan, Tahun 1994 ia pindah ke SMP Nurul Jadid Paiton sampai lulus SMP tahun 1995.

Usut punya usut, kepindahan Ra Zaim-panggilan karib Ahmad Azaim Ibrahimy-dari SMP Ibrahimy ini ternyata atas inisiatif Ra Zaim sendiri. Alasan Ra Zaim untuk pindah dari sekolah yang notabene adalah milik keluarganya sendiri sangat mencengangkan. Di SMP Ibrahimy ini Ra Zaim ingin segera pindah karena ia merasa guru-gurunya meperlakukannya dengan istimewa.

Walau sebagai cucu Kiai As’ad, Ra Zaim ternyata tidak nyaman dengan perlakuan guru-gurunya pada dirinya. Iapun mendesak Sang Ummi untuk mencarikan tempat mondoknya yang baru. Atas hasil Istikhoroh dari Sang Ummi, Ra Zaimpun mantap mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Tidak ingin diperlakukan secara istimewa ditempat barunya ini, Ra Zaim tidak pernah sama sekali menampakkan kalau ia adalah putra KH. Dhofier Munawar. Di Pesantren inilah ia tampil apa adanya. Ra Zaim sering menyapu dan cuci piring di dapur. Usai menyapu dan cuci piring, Ra Zaim langsung pergi tanpa mau menerima imbalan yang ditawarkan kepadanya.

Merasa mendapatkan ketenangan di Pesantren ini, Ahmad Azaim Ibrahimy kembali melanjutkan pendidikan formalnya ditempat yang sama, di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Nurul Jadid Paiton. Perantauan ilmiyahnya di Paiton yang dimulai tahun 1994 ini berakhir sampai tahun 1998.

Ahmad Azaim Ibrahimy yang sudah menginjak usia dewasa memang sosok pemuda yang haus ilmu pengetahuan.ilmu-ilmu Hikmah yang telah merasuk kalbunya tidak serta merta membuatnya puas. Justru, dengan semua itu ia merasa kurang dan terus ingin menggali keluasan ilmu sang Khaliq.

Maka setelah menempuh pendidikan formalnya, Ra Azaim muda melanjutkan pendidikan non-formalnya di beberapa pesantren. Ia menjadi santri yang rajin berpindah dari pesantren satu kepesantren lainnya. Pada masa-masa sebagai santri rantau ini sekitar enam pondok pesantren yang pernah ia singgahi. Pada tahun 1998-1999 ia mencoba nyantri di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang.

Pada tahun 1999 ia kembali mondok beberapa bulan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Kampung Saditon Lasem. Pada kurun tahun 2000 saja dua pondok pesantren yang ia singgahi yakni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo. Azaim sosok lelaki haus ilmu-ilmu Tuhan itu kembali menjalani perantaunnya di Ma’had Nurul Haromain. Di Pesantren yang bertempat di Pujon Malang ini ia mondok selama tiga tahun yakni dari tahun 2000-2003.

Belajar di Mekkah
Nah, pada tahun 2003 inilah, pihak keluarga merasa harus memenuhi janjinya kepada Abuya Sayid Muhammad. Maka pada tahun ini Ra Azaim yang sudah puas mengelilingi Pondok Pesantren-Pondok Pesantren di tanah Air memutuskan untuk berangkat ke Ma’had Rushaifah, Mekkah Al-Mukarramah asuhan Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki. Di Ma’had orang yang pernah menimangnya saat masih Bayi ini, Ahmad Azaim Ibrahimy mampu menambah pundi-pundi keilmuannya.

Aktif Organisasi
Jiwa kepemimpinannya juga sudah mulai tanpak. Terbukti, saat liburan dari tempat mondoknya, ia pergunakan untuk mendirikan organisasi-organisasi kecil-kecilan. Dintaranya adalah Forum Komunikasi Santri Situbondo (Foksasi) dan Ikatan Silaturrahmi (Iksi). Foksasi ini sebagai wadah bagi santri-santri Situbondo yang nyantri di Sukorejo.

Sedangkan Iksi ini adalah organisasi keluarga. Iksi ini sebagai wadah mempersatukan kembali kelurga besar pondok pesantren. Karena menurut hemat Ra Zaim, banyak Ahlul Bait yang sudah mulai menjauh dari pesantren. Nah, Iksi inilah yang bertugas mendatangi keluarga-keluarga yang masih ada hubungan darah dari pintu kepintu.

Sampai-sampai, Iksi ini pernah berkunjung ke Pulau Madura hanya untuk mempersatukan kembali hubungan kekeluargaan diantara mereka. Perlahan namun pasti, Organisasi keluarga yang diketuai langsung oleh Ra Zaim ini mulai membuahkan hasil. Keluarga yang sebelumnya tidak “pede”bergaul dengan keluarga Dhalem mulai merapat kembali. Keluarga Dhalempun mulai menyentuh mereka.

K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy menggagas komunitas Jamiyah Shalawat yang diberi nama Bhenning. Menjawab pertanyaan tentang asal usul nama Bhenning. Kiai Azaim menyampaikan bahwa ia terinspirasi bait kasidah shalawat mahallul qiyam salah satu karya sastra ulama terdahulu yaitu Hawdukas shafil  mubarrad wirduna yawman nusuri

Pengasuh Pesantren
KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy adalah cucu KHR. As'ad Syamsul Arifin, yang dipilih menjadi pengasuh berikutnya menggantikan KHR Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin.

Isyarah estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dari KHR. Ahmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin ke tangan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy sudah ada sejak dulu. Nyai Hajjah Makkiyah As’ad memaparkan hal itu di hadapan ribuan alumni Salafiyah Syafi’iyah di Mushalla Ibrahimy.

Menurut Nyai Makki, sekitar tahun 1980-an, Nyai Zainiyah As’ad sering bercanda, setelah Kiai Fawaid, yang meneruskan Pondok Sukorejo nanti adalah Ra Zaim. “Candaan Nyai Zai tersebut sekarang menjadi kenyataan,” imbuh Nyai Makki.

Nyai Makki juga menceritakan, bahwa kakaknya, Nyai Zai juga berwasiat agar Ra Zaim dikawinkan dengan Ning Sari. Nyai Makki juga menambahkan, kisah Kiai As’ad mirip dengan Kiai Fawaid. Kiai As’ad sebelum meninggal, menitipkan istrinya, Nyai Ummi Khairiyah kepada Kiai Fawaid. Kiai Fawaid sebelum meninggal juga menitipkan istrinya, kepada keluarga. Bahkan, menurut Nyai Makki, ketika memandikan Kiai As’ad, Kiai Fawaid menangis dan menitipkan istrinya kepada Nyai Makki.

Menurut Nyai Makki, Kiai Fawaid juga sering dawuh, agar Ra Zaim dikawinkan dengan Ning Sari. Sebelum Nyai Makki melaksanakan ibadah umrah, Kiai Fawaid menitipkan pesan agar disampaikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Al-Maliki, guru Ra Zaim. “Ketika di Makkah, saya mendengar suara agar menunggu untuk menyampaikan pesan itu sampai bulan purnama, tanggal lima belas,” tutur Nyai Makki.

Ternyata, tanggal 16 Rabiul Tsani, Kiai Fawaid meninggal dunia. Setelah itu, Nyai Makki menyampaikan pesan Kiai Fawaid kepada Habib Ahmad bin Muhammad Al-Maliki. Habib Ahmad berjanji akan mengantarkan sendiri Ra Zaim ke Sukorejo.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber