Biografi Mbah Manshur Popongan (KH. Muhammad Manshur)

 
Biografi Mbah Manshur Popongan (KH. Muhammad Manshur)

Daftar Isi Profil Mbah Manshur Popongan (KH. Muhammad Manshur)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Merintis Pesantren
  6. Mursyid Thariqah
  7. Murid-Murid

Kelahiran

KH. Muhammad Manshur atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Manshur Popongan lahir di Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Beliau merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dari Syekh Muhammad Abdul Hadi Girikusumo. Saudara-saudara beliau diantaranya Sirajuddin dan Zahid.

Mbah Manshur Popongan bersama kedua saudaranya menjadi guru Thariqah Naqsyabandiyah. Mbah Sirajuddin dan Mbah Zahid mengembangkan thariqah di Girikusumo, meneruskan tugas spiritual Mbah Hadi, sedangkan Mbah Manshur mengembangkan thariqah di Karesidenan Surakarta dan menjadi pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.

Ayahanda Mbah Manshur Popongan adalah seorang mursyid Thariqah Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Girikusumo, Mranggen, Demak. Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa Syekh Muhammad Abdul Hadi sebagai sosok religious leader (tokoh agama) yang sangat berpengaruh di Semarang.

Syekh Muhammad Abdul Hadi atau yang kerap dipanggil dengan sapaan Mbah Hadi Girikusumo adalah putra Thohir bin Shodiq Jago bin Ghozali (Klaten) bin Abu Wasijan (Medono, Pekalongan) bin Abdul Karim (Paesan, Batang) bin Abdurrasyid (Batang) bin Saifudin Tsani (Kiai Ageng Pandanaran II Semarang) bin Saifudin Awwal (Kiai Ageng Pandanaran I, Sunan Tembayat Klaten).

Ayahanda beliau juga, memiliki peran besar dalam dakwah Islam, khususnya dalam mengembangkan Thariqah Naqsyabandiyah. Jaringan Thariqah Naqsyabandiyah yang dipelopori oleh Mbah Hadi Girikusumo berkembang sampai se-antero Jawa Tengah dan Yogyakarta melalui para murid spiritualnya, yang jumlahnya lebih dari seratus ribu orang.

Mbah Hadi mendirikan pondok pesantren Girikusumo pada tanggal 16 Rabiul Awwal 1288 H atau 1866 M. Sebelumnya, Mbah Hadi belajar agama dan Thariqah Naqsyabandiyah kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi di Makkah al-Mukarramah. Di Girikusumo, Mbah Hadi sering juga dipanggil Mbah Giri, Mbah Hasan Muhibat, dan Kiai Giri.

Girikusumo adalah nama sebuah desa. Giri (bhs. jawa) berarti gunung, dan kusumo (bhs. jawa) berarti bunga. Ponpes Giri didirikan oleh Syekh Muhammad Hadi pada tahun 1288 H bertepatan dengan tahun 1866 M. Mbah Hadi memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan dan dakwah Islam. Hal ini dibuktikan dengan mengirim putra-putranya untuk nyantri di luar daerah.

Kepemimpinan pesantren di Girikusumo dipegang oleh Mbah Hadi sendiri, sedangkan para santri muda diasuh oleh Mbah Sirajuddin, sedangkan Mbah Manshur ditugaskan ayahnya untuk meneruskan perjuangannya di daerah Karesidenan Surakarta. Akan tetapi, umur Mbah Sirajuddin pendek, dan ia wafat mendahului ayahandanya. Mbah Hadi meninggal dunia pada tahun 1931, dan selanjutnya tugas kepemimpinan pondok pesantren diteruskan oleh putranya, yaitu adik kandung Mbah Sirojuddin, yaitu Mbah Zahid.

Berdasarkan cerita yang berkembang, pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul ‘adah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada di dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat termasuk para kyai tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Manshur Popongan datang, batu tersebut bisa diangkat oleh Mbah Manshur sendiri. Itulah salah satu karomah yang dimiliki Mbah Manshur.

Wafat

Mbah Manshur Popongan wafat tahun 1955. Setelah Mbah Manshur Popongan wafat, estafet kepemimpinan pesantren dan thariqah dipegang oleh cucunya, Mbah Salman Dahlawi, sampai sekarang kepemimpinan dipegang oleh Gus Multazam bin Salman Dahlawi. Dan Kiai Nasrun Minallah sebagai sesepuh pondok Al-Manshur.

Selain itu, setiap tahun Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan dan Bani Manshur mengadakan acara haul yang dihadiri oleh ribuan orang.

Keluarga

Mbah Manshur melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Maryam (Nyai Kamilah) putri H. Fadlil, seorang petani kaya di Popongan. Beliau menikah pada tahun 1918.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 6 anak, diantaranya, Masyfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, Muqarrabin, dan Irfan. 

Putri pertamanya, Nyai Masyfufah menikah dengan  H. Mukri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet kepemimpinan pesantren dan Thariqah Naqsyabandiyah.

Pendidikan

Mbah Manshur kecil, memulai pendidikannya dengan belajar kepada ayahnya, Syekh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika memasuki usia remaja, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh KH. Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta.

Merintis Pesantren

Mbah Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan, Klaten, 20 km. dari Jamsaren Surakarta.

Sebelum didirikan pondok pesantren, Mbah Manshur mengajar ngaji masyarakat Popongan. Para santri awal Mbah Manshur sangat sedikit, dan hanya membentuk halaqah kecil. Setelah beberapa tahun kemudian santri yang datang mulai banyak dan dari berbagai daerah sehingga H. Fadlil berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid.

Pembangunan pondok pesantren dan masjid dilakukan secara swasembada dan gotong royong. Batu fondasi diperoleh oleh para santri dari sungai jebol, sebuah sungai yang terletak di sebelah selatan Dusun Popongan. Adapun pasir diambil dari sungai tegalgondo, sebelah utara Dusun Popongan.

Sebagai tokoh yang kaya, H. Fadlil sendiri yang banyak menyumbang pendirian pesantren yang kelak diasuh oleh menantunya tersebut. Mbah Kiai Muslimin, menceritakan bahwa pembangunan pesantren dilakukan secara gotong royong, sebagian memang mengambil tukang profesional. Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan.

Pondok Pesantren Popongan, pada masa kepemimpinan cucunya, KH. Salman Dahlawi, tanggal 21 Juni 1980, namanya diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Dusun Popongan kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, di samping menjadi pusat suluk Thariqah Naqsyabandiyah.

Mursyid Thariqah

Jaringan Thariqah Mbah Manshur dikembangkan dari Mbah Hadi dengan silsilah sebagai berikut:

Mbah Manshur, dari Syekh Muhammad Hadi Bin Muhammad Thohir, dari Syekh Sulaiman Zuhdi, dari Syekh Ismail al-Barusi, dari Syekh Sulaiman al-Quraini, dari Syekh ad-Dahlawi, dari Syekh Habibullah, dari Syekh Nur Muhammad al-Badwani, dari Syekh Syaifudin, dari Syekh Muhammad Ma’shum, dari Syekh Ahmad al-Faruqi, dari Syekh Ahmad al-Baqi’ Billah, dari Syekh Muhammad al-Khawaliji, dari Syekh Darwisy Muhammad, dari Syekh Muhammad az-Zuhdi, dari Syekh Ya’kub al-Jarkhi, dari Syekh Muhammad Bin Alaudin al-Athour, dari Syekh Muhammad Bahaudin an-Naqsabandy, dari Syekh Amir Khulal, dari Syekh Muhammad Baba as-Syamsi, dari Syekh Ali ar-Rumaitini, dari Syekh Mahmud al-Injiri Faqhnawi, dari Syekh Arif Riwikari, dari Syekh Abdul Kholiq al-Ghajwani, dari Syekh Yusuf al-Hamadani, dari Syekh Abi Ali Fadhal, dari Syekh Abu Hasan al-Kharwani, dari Syekh Abu Yazid Thaifur al-Busthoni, dari Syekh Ja’far Shodiq, dari Syekh Qosim Muhammad, dari Syekh Sayyid Salman al-Farisi, dari Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi Muhammad saw.

Mbah Hadi mengangkat Mbah Manshur dan Mbah Zahid sebagai mursyid thariqah. Dari Kiai Zahid, thariqah berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan thariqah melalui para badal (murid kepercayaan), di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Mbah Arwani Amin (Kudus) yang dilanjutkan oleh KH. Ulinnuha Arwani, Mbah Salman Dahlawi Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Mbah Abdul Mi’raj (Candisari Semarang) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.

Selain dikembangkan oleh para mursyid yang menjadi murid Mbah Manshur, thariqah Naqsyabandiyah juga dikembangkan di Kauman Surakarta oleh seorang murid perempuan Mbah Manshur, yaitu Nyai Muharromah (Nyai Soelomo Resoatmodjo). Selain di Popongan, Mbah Manshur juga mendirikan pusat latihan spiritual Thariqah Naqsyabandiyah di Kauman Surakarta. Sejak Mbah Manshur memiliki rumah di Kauman Surakarta, maka Thariqah Naqsyabandiyah juga berkembang di kota santri tersebut.

Rumah Mbah Manshur di Kauman tersebut dibangun oleh muridnya yang bernama Muslimin dan dibantu oleh Salman muda, cucu kesayangan Mbah Manshur. Mbah Muslimin inilah yang sejak awal sudah menjadi penderek (pengikut) Mbah Manshur, dan menjadi teman karib Kiai Salman, sejak kecil sampai wafatnya.

Di Popongan sendiri, estafet kepemimpinan pondok pesantren dan Thariqah Naqsyabandiyah dipegang oleh Kiai Salman, cucunya. Para putra-putri Mbah Manshur belum ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan thariqah, tetapi menekuni dunia perdagangan, mengikuti jejak kakeknya, Mbah H. Fadlil. Namun tetap tidak lupa, tetap ngaji dan laku thariqoh serta senantiasa membantu pengelolaan pondok popongan dan solo.

Dalam mengembangkan jaringan Thariqah Naqsyabandiyah, Mbah Manshur dibantu oleh santrinya yaitu Mbah Arwani Amin (Kudus) dan Mbah Abdul Mi’raj (Candisari, Semarang). Di Popongan, Mbah Manshur dibantu oleh banyak santri dan jama’ahnya dalam mengembangkan Islam dan jaringan Thariqah Naqsyabandiyah.

Mbah Manshur termasuk Kiai sepuh yang disegani, bukan saja oleh para santri dan jama’ahnya, tetapi juga oleh masyarakat umum, bahkan oleh para sejawatnya dari kalangan Kiai. Setelah pondok pesantren berdiri, Mbah Manshur bukan saja kedatangan tamu yang mau mengaji saja, tetapi juga tamu-tamu umum yang bermaksud bersilaturrahmi dan ngalap berkah. Kharisma Mbah Mansur pun semakin meningkat dan menjadi Kyai populer di kalangan masyarakat Klaten, Surakarta, Semarang, Jawa Tengah pada umumnya, dan Yogyakarta.

KH. Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krayak Yogyakarta, adalah termasuk murid Mbah Manshur di Yogyakarta. Walaupun tidak menjadi mursyid thariqah, KH. Munawwir menjadi bagian penting dalam perjuangan Mbah Manshur. Ketika KH. Munawwir meninggal tahun 1942, Mbah Manshur menghadiri acara ta’ziyah dan menjadi imam shalat jenazah.

Mbah Manshur juga menjalin hubungan baik dengan Mbah Siroj, Panularan Surakarta, dan Mbah Ahmad Umar bin Abdul Mannan Mangkuyudan Surakarta. Kedekatan dengan Kiai Ahmad Umar ditunjukkan dengan pemberian nama Al-Muayyad oleh Mbah Manshur untuk nama pondok pesantren di Mangkuyudan yang dirintis Mbah Abdul Mannan pada tahun 1930. Al-Muayyad berarti yang dikuatkan, artinya bahwa pondok pesantren tersebut dikuatkan oleh kaum muslimin di Surakarta dan sekitarnya.

Murid-Murid

Diantara santri atau murid Thariqah Naqsyabandiyah-Khalidiyah Mbah Manshur banyak yang masyhur atau dikenal sebagai seorang waliyullah, seperti Mbah Munawwir (Krapyak, Yogyakarta), Mbah Arwani Amin (Kudus), Mbah Abdul Mi’raj (Candisari, Semarang), Mbah Umar Abdul Mannan (Mangkuyudan, Surakarta), Mbah Salman Dahlawi (Popongan, Klaten), Mbah Rukyat (Kaliwungu, Kendal) dan lain-lain.