Biografi Mbah Rukyat (KH Ahmad Rukyat) Kaliwungu

 
Biografi Mbah Rukyat (KH Ahmad Rukyat) Kaliwungu

Riwayat dan Kelahirannya

KH Ahmad Rukyat adalah sosok ulama Kaliwungu yang sangat Tawadhu’ dan Zuhud. Walaupun beliau hidup sederhana, namun beliau dikenal masyarakat sebagai Kyai yang loman (dermawan). Pada tahun 1932, beliau diamanahi mengasuh Pondok Pesantren APIK Kauman, Kaliwungu, karena Pondok Pesantren tersebut ditinggal wafat oleh Pengasuhnya yang masih merupakan Paman beliau, yaitu KH. Irfan bin Musa.

KH.Ahmad Rukyat Bin Kyai Abdullah Wiryodikromo terlahir pada 1885 M, wafat pada hari jum'at ba'da sholat maghrib tanggal rabiul akhir 1388 H atau bertepatan 04 juli 1968 M

Kyai Rukyat melanjutkan kepemimpinan Kyai Irfan sebagai pengasuh Ponpes , menempa Santri yang datang Dari seluruh Pelosok Negeri hingga banyak sekali santri-santri nya bertebaran di Nusantara dan banyak Pula yang menjadi Ulama-Ulama Besar dan berpengaruh dalam mengembangkan ajaran Islam dan memperdayakan Ahlussunnah waljamaah .

Pada masa kepemimpinan beliau inilah, Pondok Pesantren APIK bertambah pesat dan maju, karena pada saat itu merupakan masa-masa perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dimana rumah Pendiri Pondok dijadikan sebagai Posko Palang Merah serta karena semakin bertambahnya santri yang mondok di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu. Diantara ribuan santri KH. Ahmad Rukyat yang menjadi ulama/tokoh masyarakat adalah :

1.)      KH. Abuya Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang, Banten

2.)      KH. A. Shohibulwafa TA. (Abah Anom), Tasikmalaya

3.)      KH. Asror Ridwan (Mbah Asror) Kaliwungu, Kendal

4.)      KH. Dimyati Rois (Mbah Dim) Kaliwungu, Kendal 

Dan masih banyak lagi santri-santri KH. Ahmad Rukyat yang menjadi ulama besar pada saat beliau mengasuh Pondok Pesantren APIK Kaliwungu.

Pada masa Kepemimpinan KH. Ahmad Rukyat inilah nama Pondok Pesantren Salafi al-Kaumani berubah menjadi Asrama Pelajar Islam Kauman (APIK) Kaliwungu. Perubahan nama tersebut didasarkan pada situasi saat itu dimana pergolakan politik negara dengan munculnya organisasi-organisasi massa seperti Masyumi, Nahdlatul Ulama dan organisasi kepemudaan lain.

Setelah wafatnya KH. Ahmad Rukyat (1968), Pondok Pesantren yang semula dalam pengajarannya hanya menggunakan metode sorogan dan bandongan, ditambah dengan metode klasikal. Beliau juga pernah menjadi salah satu Mursyid Thariqah di Wilayah Kabupaten Kendal.

Diantara Karomah KH. Ahmad Rukyat (Mbah Rukyat)

Beliau pernah dikunjungi Nabi Khidhir as. dan konon katanya, salah satu  guru beliau adalah Nabi Khidir as. Ada juga cerita yang sumbernya dari santri beliau, jika mengajar para santri di masjid, suara beliau bisa terdengar beratus-ratus meter jauhnya, padahal beliau tidak memakai mic atau alat pengeras suara apapun dan keadaan beliau pun saat itu sangat sepuh. Ada kisah lain, beliau terbiasa berkomunikasi batin dengan santrinya yang berada di Banten, yaitu KH. Abuya Dimyati.

Jika Abuya Dimyati sedang menghadapi suatu kesulitan atau masalah, biasanya Abuya Dimyati langsung berkomunikasi batin dengan beliau. Kemudian masalah yang sedang dihadapi Abuya Dimyati pun tiba-tiba terselesaikan. Maka, tidak mengherankan bila banyak santri atau masyarakat yang mengatakan bahwa beliau termasuk salah satu Waliyullah. Masih banyak lagi cerita-cerita tentang karomah beliau yang lain. Wallahu A'lam

Beliau wafat pada hari Jum'at ba'da shalat Maghrib tanggal 9 Rabiul Akhir 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 4 Juli 1968 M, ribuan orang mengantarkan kepergian beliau untuk selama-lamanya kepada Dzat Yang Maha Pencipta, Allahu Rabbul ‘Izza. Beliau dimakamkan di Jabal Nur (Desa Protomulyo) bersama sahabat-sahabat beliau sesama Waliyullah, seperti Wali Musyaffa, Wali Mustofa dan lain-lain. Semoga Allah swt. menerima amal dan jasa beliau pada para santri khususnya dan masyarakat Kaliwungu dan sekitarnya pada umumnya serta menempatkan beliau ke tempat yang mulia di sisi-Nya. Amiin

 


Sumber: Dari Berbagai Sumber