Biografi KH. Ahmad Syathibi Al-Qonturi (Mama Gentur)

 
Biografi KH. Ahmad Syathibi Al-Qonturi (Mama Gentur)

Al-'Alim Al-'Allamah Al-Kamil Al-Waro Asy-Syaikh Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa'id Al-Qonturi Asy-Syanjuri Al-Jawi Asy-Syafi'i (bahasa Arab: العالم العلامة الكامل الورع الشيخ أحمد شاطبى بن محمد سعيد القنتورى الشنجورى الجاوى الشافعى, lahir diCianjur, Hindia Belanda, sekitar tanggal 12-18 tanpa diketahui secara pasti bulan dan tahun kelahirannya - meninggal di Cianjur,Indonesia pada Rabu 14 Jumadil Akhir1365 Hijriyah, tanggal 15 Mei 1946) atau lebih dikenal dengan Mama Gentur adalah salah satu sosok ulama Tatar Pasundan y‎ang bergelar Al-Alim Al-'Allamah Al-Kamil Al-Wara.

Riwayat dan Keluarga

Ahmad Syathibi diperkirakan lahir sekitar tanggal 12-18 tanpa diketahui secara pasti bulan dan tahun kelahirannya di Kampung Gentur, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat, Hindia Belanda. Tetapi, yang jelas ia keturunan Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan, Tasikmalaya, Tatar Pasundan. Nama sewaktu kecilnya adalah Adun, setelah pulang dari Mekkah namanya diganti menjadi Dagustani. Namun, nama masyhurnya sekarang yaitu Al-‘alim Al-‘allamah Syaikh Ahmad Syathibi atau biasa disebut sebagai Mama Gentur kata orang sunda yang jadi anak muridnya.

Ahmad Syathibi adalah anak ketiga dari empat bersaudara buah hati pasangan Mama Hajji Muhammad Sa’id & Ibu Hajjah Siti Khodijah. Kakak kandungnya antara lain Hajjah Ruqiyah (pengajar Pondok Pesantren Cipadang, Cianjur), Mama Hajji Ilyas (alias Mama Hajji Yahya, pengajar Pondok Pesantren Babakan Bandung, Sukaraja, Sukabumi), dan adik kandung yakni Mama Hajji Muhammad Qurthubi (alias Mama Gentur Kidul, pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur).

Perjalanan

Kabar dari Syekh Ahmad Eumed (alias Mama Cimasuk, Garut) bin Syekh Muhammad Rusdi (alias Mama Haurkoneng, Garut), “Waktu saya mengunjungi Mama Gentur, beliau mengisahkan, “Bahwa dulu Mama ketika sangat menginginkan punya ilmu yang besar tapi Mama merasa bingung memilih guru untuk ngaji kemana?”

Akhirnya Mama berangkat ziarah kubur ke Habib Husain bin Abu Bakar Alaydrus alias Wali Luar Batang, Jakarta. Disitu Mama membaca Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali dan tamat sebanyak 44 kali dalam waktu delapan bulan. Kemudian, setelah itu Mama bermimpi bertemu dengan Wali Luar Batang. Wali tersebut berkata, “Kalau kamu benar-benar mau punya ilmu yang besar, segeralah pergi ke daerah Garut.”

Masa pendidikan

1. Pesantren Keresek

Maka kemudian Mama mulai berangkat ke Pesantren Keresek. Kata Mama Keresek, “Kalau Ananda mau punya ilmu yang besar, besok mama antar ke paman mama yaitu Pangersa Mama Ajengan Muhammad Adzro’i di Bojong, sebab dalam waktu sekarang ini para sepuh yang punya ilmu yang besar di tiap kabupaten juga kebanyakan adalah yang nyantri ke paman mama tersebut, yaitu Syekh Muhammad Adzro’i, Bojong, Garut”. Mama Gentur menginap semalam di Keresek, besoknya kemudian diantarkan ke Pesantren Bojong.

2. Pesantren Bojong

Diceritakan waktu pertama masuk ke Pesantren, oleh guru di pesantren disumpah jikalau tidak mempunyai ilmu sihir. Kemudian beliau melaksanakan sumpahnya tanda tidak memiliki ilmu sihir. Kemudian barulah beliau diterima sebagai murid di Pesantren. Makanan yang biasa beliau makan selama di pesantren cukup dengan talas yang dicuilkan ke dalam sambel roay, tidak pernah makan yang enak dengan rupa-rupa makanan.

Ketika mendapati masalah kitab yang susah difaham, beliau langsung menghadiahi mualifnya dengan makanan dan aurod shalawat. Hanya dalam waktu 40 hari mondok di Bojong beliau sudah hafal kitab Yaqulu (Nazom Maqsud, dalam ilmu shorof), Kailany (ilmu shorof), Amrithy (ilmu nahwu), Alfiyah (ilmu nahwu dan shorof), Samarqondy (ilmu bayan), dan Jauhar Maknun (ilmu ma’ani, bayan dan badi).

Keunggulan Pesantren Bojong – Garut adalah para santri yang belajar di pesantren tersebut jika sudah belajar selama dua tahun biasanya akan jadi Al-‘Alim al-‘Allamah. Mama Gentur menetap di Pesantren Bojong hanya selama satu tahun hingga akhir bulan Sya’ban, karena disuruh gurunya, yaitu Syekh Muhammad Adzro’i untuk menemani Kiyai Muhammad Rusdi atau Kiyai Rusdi berguru ngaji di Pesantren Gudang – Tasikmalaya sekarang, yang sudah menetap selama empat tahun.

Kiyai Rusdi merupakan salah satu santri Bojong, disaat Mama Gentur mulai mondok di Pesantren Bojong tersebut Kiyai Rusdi sudah genap tiga tahun. Ketika Ajengan Muhammad Rusdi sudah genap dua tahun di Bojong juga oleh gurunya yaitu Syekh Muhammad Adzro’i sudah disuruh muqim sebab sudah Allamah, hanya saja ayahnya dan kakeknya belum mengizinkan.

Sebab menurut pendapat kakeknya yaitu Syekh Utsman berkata kepada Syekh Muhammad Adzro’i, Bojong, “Ajengan khawatir masih remaja, baru usia 17 tahun entar jadi Kiyai nunggul dan takut kasar bahasanya.” Kemudian dijawab oleh Mama Bojong, “Tidak akan jadi Kiyai nunggul Mang Haji, saya yang bertanggungjawab, bahkan santrinya juga putra-putra saya dan santri-santri saya.” Kemudian dijawab lagi oleh kakeknya, “Ajengan semoga berkenan untuk menambah lagi ilmunya kepada cucuku itu, agar cucuku itu ilmunya semakin bertambah matang, fahamnya semakin bertambah jenius.”

Maka kemudian Mama Bojong bersedia untuk mengajar Kiyai Muhammad Rusdi lagi. Ketika Ajengan Muhammad Rusdi sudah genap empat tahun di Bojong sedangkan Mama Gentur sudah genap satu tahun. Dari situ Kiyai Rusdi disuruh ngaji ke Mama Syuja’i, Gudang, Tasikmalaya, ditemani oleh Mama Gentur.

3. Pesantren Gudang

Menurut penuturan Mama Gentur, Mama Gudang jika sedang mengajar dihadapan Kiyai Rusdi dagu dan badan beliau bergetar dikarenakan sungkan akan ilmunya Kiyai Rusdi. Bahkan, Mama Gudang berkata kepada Mama Gentur, “Katakan kepada Ki Rusdi segeralah bermukim. Bukankah Kang Adzro’i pun sudah menyuruhnya dan sudah ada dalam ridho guru?” Kemudian Mama Gentur menyampaikan amanat dari gurunya itu dengan sebisa-bisa bicara kepada Ajengan Muhammad Rusdi. Namun, tetap saja ayah dan kakeknya belum juga menyetujuinya.

Kemudian Kiyai Rusdi setelah mondok di Gudang selanjutnya pindah lagi ke Syekh Muhammad Shoheh, Bunikasih, Cianjur yang disebut Ba’dul Ikhwan oleh Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam kitab Tijan. Syekh Muhammad Shoheh, Bunikasih, Cianjur dan Syekh Muhammad Adzro’i, Bojong, Garut adalah teman sepondok sewaktu ngaji di Syekh Ibrahim al-Baijuri. Mama Gentur terus menetap di Gudang hingga sembilan tahun lamanya.

Waktu mondok pesantren di Gudang, beliau pernah ziarah ke makam kubur di Geger Manah. Sebelumnya beliau puasa dulu selama empatpuluh hari baru berangkatlah ke Geger Manah dan langsung mendatangi juru kunci makam. Beliau disambut di rumah kuncen sembari ditanya perihal maksud dan tujuannya, yaitu hendak ziarah tabaruk di makam keramat. Kemudian diantarlah beliau menuju makam keramat tersebut. Kira-kira jam empat Subuh beliau pulang dari makam dan balik lagi ke tempat kuncen, kemudian kuncen menjamunya dengan rupa-rupa makanan.

Selesai makan, beliau bertanya kepada kuncen, “Mang, malem tadi ada hujan kesini gak?” Jawab kuncen, “Ah, gak ada. Memangnya ada apa Ajengan?” Kuncen agak heran. “Waktu saya di makam sedang ziarah tiba-tiba ada hujan yang besar sekali, petir menyambar-nyambar disertai angin yang sangat kencang. Saya melihat pohon kayu yang amat besar merunduk-runduk ke tanah seperti mau runtuh, tumbang.” Kuncen bertanya, “Terus ada apa lagi?” Jawab Mama Gentur, “Ah rahasia, saya gak sanggup menceritakannya.”

Di malam itu kata penduduk kampung ada suara ayam berkokok yang terdengar jelas oleh semuanya, sedangkan di kampung tersebut tidak ada yang punya ayam yang suaranya seperti itu. Semuanya kaget akan suara ayam tersebut, kemudian diselidiki darimana sumbernya suara. Ternyata yakin bahwa suara ayam tersebut berasal dari atas pasir (sunda : bukit atau gunung kecil), tempat makam yang diziarahi oleh Pangersa Mama Gentur. Kata Mama Gentur, “Setelah 9 tahun di Gudang kemudian Mama berangkat ke Mekkah ngaji ke Syekh Hasbullah.

4. Pesantren di Mekkah

Pertama ngaji di Syekh Hasbullah banyak yang menyepelekannya. Suatu hari, Syekh Hasbullah berkata kepada murid-muridnya, kira-kira begini artinya, “Besok hari Rabu kita akan mulai ngaji kitab Tuhfatul Muhtaj, tapi sebelumya kalian muthala’ah dulu kitabnya. Hasil muthala’ah tuliskan dalam buku masing-masing. Besok semua harus hadir dan bawalah hasil tulisan tersebut. Besoknya Syekh Hasbullah memeriksa buku murid-muridnya. Ketika melihat buku tulisan Mama, Syekh Hasbullah tertegun, kemudian buku Mama Gentur dipisahkan dan melanjutkan pemeriksaannya.

Setelah selesai, Syekh Hasbullah berkata, “Ngaji Tuhfah batal sebab gak pantas Syatibi ngaji kepada saya, bahkan seharusnya saya yang ngaji ke Syatibi. Masalah yang belum sampai saya muthala’ah, dalam buku Syatibi sudah ada. Saya gak sanggup mentaswirkan kitab dihadapan Syatibi. Tetapi, oleh sebab semuanya meminta untuk diteruskan, dan juga Mama memohon supaya diteruskan biarpun dibaca hanya lafadznya, maka barulah Syekh Hasbullah bersedia walaupun cuma lafadznya hingga tamat.

Kata Mama Gentur, “Ilmu yang dipakai muthala’ah kitab tuhfah tersebut adalah sebagian ilmu yang diterima dari Syaikhuna Bojong.” Inilah ciri Allamah-nya Syaikhuna Bojong, Garut. Sewaktu di Mekkah, Mama Gentur suka shalat didepan baitullah, para askar sudah pada tahu dan memberi isyarat kepada jama’ah yang lain supaya ada tata hormat kepada beliau sembari berkata, “Hadza ‘Ulamaul Jawa”.

5. Pesantren di Mesir

Setelah sekian lama di Mekkah, kemudian beliau berangkat ke Mesir dengan maksud mau melanjutkan thalab ilmunya. Namun, Ulama Mesir sama berkata, “Sudah tidak ada guru buat Ahmad Syathibi”. Hanya ada satu ulama ahli qiro’at Qur’an yang berasal dari Indonesia juga yang bermuqim di Mekkah, yaitu dari Pulau Bawean. Selanjutnya mereka saling menggurui. Mama Gentur mengajar ilmu Mantiq, ulama Bawean mengajar ilmu Qiro’at.

Sesudah Mama Gentur mukim di Mekkah selama tiga tahun, kata satu riwayat kemudian ada utusan dari Syekh Muhammad Shoheh, Bunikasih, Cianjur. Amanatnya, “Katakan kepada Syatibi segeralah pulang kemudian mukim di Cianjur, sebab di daerah Tatar Pasundan sudah tidak ada lagi yang kuat untuk jadi pemimpin dan tauladan dari pengamalan ilmu yang sebenarnya.

6. Pesantren Bunikasih

Kemudian Mama Gentur pulang ke Cianjur melanjutkan mengaji ke Syeikh Shoheh Bunikasih, kemudian mukim di Gentur. Sebelum muqim, beliau membaca Shalawat Nariyyah terlebih dahulu sebanyak 4444 kali dengan maksud supaya mukimnya ditambah-tambah ilmu dan tambah-tambah manfaatnya.

Cara Mama Gentur dalam menyebarkan ilmunya yaitu beliau tidak pernah mengajarkan suatu ilmu kepada murid-muridnya kecuali telah ia amalkan terlebih dahulu. Seperti beliau mengijazahkan shalawat untuk umum sesudah diamalkan terlebih dahulu selama 40 tahun. Beliau pernah diminta mengaji kitab Tuhfah Muhtaj, sebelum belajar mangaji beliau puasa dulu selama empatpuluh hari.

Jika makan, beliau cukup di mangkok dengan garam. Beliau tidak pernah makan enak sebagaimana keadaan beliau pada waktu nyantri di pesantren. Suatu ketika, beliau khusus diundang makan-makan oleh “Om Muharam”. Ia adalah seorang saudagar kaya raya di Cianjur. Segala makanan dan minuman disediakan. Namun, yang dimakan beliau cuma sedikit nasi yang dicuilkan ke garam saja. Begitulah menu beliau makan selamanya. Cuma pernah sesekali makan agak beda, termasuk mewah menurut beliau yaitu waktu makan dengan pepes burayak (ikan kecil) hasil ternak beliau, sebab kasab beliau yaitu ternak telur ikan hingga jadi burayak.

Malah, suatu ketika Mama Gentur berternak telur ikan di kolam. Ketika sudah jadi burayak, tidak biasanya waktu itu bibit telur jadi dan mulus semuanya. Dari situ Mama memanggil pekerjanya yang bernama Ki Yusuf. Kata beliau, “Suf, coba kesini bawa cangkul!” Ki Yusuf menjawab, “Ada apa, Kang?” Kata Mama Gentur, “Kamu lobangi pinggir kolam ini, kemudian buanglah sebagian airnya!” Ki Yusuf heran, “Kalau begitu bukankah burayaknya pasti pada kabur, Kang?” Kata Mama Gentur, “Iya sengaja biar pada kabur ikan-ikannya takutnya ini istidraj karena sadar diri belum bisa ibadah”. Setelah terbuang sebagian air dan ikan-ikannya, barulah Ki Yusuf disuruh menutup kembali lubang air tadi.

Karya Tulis

Semasa hidupnya beliau mengarang rupa-rupa kitab kurang lebih sekitar 80 kitab, berbahasa Arab dan Sunda. Diantaranya adalah :

1. Sirojul Munir (dalam ilmu fiqih)
2. Tahdidul ‘Ainain (dalam ilmu fiqih)
3. Nadzom Sulamut Taufiq (dalam ilmu fiqih)
4. Nadzom Muqadimah Samarqandiyah (dalam ilmu bayan)
5. Fathiyah (dalam ilmu bayan)
6. Nadzom Dahlaniyah (dalam ilmu bayan)
7. Nadzom ‘Addudiyah (dalam ilmu munadzoroh)
8. Nadzom Ajurumiyah (dalam ilmu nahwu)
9. Muntijatu Lathif (dalam ilmu shorof)
Dan Lain-lainnya

Sebagian karangannya dalam ilmu bayan ada yang menyebar sampai Tanah Arab. Para Ulama Arab dan Mesir banyak yang membaca hasil karya beliau dan memujinya seraya berkata, “Ternyata di Tanah Jawa ada juga ulama yang luas ilmunya”.

Santri-santri Beliau

Beliau memiliki banyak santri, kurang lebih tiga ribu muridnya yang menjadi ulama besar, antara lain :

  1. Syekh Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur), Plered, Kabupaten Purwakarta
  2. Syekh Ahmad Eumed (Mama Cimasuk), Karangpawitan, Kabupaten Garut
  3. Syekh Zinal ‘Alim (Mama Haur Kuning)
  4. Syekh Muhammad ‘Umar Bashri (Mama Fauzan), Sukaresmi, Kabupaten Garut
  5. Syekh Syarifuddin , Cipaku, Darajat, Garut
  6. Syekh ‘Izzuddin (Mama Cibatu), Cisaat, Kabupaten Sukabumi
  7. Syekh Zain Abdusshomad (Mama Gelar), Cibeber, Kabupaten Cianjur
  8. Syekh Muhammad Hasbullah (Mama Babakan Bandung), Sukaraja, Kabupaten Sukabumi
  9. Syekh Fudholi (Mama Gentong), Cisaat, Kabupaten Sukabumi
  10. Syekh Abdusshobur (Mama Gunung Sumping), Palabuhanratu, Kota Palabuhanratu
  11. Syekh Ahmad ‘Inayatullah (Mama Warudoyong), Warudoyong, Kota Sukabumi
  12. Syekh Hulaimi (Mama Darmaga), Bojongpicung, Kabupaten Cianjur
  13. Syekh Abdullah (Mama Jeungjing), Sukaraja, Kabupaten Sukabumi
  14. Syekh Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas), Cilaku, Kabupaten Cianjur
  15. Syekh Ahmad ‘Izzuddin (Mama Kubang), Cibeber, Kabupaten Cianjur
  16. Syekh Sayuthi (Mama Pawenang), Nagrak, Kabupaten Sukabumi
  17. Syekh Ahmad Rosyadi (Mama Cipelang), Cijeruk, Kabupaten Bogor
  18. Syekh Muhammad Syafi’i (Mama Cijerah), Bandung Kulon, Kota Bandung
  19. Syekh Fakhruddin (Mama Sungapan), Cibeureum, Kota Sukabumi
  20. Syekh Ahmad Jajang Jubaidi (Mama Cijambu), Cigombong, Kabupaten Bogor
  21. Syekh Hasan Bashri (Mama Obay Kampungsawah), Jayakerta, Kabupaten Karawang
  22. Syekh Abdullah Nuh (Mama Cimanggu), Kota Bogor
  23. Syekh Sanja (Abuya Kadukaweng), Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang
  24. Syekh Hambali (Mama Gasol Kaler), Cugenang, Kabupaten Cianjur
  25. Syekh Sya’roni (Mama Gasol Kidul), Cugenang, Kabupaten Cianjur
  26. Syekh Ahmad Dimyathi (Mama Kedung), Ciranjang, Kabupaten Cianjur
  27. Syekh Hasan Hariri (Mama Cipriangan), Sukalarang, Kabupaten Sukabumi
  28. Syekh Hasan Musthofa (Mama Cilember), Cisarua, Kabupaten Bogor
  29. Syekh Zarnuji (Mama Pamuruyan), Cibadak, Kabupaten Sukabumi
  30. Syekh ‘Izzuddin (Mama Cijambe Fauzan), Warudoyong, Kota Sukabumi
  31. Syekh Hasan Bolang (Mama Cijambe), Bantargadung, Kota Palabuhanratu
  32. Syekh Sya’roni (Mama Cigadog), Sukaraja, Kabupaten Sukabumi
  33. Syekh Ahmad Basuni (Mama Baros), Karangtengah, Kabupaten Cianjur
  34. Syekh Yasin (Mama Cikadu), Palabuhanratu, Kota Palabuhanratu
  35. Syekh Bandaniji (Mama Sadamaya), Cibeber, Kabupaten Cianjur
  36. Syekh Muhyiddin (Mama Wangon), Ciawi, Kabupaten Bogor
  37. Syekh Badruddin (Mama Cariu), Cugenang, Kabupaten Cianjur.
  38. Dan masih banyak lagi……

Rujukan Penulisan Biografi

  • Qoidatul Muhtaj – Menceritakan sedikitnya riwayat Mama Sepuh Gentur dengan para Masyaikil Kirom dan lainnya waktu menimba ilmu.
  • Ar-Risalatul Qonturiyah Fi Manaqibisy Syaikhil ‘Alimil ‘Allamatil Kamilil Waro’i, Al-Hajji Ahmad Syathibi Al-Qonturi Asy-Syanjuri Al-Jawi
  • Tashilul Hilali Fi Manaqibi Mama Ahmad Syathibi

 

 

Sumber: https://ltnnujabar.or.id