Biografi KH. Abdurrohim Al-Baqir

 
Biografi KH. Abdurrohim Al-Baqir

Riwayat dan Kelahiran

Kiai Abdurrohim Al-Baqir lahir pada tahun 1941 di dusun Nongko Kerep Desa Sampurnan Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik Jawa Timur. Ia putera dari Kiai Baqir bin Hasyim bin Abdurrohim bin Nidhomuddin. Sedangkan Ibunya bernama Nyai Afifah binti Ali binti Ismail. Dari jalur Ayah masih ada keturunan darah Madura, yaitu Kiai Nidhomuddin yang merupakan Guru Syaikhona Kholil Bangkalan.

Ibunya merupakan salah satu keturunan pesantren tertua di Gresik, yaitu pesantren Qomaruddin. Pesantren ini telah melahirkan orang-orang besar dan berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Keluarga Kiai Abdurrohim termasuk salah satu keluarga yang amat disegani oleh masyarakat. Mereka dihormati karena kesopanan serta tingkat keilmuannya yang tinggi. Abdurrohim kecil telah ditanamkan sifat-sifat religius sejak usia dini.

Ayahnya selalu mengingatkan akan pentingnya menjaga akhlak dan berhati-hati dalam bertutur kata. Maka tak heran apabila dia menjadi pribadi yang amat santun tutur katanya dan luas ilmu pengetahuannya. Seperti maqalah ulama’ mengatakan bahwa “Adab nilainya lebih tinggi dari pada ilmu”. Jadi tidak peduli seberapa luas ilmu seseorang, ketika dia tidak mempunyai adab, maka ia tidak akan dihormati oleh masyarakat.

Orang yang berilmu namun tidak mempunyai sopan santun bisa dipastikan termasuk orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Dia pasti tau hadits Nabi yang begitu populer bahwa Nabi diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak kita semua. Seseorang yang mempunyai ilmu namun tidak mengamalkannya maka akan mendapatkan kecaman dari Allah Swt.

Hal ini sesuai firman Allah dalam surat As-Shaff ayat 3 yaitu “kabura maqtan indallahi lima taquuluuna maa la taf’alun”, yang artinya “Amat besar kebencian Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Hal ini juga senada dengan pepatah arab yaitu “Al-Ilmu bila amalin kas syajari bila tsamarin” , ilmu tanpa diamalkan itu bagaikan pohon tidak berbuah. Kebesaran nama Kiai Abdurrohim salah satunya karena ia mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya, terutama yang berkaitan dengan akhlak. Salah satu ikhtiar yang dilakukan oleh Kiai Baqir terhadap keluarganya agar mempunyai semangat belajar yang kuat serta mempunyai sopan santun yang baik dengan menanamkan pendidikan karakter sejak dini.

Didikan langsung oleh Kiai Baqir serta ilmu yang didapatkan oleh Kiai Abdurrohim selama di pesantren salah satu lantaran yang menjadikannya orang besar. Masa muda dihabiskan oleh Kiai Abdurrohim belajar ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren yang lain.

Keluarganya

Selepas dari pesantren, ia mengakhiri masa lajangnya dengan Ni’matus Sholihah atau dikenal dengan Nyai Ni’matus Sholihah.

Beliau yang menemani Kiai Abdurrohim membangun pesantren, dari merintis hingga mempunyai ratusan santri dan alumni yang menjadi tokoh di masyarakat. Bersama dengan Nyai Ni’matus Sholihah, Kiai Abdurrohim dikaruniai 9 anak, yaitu: Nidhomudin, Nur azizah, Muhammad baqir zainul ibad, Inayah, Qurotun ayun, Abdillah nashor, Maulana haji, Rohmatul hajah, Sulton arrobi.

Kepada sembilan anaknya, Kiai Abdurrohim juga menerapkan pola yang sama yang dilakukan oleh Ayahnya terhadap anaknya. Beliau mendidik anak-anaknya dengan pendidikan karakter baik sejak usia dini. Bahkan menurut penuturan salah satu anaknya, ia sangat disegani oleh anakanaknya dan tidak ada yang berani menentang perintahnya. Padahal Kiai Abdurrohim bukan seorang yang pemarah, namun aura yang dimilikinya bisa membuat lawan bicaranya kelu. Santri-santrinya juga tidak ada yang berani bersuara ketika di hadapannya, kecuali diizinkannya bicara.

Bahkan di desanya hanya beberapa gelintir orang yang dapat mengimbangi komunikasi dengannya secara bebas disebabkan aura yang dimilikinya itu.

Masa Pendidikan

Sebagai putra seorang ulama, Kyai Abdurrohim Al-Baqir dalam masalah pendidikan mendapatkan pengawasan yang ketat. Beliau dituntut untuk bisa menyerap ilmu tentang agama (Ilmu Fiqih, Nahwu sorof, dan Ilmu kitab-kitab klasik yang lainnya) sebagai bekal dakwahnya untuk menggantikan sosok ayahnya kelak. Oleh sebab itu, sedari kecil ia sudah biasa digembleng oleh sang ayah dengan ilmu agama dan penanaman karakter yang baik sejak dini. Penanaman karakter yang baik sejak dini bisa berpengaruh besar terhadap karakter anak di masa dewasa.

Namun belajar di rumah saja dengan seorang tokoh sekaliber sekalipun, terkadang masih belum cukup untuk memenuhi dahaga seorang anak yang sedang semangat menuntut ilmu. Oleh sebab itu, setelah belajar agama dikampung halamannya, Kiai Abdurrohim Al-Baqir melanjutkan rihlah ilmiahnya ke berbagai pondok pesantren yang diasuh oleh ulama’- ulama’ yang kharismatik.

Seperti halnya tokoh lain, Ayahnya tidak ingin Abdurrohim Al-Baqir hanya menuntut ilmu pendidikan agama dari ayahnya seorang, melainkan juga menimba ilmu kepada para ulama’-ulama’ tersohor di daerah-daerah lainnya. Budaya menitipkan anak pada pesantren agar bisa belajar agama secara maksimal memang menjadi salah satu solusi bagi orang tua yang peduli terhadap pendidikan anak, khususnya dalam segi moralitas anak.

Pesantren tempat Kiai Abdurrohim menuntut ilmu antaralain, pesantren Ibadur Rahman asuhan Kiai Muhamad Nur Kebon Candi, Pesantren Sidoresmo asuhan KH. Tholhah, pesantren Salafiah asuhan Kiai Hamid Pasuruan, dan pesantren Al-Hidayah asuhan KH. Maksum Ali Lasem. Dari 4 pesantren tersebut, ada 2 pesantren tempat Kiai Abdurrohim menuntut ilmu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupannya di masa depan. Pesantren itu ialah pesantren Salafiah asuhan Kiai Abdul hamid dan Pesantren Al-Hidayah asuhan Kiai Ali Maksum.

Selama di pesantren, kiai Abdurrohim dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak bicara namun sangat rajin belajar dan beribadah. Pribadi Kiai Abdurrohim tersebut sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Saw yaitu: “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir fal yaqul khairan au liyasmut” 30. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Setiap muslim sangat dianjurkan untuk menghindari perkataan-perkataan yang sia-sia, terlebih perkataan itu bisa menyakiti orang lain.

Oleh sebab itu Kyai Abdurrohim amatlah sangat berbicara sekiranya hal itu tidak terlalu diperlukan. Hal ini bukan berarti kita dilarang humble atau bersosialisasi dengan yang lain. Namun kita dituntut untuk berhati-hati menggunakan lidah yang tidak bertulang ini. Kiai Ali Maksum melihat potensi besar terdapat dalam sosok Kiai Abdurrohim muda.

Oleh sebab itu, selepas nyantri di tempatnya ia berpesan kepada Abdurrohim muda “nyarilah santri, berilah ia makan”. Kiai Abdurrohim merasa bahwa amanah yang disampaikan gurunya itu amat berat, oleh sebab itu ia sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan dan menyampaikan kegelisahannya tersebut karena mendapat amanah besar dari Kiai Ali Maksum.

Oleh Kiai Hamid ia dinasehati agar menjalankan amanah tersebut, Kiai Hamid juga menitipkan santrinya kepada Kiai Abdurrohim agar ia bisa membantu Kiai Abdurrohim dalam mengajar santri. Bersama santri yang dititipkan oleh Kiai Hamid yang bernama Amanullah itu, Kiai Abdurrohim mulai membangun pesantren seperti perintah yang disampaikan oleh Kiai Ali Maksum dan menjadi salah satu pesantren rujukan di Gresik. 

Ghoiroh Kiai Abdurrohim dalam berdakwah dan mensyiarkan Islam sudah nampak sejak usia remaja. Salah satu hobinya ialah mengelana ke suatu tempat ke tempat yang lain, berdakwah dari satu tempat ke tempat yang lain. Bahkan dalam suatu pengembaraannya, ia pernah mendirikan TPQ yang tetap eksis hingga saat ini, yaitu TPQ di daerah Sumberejo dan TPQ di Lemah Putih Krian.

Seusai mendirikan telah berjalan, maka ia akan meninggalkannya. TPQ merupakan salah satu tempat anak-anak usia dini untuk belajar ilmu agama serta penanaman karakter yang baik sejak dini.

Jasa KH. Abdurrohim Al-Baqir di Tengah Masyarakat

Kondisi sosial masyarakat pada saat itu (1972) dusun nongko kerep desa sampurnan kecamatan bungah kabupaten gresik sangat membutuhkan pendidikan yang layak untuk anak yatim piatu maupun kaum dhuafa. KH Abdurrohim Al-Baqir sangat terenyuh hatinya melihat kondisi sosial masyarakat pada waktu itu, karena melihat orang-orang disekitarnya masih banyak yang belum mengenal pendidikan yang layak bagi anak yatim piatu maupun kaum dhuafa, dikarenakn untuk mencukupi kebutuhan sehariharinya saja sangat sulit.

Nama Kiai Abdurrohim telah dikenal luas oleh masyarakat Gresik dan sekitarnya. Kemasyhuran namanya tentu bukan kebetulan semata, pasti ada sisi lebih yang dimilikinya hingga namanya dikenal baik di tengah masyarakat. Kiprah Kiai Abdurrohim dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan moralitas masyarakat sekitar patut diapresisasi dan bisa menjadi tauladan bagi generasi selanjutnya. Kiprah tersebut setidaknya terbagi menjadi 3 hal:

1. Pengasuh Pesantren dan Penyantun Anak Yatim Pendidikan yang terdapat di Indonesia terkadang tidak bisa dijangkau oleh semua kalangan masyarakat karena terkendala biaya. Oleh sebab itu, pesantren yang didirikan oleh Kiai Abdurrohim memberikan fasilitas gratis dan bahkan menanggung biaya hidup bagi santri yang yatim piatu.

Sedangkan bagi santri biasa, ia tidak mematok biaya iuran rutin tiap bulan, bahkan sebagian dari mereka yang tidak mampu juga mendapatkan fasilitas yang sama dengan fasilitas yang diberikan kepada anak yatim Selain itu, yang menjadi daya tarik dari pesantren ini ialah membekali sejumlah santrinya dengan beragam ketrampilan bisnis beraneka ternak, ilmu pertukangan, jahit menjahit, pengolahan tempe dan lain-lain.

Hasil dari penjualan produk-produk di atas dijadikan subsidi untuk memenuhi kebutuhan santri. Ia sangat menekankan agar setiap santri mempunyai jiwa mandiri agar tetap bisa belajar, namun tidak mengandalkan kiriman dari orang tua. Kiai Abdurrohim Al-Baqir juga mendidik para santrinya tidaklah setengah-setengah.

Kiai Abdurrohim Al-Baqir mendidik para santrinya dengan kesungguhan dan welas asih (jiwa kasih sayang) yang amat besar, dengan terbukti Kiai Abdurrohim Al-Baqir mendidik para santrinya dengan membekali ilmu para santrinya bukan hanya menjadi tahfidzul Qur’an ataupun membekali ilmu-ilmu kitab klasik dan pendidikan umum.

Tetapi Kiai Abdurrohim Al-Baqir memberi pendidikan para santrinya juga dibekali ilmu berwirausaha dengan telaten agar para santrinya mengenyam segala ilmu untuk bekal setelah menjadi alumni didikannya di APTQ bisa siap dan mampu menjawab tantangan masa depan agar para santrinya mampu bekerja ataupun berwirausaha dibidang apa saja sesuai yang diinginkan para santrinya kelak.

Semua terlihat nampak dan jelas bahwa Kiai Abdurrohim Al-Baqir mendidik para santrinya penuh dengan kesungguhan dan welas asih (jiwa kasih sayang). Selama ia mengasuh pesantren, dana yang dibutuhkan untuk operasional pesantren dan kebutuhan santri didapatkan dengan cara mandiri tanpa meminta bantuan pemerintah.

Oleh sebab itu pesantren APTQ agak lambat dalam hal pembangunan sarana dan prasarana karena terkendalanya biaya yang ada. Namun hal itu tidak menyurutkan perjuangannya untuk mensyiarkan Islam dan juga tidak menyurutkan hati santri-santrinya untuk menimba ilmu. Kegigihan dan welas asih sang Kiai membuat para santri betah menetap di pesantren APTQ.

Bahkan alumni sering datang ke pesantren untuk kembali mengikuti kegiatan pesantren atau menjalankan semua hal yang diperintahkan Kiai Abdurrohim kepada mereka. Biasanya mereka akan menginap beberapa hari di pesantren untuk melepas kerinduan dengan sang Kiai dan untuk mendapatkan siraman hati yang kering kerontang. Umumnya mereka akan menceritakan keluhan atau masalah mereka dalam hal keluarga, ekonomi dan lain sebagainya.

Selain meminta saran atau solusi dari sang Kiai, mereka biasanya juga meminta didoakan agar masalah yang dihadapi segera diberikan jalan keluar oleh Allah. Sebelum berpamitan pulang, biasanya mereka akan memberikan sebagian hartanya untuk kiai. Uang dari mereka iku juga menjadi salah satu sumber pemasukan pesantren APTQ.

Memberdayakan Santri Untuk Masyarakat

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa santri-santri APTQ tidak hanya dibekali dengan pengetahuan agama saja, namun juga diajari ketrampilan bekerja seperti bertani, beternak, ilmu pertukangan,menjahit, mengolah tempe, mengolah kopi obat, dan lain sebagainya. Semua ketrampilan yang diajarkan pada santri tersebut sangat dirasakan manfaatnya bagi mereka, bagi pesantren, dan bahkan bagi masyarakat.

Manfaat yang dirasakan pesantren yang pasti ialah menambah pundi-pundi pemasukan kas pesantren yang dibutuhkan untuk operasional pesantren. Semua produk yang dihasilkan pesantren seperti tempe mentahan, keripik tempe, kopi mahrobi, kopi habbatus sauda, jamu ma’jun, dan lain sebagainya. Bahkan kini usaha pesantren bertambah lagi, yaitu roti kering dan terang bulan.

Roti kering tersebut dijual di pasar-pasar atau kepada agen-agen yang membutuhkan. Sedangkan terang bulannya dijual di sekolah-sekolah SD sekitar area Bungah. Pesantren APTQ ingin menamkan sifat mandiri pada para santrinya, oleh sebab itu mereka dijari beraneka macam ketrampilan seperti yang disebutkan di atas.

Manfaat besar lainnya yang dirasakan oleh pesantren dengan ketrampilan yang diajarkan itu ialah kemandirian pesantren dalam mengembangkan sarana dan prasarana yang ada di pesantren. Ilmu pertukangan yang didapatkan oleh santri dikembalikan manfaatnya terhadap pesantren dengan cara mengerahkan kemampuan dan tenaga mereka untuk membangun bangunan-bangunan yang ada di pesantren.

Menurut penuturan Pak Zein, salah satu santri pertama di APTQ menjelaskan bahwa bangunan yang terdapat di pesantren APTQ tersebut hampir keseluruhan dibangun oleh santri sendiri tanpa bantuan dari tukang bangunan dari luar.

Hal ini dibenarkan oleh Kiai Baqir selaku pengasuh pesantren APTQ saat ini. Ia menamahkan bahwa semua usaha aset pesantren yang berupa sawah-sawah, hewan ternak, serta aset-aset bisnis lainnya juga dijalankan oleh santri secara keseluruhan. Maka tak heran apabila santrinya terampil dalam mengelola dan mengembangkan usaha yang dimiliki pesantren.

Masyarakat sekitar juga merasakan manfaat dari apa yang diajarkan pesantren terhadap santri-santrinya tersebut. Masyarakat kerapkali meminta bantuan santri untuk membangun atau sekedar memperbaiki beberapa kerusakan atap rumah mereka. Para santri juga sering dimintai tolong untuk menebang pohon yang dianggap keramat dan ada penunggunya oleh masyarakat.

Para santri akan dengan senang hati memenuhi panggilan mereka tanpa mengaharapkan upah apapun seperti layaknya pekerja tukang lainnya. Sebab niat awal yang ditanamkan Kyai Abdurrohim kepada mereka ialah niat membantu, bukan mengharapkan imbalan. Para santri tersebut biasanya enggan menerima upah dari masyarakat, kalaupun harus menerima upah, itu hanya sekedar makan dan minum saja.

Jika diminta menebang kayu, biasanya mereka hanya meminta upah beberapa kayu kering untuk dijadikan bahan bakar mereka memasak di pesantren.Rasa solidaritas dan tidak adanya sifat individualisme sudah menjadi budaya yang mengurat akar di pesantren-pesantren Indonesia. Budaya itu dibangun oleh para ulama’-ulama’ pesantren agar para santri mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap masyarakat sekitar.

Di Pesantren APTQ rasa solidaritas itu salah satunya dengan ngeliwet bersama. Setiap santri akan bahu membahu dari awal proses ngeliwet yaitu mencari bahan bakar, menghidupkan api hingga nasinya matang. Setelah nasi matang, mereka akan makan bersama dengan meletakkan nasi di hamparan daun pisang. Budaya ini dirasa sangat efektif membangun keakraban antar santri dan membunuh egositas yang terdapat dalam diri seseorang.

Seorang Tabib Handal

Islam bukan hanya mengajarkan ilmu agama semata, namun islam juga mengajarkan semua ilmu yang terdapat dalam kehidupan. Maka tidak heran apabila kita mengenal ulama’-ulama’ islam jaman dahulu bukan hanya ahli al-qur’an dan tafsir hadits semata, namun mereka juga menguasai ilmu tentang kedokteran, astronomi, dan lain sebagainya.

Dalam dunia kedokteran, nama Ibnu Sina telah dikenal luas bukan hanya oleh ummat islam semata, namun juga telah diakui prestasinya oleh non muslim. Mereka juga telah banyak mengadopsi ilmu kedokteran Ibnu Sina melalui karyanya yang monumental dalam bidang kesehatan. Maka tak heran apabila ulama’-ulama’ kita banyak meniru jejak pendahulunya dengan tidak hanya menguasai ilmu agama, namun punya ketrampilan ilmu-ilmu lainnya.

Kiai Abdurrohim termasuk Kiai yang bukan hanya pandai urusan agama, namun ia juga punya segudang keterampilan urusan dunia. Semua ketrampilan yang dimiliki santri-santrinya tersebut bersumber dari didikan Kiai Abdurrohim. Selain ketrampilan di atas, ada salah satu keterampilan atau keahlian yang dimiliki oleh Kiai Abdurrohim yaitu ilmu di bidang ketabiban. Kiai Abdurrohim dikenal handal mengobati sakit yang diderita oleh masyarakat, baik sakit ringan maupun sakit kronis.

Saking lekatnya Kiai Abdurrohim dengan dunia pertabiban, sebagian masyarakat ada yang menyebutnya sebagai dukun dalam bidang kesehatan. Namun Kiai Abdurrohim tidak berkanan dengan julukan itu sebab julukan itu lekat dengan persepsi negatif. Oleh sebab itu ia lebih senang mendapat julukan tabib atau kiai ahli kesehatan. Dalam mengobati pasiennya, Kiai Abdurrohim bukan hanya sekedar memberikan air yang sudah didoakan olehnya.

Namun beliau juga memberikan resep ramuan herbal yang diraciknya sendiri untuk menjaga kesehatan. Ramuan tersebut ada yang sudah jadi produk seperti kopi kesehatan mahrobi, habbatus sauda, dan jamu ma’jun. Umumnya ia meracik ramuan kesehatannya itu dengan kapulaga dan rempah-rempah lainnya.

Ramuan tersebut sebelumnya sudah didoakan olehnya dan santri-santrinya, sebab ia meyakini bahwa kesembuhan datangnya dari Allah dan ia hanya sebagai perantara saja. Ramuan kesehatan yang tampaknya sederhana itu dirasakan besar manfaatnya oleh masyarakat. Hal itu dibuktikan setelah mereka berobat kepada Kiai Abdurrohim, sebagian besar dari mereka-mereka bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya selama ini. Selain melakukan pengobatan, media ini juga dijadikan sebagai media dakwah oleh kiai Abdurrohim.

Beliau juga menyampaikan nasehatnasehat agama kepada para pasiennya agar selalu mendekatkan diri kepada Allah. Media pengobatan tabib ini juga bisa menjadi salah satu pemasukan untuk pesantren meskipun ia tidak memasang tarif bagi para pasiennya. Biasanya sang pasien akan memberikan uang sesuai kemampuan mereka sebab pasien Kiai Abdurrohim rata-rata terdiri dari kalangan menengah ke bawah.

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber