Biografi KH. Muthohar

 
Biografi KH. Muthohar

Daftar Isi Profil KH. Muthohar

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Mengajar Santri
  4. Tokoh Masyarakat

Kelahiran

KH. Muthohar lahir pada 3 Juni 1938, di Pondok Pesantren Sabilunnajah Penjalin Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Pendidikan

KH. Muthohar memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Rakyat (SR). Setelah sekolah pada tingkat dasar beliau melanjutkan dengan belajar di Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak yang diasuh oleh Mbah Muslich.

Ketika belajar di Pesantren Futuhiyyah Mranggen beliau satu angkatan dengan KH. Abdurrohman Chudlori Tegalrejo Magelang

Setelah belajar di Mranggen, KH. Muthohar melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pesantren Bareng Kudus (sekarang bernama Pesantren Al-Qoumaniyyah) yang diasuh oleh KH. Yasin.

Selepas itu, Kiai Muthohar melanjutkan pendidikannya dengan mengaji tabarukan di beberapa pesantren, diantaranya di Pondok Pesantren Lasem, yang diasuh oleh KH. Ma’shum Lasem dan di Pondok Raudlatut Tholibin yang diasuh oleh KH. Bisri Leteh Rembang

Pengasuh Pesantren

Sekembalinya di rumah, KH. Muthohar tidak langsung mengajar santri, namun masih mengaji kepada KH. Ridhwan, kakaknya sendiri namun dari ibu yang berbeda.

Semangatnya dalam belajar yang tidak pernah padam membawanya ngalong (istilah santri yang setiap harinya berangkat dari rumah ke pesantren untuk mengaji, red) kepada KH. Musyafa’ selaku pendiri Pesantren Al-Musyafa’ Kampir Kendal yang selanjutnya diambil sebagai menantu.

Lama mengaji ilmu agama berbuah pada tekad untuk membuat majelis yang digunakan sebagai sarana mendidik masyarakat.

Dimulai dari yang kecil, KH. Muthohar menelateni kajian fashalatan dan al-Qur’an bagi anak-anak sampai remaja yang dilaksanakan setiap salat Maghrib, dan selepas Isya diisi dengan manaqib dan barzanji. Aktifitas ini baru digantikan oleh ustadz pesantren di awal tahun 2000-an.

Setelah wafat kakanya KH. Ridhwan,  KH. Muthohar melanjutkan kepemimpinan Pondok Pesantren Sabilunnajah Penjalin Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Sabilunnajah merupakan sebuah pesantren yang didirikan oleh KH. Tarno pada sekitar tahun 1925, dan terdaftar di Kementerian Agama pada tahun 1930.

Tokoh Masyarakat

Saat ini, pengajian yang diisi langsung oleh KH. Muthohar adalah kajian fiqih yang dilaksanakan pada Ahad malam, selepas isya. Juga fidakan yang dilaksanakan dua kali dalam selapan, tepatnya Senin Pahing dan Senin Legi. Sementara untuk para ibu dilaksanakan pada tiap Senin, selepas Dhuhur.

Tradisi ibu-ibu dalam mengajikan setiap ada orang meninggal selama 7 hari yang dilaksanakan pada bakda Asar juga atas inisiatifnya. Selain itu, pada awal tahun 2000an, KH. Muthohar juga merintis jamiyah semaan al-Qur’an keliling di rumah warga pada hari Selasa setiap setengah bulan sekali.

Untuk kegiatan yang satu ini terus berkembang, dari semula hanya satu desa, kini diikuti juga oleh beberapa warga desa sekitar. Semaan keliling tersebut digawangi oleh menantunya, Nyai Halimatus Sa’diyyah AH, putri dari Pengasuh Pesantren Al-Qur’aaniyyah, Pegandon, KH. A Zainal Mahmud.

Sampai saat ini, KH. Muthohar menjadi rujukan masyarakat yang meminta doa, petuah atau nasihat dan sebagainya. Ketekunannya dalam belajar layak dijadikan teladan bagi santri. Di sisi lain, ketelatenannya dalam membina masyarakat menempatkan dirinya seolah seperti orang tua bagi warga Desa Penjalin.