Biografi Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid., M.Hum

 
Biografi Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid., M.Hum

Daftar Isi Profil Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid., M.Hum

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Karier
  5. Karya-Karya
  6. Penghargaan

Kelahiran

Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid., M.Hum lahir pada 08 Maret 1948, di Kabupaten Jombang. Beliau adalah istri dari presiden Indonesia keempat dan tokoh pejuang Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid., M.Hum dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Bahkan pendidikan dasar hingga menengah tak jauh dari lingkungan agama. Puncaknya, ia mengikuti pendidikan pesantren mualimat khusus perempuan.

Keluarga

Memasuki usia remaja. Beliau dijodohkan dengan anak kiai besar NU Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Kisah cinta Sinta dengan Abdurrahman Wahid ini menarik. Gus Dur merupakan gurunya ketika belajar di Muallimat. Mereka dijodohkan oleh Kiai Fatah, pamannya Abdurrahman Wahid. Gus Dur segera mengiyakan tawaran itu. Namun, Sinta belum bersedia lantaran trauma dengan salah seorang guru yang pernah meminangnya ketika dia masih berusia 13 tahun.

Celakanya, nama guru itu juga Abdurrahman. Namun, akhirnya Sinta mulai simpati kepada Gus Dur setelah saling berhubungan melalui surat, melalui surat-surat itulah Sinta bisa mengetahui kepribadian Gus Dur yang lembut dan tajam pikirannya.

Setelah sekian lama bertukar surat, Gus Dur pun melamarnya, namun Sinta masih bimbang, tapi lama-lama kelamaan akhirnya dia memutuskan menerima Gus Dur sebagai teman hidupnya. Pada pertengahan 1966, Gus Dur meminangnya, dan keduanya lalu bertunangan.

Dua tahun kemudian, September 1968, Gus Dur akhirnya menikahi Sinta. Tapi pernikahan keduanya bisa dibilang unik. Sebab Gus Dur berada jauh di Kairo, Mesir, sekitar 12.000 kilo meter dari Jombang, Jawa Timur, Indonesia, tempat Sinta Nuriyah berada. Karena Gus Dur tidak bisa datang saat pernikahan, akhirnya dia diwakili kakeknya, Kiai Bisri Syansuri yang berusia 81 tahun dan membuat heboh tamu undangan.

Keduanya sepakat bakal menikah lagi setelah sama-sama lulus kuliah. Dan benar saja, sepulang dari Mesir, yang pertama dilakukan oleh Gus Dur adalah nikah lagi dengan gadis yang dicintainya Sinta Nuriyah.

Pernikahan beliau dikaruniai 4 anak:

  1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa) 
  2. Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny)
  3. Anita Hayatunnufus (Nita)
  4. Inayah Wulandari (Ina)

Pendidikan

Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid., M.Hum memulai pendidikan pertamanya di Sekolah rakyat, Jombang. kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya di Madrasah Muallimat (selama 4 tahun) Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Setelah selesai ia pun melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah (jurusan Qodho’) IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dan akhirnya melanjutkan S2 di Universitas Indonesia program kajian wanita. Gelar Doktor Kehormatan atau Honoris Causa di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Karier

  1. Tenaga pengajar di Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar,Jombang
  2. Tenaga pengajar di Universitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang
  3. Tenaga Pengajar di Universitas Darul Ulum, Rejoso, Jombang
  4. Jurnalis Majalah Keluarga Zaman tahun 1980-1985
  5. Wartawan Majalah Matra
  6. Dewan Penasehat Komnas HAM
  7. Ketua Pelapor Khusus Kebebasan Beragama Komnas Perempuan
  8. Anggota Kongres Wanita Indonesia (KOWANI)
  9. Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia
  10. Pendiri Yayasan Puan Amal Hayati yang bergerak dalam bidang advokasi dan konseling terhadap perempuan dan anak korban kekerasan
  11. Pendiri Yayasan al-Munawaroh (bergerak pada pemberian bantuan dana/ beasiswa kepada anak sekolah, keluarga tidak mampu, para penyandang cacat, dan korban bencana), tahun 1996

Karya-Karya

  1. Perempuan dan Pluralisme, (LkiS: 2019)
  2. Pesantren Tradisi dan Kebudayaan, (LkiS: 2019)
  3. Romantika Kehidupan: Kumpulan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, (Yayasan Puan Amal Hayati: 2009)
  4. Forum Kajian Kitab Kuning (FK3): Kembang Setaman Perkawinan “Analisis Kritis Kitab ‘Uqud Al Lujjayn”, (Penerbit Buku Kompas: 2005)
  5. Forum Kajian Kitab Kuning (FK3): Wajah Baru Relasi Suami-Istri “Telaah Kitab ‘Uqud Al Lujjayn”, (LKiS Yogyakarta: 2001)

Penghargaan

  1. Penghargaan dari The Purnomo Yusgiantoro Center dalam PYC Award 2019 berupa Apreciation: In Recognition of Your Mutual Cooperation with PYC (2019)
  2. Piagam penghargaan dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sebagai Ibu Bangsa (2018)
  3. Masuk daftar 100 orang tokoh paling berpengaruh di Dunia versi Majalah Time, dalam kategori tokoh pejuang perempuan dan kaum minoritas (2018)
  4. Memperoleh penghargaan Internasional, sebagai 11 Perempuan Paling Berpengaruh versi Harian New York Times (2017)
  5. Piagam Penghargaan dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-Pancasila) sebagai Tokoh Penggiat Sosial (2017)
  6. Piagam Penghargaan dari Menteri Sosial RI sebagai Pelopor Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) untuk Penyandang Disabilitas (2015)
  7. Lifetime Achievment Award dari Media Rakyat Merdeka Online sebagai Pejuang Perempuan dan Kaum Minoritas (2013)
  8. Penghargaan dari Kakorlantas Polri sebagai Pelopor Keselamatan Lalu Lintas (2013)
  9. Soka Women's College Comendation of Friendship dari Soka Women's College UniversitasSoka sebagai Pejuang Perempuan (2012)
  10. Bintang Jasa Adipradana dari Negara Republik Indonesia sebagai Pendamping PresidenAbdurrahman Wahid dan Pejuang Kemanusiaan (2011)
 

Pengikut Beliau

  • Betty Berliansari Betty Berliansari
  • Machfud Khan Machfud Khan