Buya Syakur Yasin: Membangun Kepercayaan Setelah Dikhianati

 
Buya Syakur Yasin: Membangun Kepercayaan Setelah Dikhianati

LADUNI.ID, Jakarta - Dalam hiruk-pikuk hubungan sosial seperti sekarang ini, trust (kepercayaan) itu seperti berlian. Ia sungguh sulit untuk ditemui dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, setiap hari kita selalu bertemu dengan segala hal yang tidak menyenangkan, seperti penghianatan antarteman, antarrekan kerja, bahkan juga terjadi antarsanak saudara.

Sesungguhnya, hal yang tidak menyenangkan tersebut tidak layak untuk kita tangisi dengan air mata. Tidak layak pula untuk kita sesali secara berlebihan. Sebab, masih ada cara yang perlu kita lakukan agar kita terhindar dari penghinatan-penghianatan yang dilakukan oleh orang lain untuk kita.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh KH Buya Syakur Yasin MA bahwa kita semua di Indonesia seringkali mengalami penghianatan. Bukan hanya penghianatan dalam hal percintaan, tetapi juga penghianatan dalam hal apapun seperti hubungan sosial, hubungan pekerjaan atau bisnis, hubungan politik, bahkan penghianatan dalam persaudaraan. Sehingga, pada akhirnya hanya akan melahirkan kekecewaan di dalam hati kita.

Semisal, orang yang sudah kita bina dan didik sepanjang waktu sehingga ia menjadi orang yang memiliki jabatan tertentu. Akan tetapi, tiba-tiba orang tersebut malah berbalik menghianati kita. Otomatis kita akan mengalami kekecewaan yang tiada tara, dan itu bahkan bisa terjadi secara berulang-ulang.

Bagaimana cara kita memproteksi agar kita tidak mengalami kekecewaan secara berulang-ulang?

KH Buya Syakur Yasin menyampaikan, agar kita tidak mengalami kekecewaan berulang-ulang maka sebagai orang Islam kita harus kembali kepada petunjuk yang disampaikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an itu sendiri. Misalnya, dalam hal muamalah/bisnis/hutang-piutang, maka harus disertai bukti secara tertulis. Contoh, saudara kita pinjam uang 100 juta. Meskipun itu adalah saudara kita, tetapi kita harus tetap mencatatnya.

Hal ini sebagaimana telah disampaikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 282 yang berbunyi sebagai berikut,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْـًٔاۗ فَاِنْ كَانَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِالْعَدْلِۗ وَاسْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَالِكُمْۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّامْرَاَتٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَۤاءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰىهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰىهُمَا الْاُخْرٰىۗ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَۤاءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْـَٔمُوْٓا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰٓى اَجَلِهٖۗ ذٰلِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَاَدْنٰىٓ اَلَّا تَرْتَابُوْٓا اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَلَّا تَكْتُبُوْهَاۗ وَاَشْهِدُوْٓا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَاۤرَّ كَاتِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ەۗ وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهٗ فُسُوْقٌۢ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ (٢٨٢)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah [179][1] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 282).

Dari ayat inilah dapat diketahui bahwa setiap transaksi atau muamalah yang dilakukan setidaknya perlu ditulis dan harus ada jaminan. Biasanya, jika sudah terkait dengan sanak saudara atau pun orang yang dekat, maka mencatat atau menulis ini malah ditinggalkan. Padahal apa yang diperintahkan di dalam Al-Qur’an sangat lah penting bagi umat Islam itu sendiri.

Jika kita tidak mengikuti apa yang ada di dalam Al-Qur’an yang merupakan petunjuk dari Allah, misalnya dalam hal muamalah tidak dituliskan, maka ketika kita dihianati, kita tidak boleh dendam karena itu juga merupakan kesalahan kita sendiri. Apalagi itu adalah teman kita sendiri, maka tidak perlu kita membencinya, sebab itu merupakan bagian dari kesalahan kita sendiri yang tidak mengikuti petunjuk Al-Qur’an.

Begitupula dalam hal apapun, harus selalu mengikuti petunjuk yang ada di dalam Al-Qur’an itu sendiri, baik itu di dalam hubungan sosial, politik, bisnis dan sebagainya.

Dengan demikian, tulisan ini merupakan sari dari apa yang disampaikan oleh KH Buya Syakur dalam salah satu videonya. Semoga tulisan ini menjadi petunjuk dan bermanfaat bagi umat manusia, khususnya bagi umat Islam dalam menjalankan hubungan antar-manusia (hablumminannas). Aamiin.


[1] Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.