Batasan dan Aturan Berjilbab

 
Batasan dan Aturan Berjilbab

LADUNI.ID, Jakarta – Tulisan ini merupakan tanya jawab dari 101 persoalan perempuan yang tulis oleh Prof. Habib Quraish Shihab. Di dalam tulisan ini akan menjelaskan tentang batasan dan aturan berjilbab dalam pandangan Prof. Habib Quraish Shihab.

***

Saya sudah lama berjilbab. Teman kantor ada yang sedang memutuskan untuk berjilbab juga. Tapi ia mengatakan tidak nyaman jika harus memakai baju yang ketat seperti saya. Saya katakan: “Pakai saja pakaian yang biasa kamu pakai (ketat) asalkan menutup aurat”. Maksud saya yang penting dia pakai jilbab dulu, dan berharap nanti lama-lama ia akan berubah. Apakah saya salah karena melakukan ini? Bagaimana hukumnya orang yang memakai jilbab tapi ketat?

Indri, Marketing, Tanah Kusir, Jakarta
Amanda, Ibu Rumah Tangga, Kuningan

Salah satu ciri ajaran Islam adalah pentahapan , khususnya dalam bidang hukum. Al-Qur’an dan sunah tidak langsung mewajibkan salat lima kali sehari, tetapi pada mulannya hanya dua kali sehari, puasa punbertahap, tidak langsung sebulan lamanya.

Yang haram banyak juga dilarang-Nya secara bertahap. Minuman keras misalnya, pada tahap awal hanya diisyarakatkannya bahwa ia bukan rezeki yang baik (QS. an-Nahl 16:67), lalu dijelaskan bahwa keburukannya lebih besar daripada manfaatnya (QS. al-Baqarah 2:219), lalu baru dilarangnya tetapi bukan setiap saat, hanya menjelang melaksanakan salat wajib (QS. an-Nisa 4:43). Nanti setelah kaum muslimin sadar dan terbiasa, barulah turun pengharaman secara total (QS. al-Maidah 5:90).

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN