Nama-nama Allah Ta’ala Tidak Terbatas pada 99 Nama, Apa Saja?

 
Nama-nama Allah Ta’ala Tidak Terbatas pada 99 Nama, Apa Saja?

LADUNI.ID, Jakarta - Ajaran Allah menyebutkan nama-nama di luar yang sembilan puluh sembilan itu, karena dalam hadis versi lain dari Abu Hurayrah ra.,nama-nama yang dekat dengan nama-nama ini digantikan sebagiannya dan bahkan sebagian yang tidak begitu dekat. Mengenai nama-nama yang dekat artinya, Al-Ahad (Yang Maha Esa) digantikan Al-Wahid (Yang Mahatunggal), Al-Qahir (Yang Maha Penakluk) digantikan Al-Qahhar (Yang Maha Menguasai), Asy-Syakir (Yang Maha Berterimakasih) digantikan AsySyakur (Yang Menerima Syukur). Nama-nama yang tidak begitu dekat maknanya juga diganti, seperti Al-Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk), Al-Kafi (Yang Maha Mencukupi), Ad-Da’im (Yang Maha Kekal), Al-Bashir (Yang Maha Melihat), An-Nur Al-Mubin (Cahaya Terang), Al-Jamil (Yang Mahaindah), Ash-Shadiq (Yang Mahabenar), Al-Muhith (Yang Maha Mengerti), Al-Qarib (Yang Maha Dekat), Al-Qadim (Yang Maha Abadi), Al-Witr (yang Mahaganjil). Al-Fathir (Yang Maha Mencipta), Al-’Allam (Yang Maha Mengetahui), Al-Mulk (Yang Maha Berdaulat)[1], Ar-Rafi’ (Yang Mahatinggi), Dzul-Thawl (Tuhan Yang Maha Tinggi), Dzul-Ma’ary (Tuhan Para Pendaki), Dzul-Fadhl (Tuhan Yang Pemurah), dan AI-Khallaq (Yang Maha Membuat).

Nama-nama yang tercatat dalam Al-Quran, tidak menyamai salah satu dari dua hadis itu, seperti Al-Mawla (Majikan), AnNashir (Yang Maha Pelindung), Al-Ghalib (Yang Maha Pemenang), Al-Qarib (Yang Mahadekat), Ar-Rabb (Tuhan), dan AnNashir (Yang Maha Penolong). Dan ada ungkapan-ungkapan gabungan juga, seperti dalam firman Allah Ta’ala: saksi balas jasa, ganti rugi, penerima tobat, yang mengampuni dosa, yang menggabungkan siang ke dalam malam, yang menghidupkan dari kematian, dan yang mematikan dari kehidupan.

Selain itu, As-Sayyid (Tuan) juga disebutkan sebuah riwayat: Ada seseorang berkata kepada Rasulullah Saw. : Ya Tuan’, dan Rasul Berkata: "Yang Tuan itu adalah Allah Swt.[2] Ini seakan-akan beliau bermaksud melarang memuji di hadapan beliau, namun kalau tidak, beliau berkata : ’Aku adalah tuannya anak-anak Adam, dan aku katakan ini tanpa menyombongkan diri.[3] Ad-Dayyan juga disebut, dan juga Al-Hannan, Al-Mannan, dan yang sepertinya, yang dapat ditemukan jika kita melihat hadis. [182]

Tindakan-tindakan yang berkaitan dengan Allah Ta’‘ala di dalam Al-Quran banyak jumlahnya, karena Dia disebut: Dia menyingkirkan Keburukan (QS. 27:62), Dia memberikan kebenaran (QS. 34:48), Dia akan membedakan keduanya (QS. 32:25), dan Kami titahkan bagi Bani Israil (QS. 17:4). Jadi jika dibolehkan menurunkan nama-nama dari tindakan-tindakan, maka orang dapat menyebutkan sebagai nama-nama-Nya: ‘Penyingkir’, ‘Pemberi Kebenaran’, ‘Pembeda’, dan ‘Yang Menitahkan’. Namun nama-nama dari Al-Quran seperti itu tidak terhitung jumlahnya, seperti yang akan ditunjukkan nanti.

Maksud kami adalah menunjukkan bahwa nama-nama itu sama dengan yang sembilan puluh sembilan itu, yang telah kami sebutkan satu persatu dan jelaskan, tetapi kami mengikuti penggunaan kata-kata seperti lazimnya dalam menerangkan nama-nama ini, karena nama-nama itulah yang ada dalam versi yang termasyhur itu. Selain itu, modifikasi dan uraian yang diriwayatkan dari Abu Hurayrah tidak terdapat dalam dua kitab hadis yang sahih (ash-shahihayn). Namun kitab-kitab sahih itu hanya berisikan nama-nama yang Rasulullah Saw. katakan: ‘Allah Swt. memiliki sembilan puluh sembilan nama, dan barangsiapa membacanya maka dia masuk surga’.[4] Tetapi nama-nama ini tidak ditentukan dan tidak diuraikan dalam hadis-hadis sahih ini.

Beberapa nama yang disepakati para fagih dan ulama adalah: ‘Yang Berkehendak’, “Yang Berbicara’, ‘Yang Ada’, ‘Zat Abadi’, dan ‘Yang Azali’. Inilah hal-hal yang dibolehkan digunakan untuk Allah Swt. Tercatat dalam hadis: ‘Jangan katakan “Ramadhan datang”, karena “Ramadhan” adalah nama Allah Ta’ala. Tetapi katakanlah, “bulan Ramadan datang”.[5] Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ‘Kesusahan apa pun yang menimpa seseorang, hendaknya dia mengatakan: ‘Ya Allah, aku ini hambaMu, dan putra hamba-Mu: gombakku [183] ada di tangan-Mu, penilaan-Mu mengenai aku sudah dilakukan. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu, yang dengan nama-nama itu Engkau menyebut Diri-Mu, atau yang Engkau wahyukan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada siapa pun dari makhluk-Mu, atau yang Engkau layakkan untuk Diri-Mu dalam pengetahuan-Mu mengena: hal-hal gaib, agar Engkau menjadikan Al-Quran ini pembaharu hatiku, cahaya bagi pikiran terdalamku, jalan untuk melalui kesusahan, dan pengurai kesusahanku; dan Allah Swt. akan menghilangkan kesusahannya, dan menggantikannya dengan kebahagiaan.[6] Dan perkataannya ‘yang Engkau layakkan untuk Diri-Mu dalam pengetahuan-Mu mengenai hal-hal gaib’ menunjukkan bahwa nama-nama itu tidak terbatas pada yang disebutkan dalam versi-versi terkenal saja. Namun dalam hal ini Anda mungkin akan mempertanyakan manfaatnya membatasi nama-nama itu menjadi sembilan puluh sembilan nama saja. Maka kami perlu membahas itu.[184]


[1] Dengan memberikan terjemahan yang berbeda megenai hurug-huruf yang sama ketimbang Al-Malik dalam daftar yang digunakan dalamulasan ini, meskipun Al-Hadi dan An-Nur termasuk dalam daftar yang digunakan dalam ulasan ini, sekalipun Al-Ghazali menempatkannya sebagai pengganti atau wakil.

[2] Da. Adab 9.

[3] Maj., Zuhd 37, Tawhid 12.

[4] Maj., Du’a 10.B.

[5] Al-Bayhaqi, As-Sunan Al-Kubra, Shiham 4. 201; lihat Al-Mughni 1.93 catatan 1.

[6] Han. 1. 391.


Sumber: Al-Ghazali. Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna, penj. Ilyas Hasan. Bandung: Penerbit Mizan, 2002.