08 Mar 2021 · 8.001 dibaca · Sejarah
Laduni.ID, Jakarta - Nenek moyang kita sebelum ditemukannya mesin ketik, komputer, dan internet seperti sekarang, demen mendokumentasikan peristiwa, ilmu, dan falsafah hidup mereka dalam bentuk naskah yang kita sebut sebagai manuskrip. Manuskrip-manuskrip ini biasanya ditulis dalam aksara kuno sesuai asal wilayah masing-masing. Ada yang ditulis menggunakan huruf Jawa Hanacaraka, menggunakan aksara Batak, aksara Sunda, dan masih banyak lagi.
Ketika agama Islam mulai memasuki Nusantara, manuskrip juga banyak yang ditulis menggunakan huruf Arab. Yang ditulis juga sama, seputar sejarah, ilmu leluhur, dan falsafah hidup mereka.
Namun sayangnya manuskrip-manuskrip kuno tersebut tak semuanya bisa disimpan oleh pemerintah yang sekarang dan bebas kita akses untuk dipelajari. Ke manakah manuskrip-manuskrip kuno tersebut menghilang?
Sebenarnya tidak hilang. Lebih tepatnya tercecer di banyak negara. Ada yang tercecer di Malaysia, ada yang tercecer di Inggris, dan paling banyak ada di Belanda. Di Belanda sendiri, ada sebuah Universitas yang memiliki perpustakaan c
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+