Mengenal Nyeruit, Tradisi Khas Lampung Sambut Ramadhan

 
Mengenal Nyeruit, Tradisi Khas Lampung Sambut Ramadhan
Sumber Gambar: Foto (ist)

LADUNI.ID, Lampung – Bulan Ramadhan adalah momen yang dinantikan oleh umat muslim di dunia. Tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Umumnya, terdapat tradisi khas yang mudah ditemui di sejumlah daerah di Indonesia menyambut bulan puasa. Nah, di Lampung, dikenal tradisi Nyeruit atau makan bareng dengan lingkungan sekitar dan keluarga. 

Baca Juga: Kearifan Budaya Tudung Lingkup Khas Wanita Jambi

Tradisi ini dikenal lama dan sudah menyatu dengan penduduk Lampung. Nyeruit dimaknai sebagai makan bersama, dan berasal dari kata Seruit atau memakan Seruit. Produk panganan ini merupakan jenis olahan khas Lampung, yaitu masakan ikan yang digoreng atau dibakar dicampur sambal terasi, tempoyak (olahan durian) atau mangga. Jenis ikan adalah besarnya ikan sungai seperti belide, baung, layis dll, ditambah lalapan. Sedangkan minumannya adalah serbat, terbuat dari jus buah mangga kwini. Seruit sendiri, merupakan jenis olahan yang terdiri dari sambal – sebagai bagian utama,  yang di campur dengan Ikan bakar berjenis ikan sungai, di tambah dengan bagian dalam timun, terong bakar/goreng di tambah dengan tempoyak  (durian yang telah di fermentasi). Seluruh bahan  tersebut di aduk dengan rata dan kalis dengan sedikit guyuran kuah pindang ikan Baung/Patin. 

Baca Juga: Ciri Khas Masjid NU dari Sisi Amaliah

Seperti masyarakat di banyak daerah di Indonesia, masyarakat Lampung adalah masyarakat yang gemar berkumpul dan bersilaturahmi, baik antar keluarga maupun antar-tetangga. Mereka berkumpul di acara pernikahan, acara adat, atau acara keagamaan.

Makan bersama atau Nyeruit di lakukan satu hari menjelang puasa menjadi tradisi berkumpul dan makan bersama dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Nyeruit biasanya dilangsungkan di tepi pantai. Tidak hanya Ramadhan saja. Nyeruit biasanya dilakukan saat kedatangan tamu, saat berpesta pernikahan, dan pada acara lainya. Kegiatan nyeruit ini sudah menjadi tradisi turun temurun oleh tetua adat di Lampung.

Baca Juga: Hindari Corona, 4 Suasana Khas Ramadhan Ini Akan Jarang Kita Jumpai

Tradisi Nyeruit juga dapat dimaknai merawat kebersamaan yang harmonis karena dalam makan bersama itu semua orang setara, tidak memandang jabatan ketika sudah melingkar menyantap makan dengan sambel Seruit yang sudah di campur perasan air jeruk nipis semuanya akan melebur dan duduk melingkar sama rata.
(Latif)