Gus Baha: Konflik dalam Perbedaan itu Berkah

 
Gus Baha: Konflik dalam Perbedaan itu Berkah
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID (ist)

Laduni.ID, Jakarta – Perbedaan yang terdapat manusia tidak semata-mata membuatnya menjadi sumber perpecahan. Dengan perbedaan, manusia dapat menjadi makhluk yang saling terikat satu sama lain. Tidak jarang pula perbedaan menimbulkan timbal baik positif diantaranya.

Misalnya dalam masalah ketuhanan, seorang muslim harus yakin jika orang beragama Kristen, Yahudi, dan umat beragama lain juga menyembah Allah. Walaupun dalam penyembahan kepada Allah disimbolisasikan secara berbeda, seperti rumah ibadah cara beribadah, dan sebagainya, harus tetap diyakini. Gus Baha pernah berkata, “Lalu Allah berfirman, Ini biasanya dipakai dalil oleh orang-orang sekuler. Allah akan menolak membuat keseimbangan satu kekuatan dengan kekuatan yang lain.”

Jika tidak begitu maka dikhawatirkan sistem ibadah akan ‘kocar-kacir’, sebagaimana sebuah ayat:

وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ

Artinya: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (QS. Al-Baqarah: 251)

Begitu juga terkait dengan sistem sosial. Konflik, debat, dan pertengkaran yang terjadi dalam perbedaan merupakan berkah dari Allah SWT. Analogi sederhananya begini, jika semua took sepakat memberikan harga yang sama pada satu produk yang sama, maka yang dirugikan adalah konsumen. Namun berbeda jika semua took memberikan harga yang berbeda pada satu produk yang sama, maka akan timbul persaingan, sehingga pemilik toko akan memberika kualitas yang terbaik dengan harga yang sepadan.

“Tapi intinya, sistem sosial yang bervariasi itu baik. Bahkan saya pernah meneliti tentang sunnatullah. Tidak ada bangsa terhormat, kecuali oleh Allah diingatkan,” kata Gus Baha.

Terkadang sering ditemu dalam kehidupan sosial, di mana seorang mulia seperti pejabat, kyai, pengusaha mencari pasangan yang memiliki status sosial berbeda. “Begitulah Allah. Kamu tidak bisa menganggap itu kelemahan. Memang sistem sosial akan diatur sedemikian rupa,” kata Gus Baha.


Editor: Daniel Simatupang