Biografi Imam Ali Khali’ Qasam

 
Biografi Imam Ali Khali’ Qasam
Sumber Gambar: Makam Imam Ali Khali' Qasam (Zanbal, Hadhramaut)

Laduni.ID, Jakarta - Beliau As Sayyid Al Imam As Syeikhul Kabir Al Alamus Syahir, Majma’ul Fadhail Wal Mahasin Wal Anwar Wi Asrar Abdul Hasan Nuruddin Ali bin Muhammad bin Alwy bin Ubaidilah bin Ahmad.

CONTENTS

  1. Lahir
  2. Wafat
  3. Pemakaman Zanbal, Furait dan Akdar di Tarim
  4. Nasab Imam Ali Khali' Qasam
  5. Anak-Anak Beliau
  6. Keistimewaan
  7. Julukan Khali' Qasam

1. Lahir

Imam Ali bin Alwi bin Muhammad yang dikenal dengan Khali' Qasam lahir di Bait Jubair yang merupakan salah satu tempat yang diberkahi oleh Allah. Di sana beliau membeli sebidang tanah seharga dua puluh ribu dinar dan dinamakan Qasam. Nama tersebut merupakan nama suatu daerah kakeknya Ahmad bin Isa di Basrah. Di tanah tersebut dibangun rumah beliau yang dikelilingi dengan tanah pertanian yang subur dan daerah tersebut dinamakan Khali' Qasam serta banyak didiami oleh para penduduk.

2. Wafat

Imam Ali Khali’ Qasam menghadap kehadirat illahi berkisar pada tahun 523-529 H. Dalam riwata buku “Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin” beliau meninggal pada tahun 529 H dimakamkan di pekuburan Zanbal, Tarim.

3. Pemakaman Zanbal, Furait dan Akdar di Tarim.

Pusat pemukiman Kaum Alawiyin di Hadramaut ialah kota Tarim. Di sana terdapat tanah perkuburan Bisyar yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Zanbal, Furait dan Akdar. Di perkuburan Zanbal, al-Faqih Muqaddam dan semua sayyid terkemuka dari Kaum Alawiyin dimakamkan, di Furait terdapat perkuburan para masyaikh, dan Akdar merupakan perkuburan umum. Di pemakaman Zanbal, para Saadah al-Asraf, Ulama Amilin, Auliya' dan Sholihin yang tidak terhitung jumlahnya dikuburkan di sana. Syaikh Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah berkata: "Lebih dari sepuluh ribu auliya' al-akbar, delapan puluh wali quthub dari keluarga alawiyin di makamkan di Zanbal". Seperti diriwayatkan oleh Syaikh Saad bin Ali: "Di pemakaman Zanbal dikuburkan para sahabat Rasulullah saw , mereka wafat ketika menunaikan tugas untuk memerangi ahli riddah. Mereka banyak yang wafat di Tarim dan tidak diketahui kuburnya". Akan tetapi Syaikh Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Dawilah, berkata: "Sesungguhnya letak kubur mereka sebelah Timur dari kubur al-Ustadz al-A'zhom Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam". Berkata Syaikh Muhammad bin Aflah: "Sesungguhnya dari masjid Abdullah bin Yamani sampai akhir pemakaman Zanbal terdapat perkuburan para ulama dan auliya". Menurut ulama kasyaf, Rasulullah dan para sahabatnya sering berziarah ke pemakaman tersebut.

4. Nasab Imam Ali Khali' Qasam

Sayyidina Al-Imam Ali Khali' Qasam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

5. Anak-Anak Beliau

Anak-anak beliau menjadi para ulama, ahli zuhud, para sidiqun, ahli pengetahuan, di antara mereka adalah Imam Afifudin Abdullah, yang biografinya dipaparkan oleh Al Jundi dalam tarikhnya dan Abul Qawaji dalam kitab Talkhisnya, juga ada yang bernama Muhammad yang dikenal dengan Shahibul Mirbat.

6. Keistimewaan

Beliau termasuk salah seorang hamba Allah Swt yang mendapat keistimewaan berbagai rahasianya, mata hati yang bercahaya, yang diperkenankan untuk melihat kesempurnaan hadis Qudsi nya, dan ditampakkan padanya berbagai kekeramatan dan biografi yang sangat mulia dan terkenal.

Beliau mendapat bagian yang banyak dalam bidang Kasyaf, Musyahadah dan Nur Firasat, beliaulah tokoh ulama di zamanya, biografi beliau dipaparkan oleh para imam dan para ahli sejarah dalam buku buku mereka , mereka memaparkan sebuah biografi yang sangat agung, di antara keistimewaan beliau adalah seperti yang diungkapkan oleh penyusun qosidah ini:

“Rasul Saw menjawab salam beliau dengan, Wa ‘alaikas salam yaa syeikh, inilah puncak kebanggaan”

Hal ini di saat beliau dalam keadaan shalat ataupun di luarnya, baik di kota Tarim atau di luarnya jika beliau mengucapkan: “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh (salam sejahtera atasmu wahai nabi serta rahmat dan keberkahan dari Allah).” Beliau terus mengulanginya hingga mendengar jawaban langsung dari Nabi Muhammad Saw: “Wa’alaikas salam yaa Syeikh.” Hal ini disebutkan oleh Al Imam Al Junaidi, As Syaraji, Ibnu Hassan dan ulama lainya seperti Al Allamah Syeikh Al Khatib dalam bukunya Al Jauharus Syafaf, cerita ini di bagikan pertama buku ini. Hal ini juga diungkapkan oleh maha guru kami Sayyidina Ali bin Abu Bakar bin Abdurrahman Assegaf dalam qasidah beliau:

“Kepada putranya yang bernama Ali
Beliau mendapat kebanggaan baru dari Nabi Saw
yang mana saat member salam kepadanya langsung
Beliau mendengar jawaban dari Nabi Saw kapanpun sekehendaknya
Jawaban salam yang sempurna, dengan demikian lengkaplah
keistimewaanya dan semakin bertambah kebesaranya
Ini beliau alami dalam keadaan nyata kapanpun saja
Saat beliau mengulangi salamnya Nabi Saw pun menjawabinya.”

Maksud ungkapan Syeikh Ali bin Abu Bakar dalam baitnya bahwa Imam Ali bin Alwy mendapat kebanggaan baru dari Nabi Saw adalah disamping beliau merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad Saw hal ini adalah kebanggaan secara umum, kemudian beliau mendapat kebanggaan yang baru dengan mendengar langsung jawaban salam dari Nabi Saw setiap saatnya, hal ini sama juga dengan yang diungkapkan oleh Syeikh Ali bin Abu Bakar dalam qosidah lainya:

“Tanyalah tentang Ali anaknya imam besar yang memiliki
Keistimewaan dari sebaik baik rasul yang terdekat dengan Tuhan
Yaitu jawaban salam dari nabi terbaik saat beliau mengucapkan salam
Dengan jawaban salam yang sempurna dan penuh keagungan.”

Keistimewaan ini merupakan tanda kedudukan yang sangat tinggi, jarang sekali yang mendapat keistimewaan ini kecuali segelintir kalangan Waliyullah, tidak bisa mencapainya kecuali orang yang telah mencapai kedekatan yang sangat tinggi di sisi Allah Swt dan benar benar kokoh di dalamnya, selain berbagai budi luhur dan keagungan yang terkumpul pada beliau, maka sungguh menakjubkan puncak kebanggaan yang dicapai oleh beliau.

Syeikh Abdul Wahab As Sya’rawi berkata: “Seseorang tidak dapat mencapai kedudukan berhubungan langsung dengan Rasulullah Saw dan mendengar suara jawaban salam dari beliau Saw secara langsung kecuali orang yang telah menempuh 244.999 maqam (kedudukan)para wali.”

Syeikh Abdul Abbas Al Mursi pernah pernah bertanya kepada murid muridnya : “Adakah di antara kalian yang saat member salam kepada Rasulullah Saw dalam shalatnya ia mendengar jawaban langsung dengan telinganya dari beliau Saw ?” Mereka menjawab : “Tidak ada,” beliau berkata : “Kalau begitu tangisilah hati kalian yang terhalang dari Allah dan Rasul-Nya.

Adapun Imam Ali ini telah mendengar jawaban langsung atas salamnya dari Rasulullah Saw bukan hanya dalam shalat tetapi juga di luar shalat, beliau dapat mendengar ucapan Nabi Saw dengan sebutan : “Wahai Syeikh” dalam hal ini beliau mendapat seruan dari sumber wahyu dan kenabian di samping kemuliaan lain yaitu gelar Syeikh secara langsung dari Nabi Muhammad Saw.”

Salah seorang ulama besar pernah bermimpi melihat Nabi Saw seraya memanggilnya : “Wahai Syeikh!” Ia sangat bangga akan gelar ini”

Suatu kali ada orang yang telah meninggal dunia hendak dikubur di sebelah Sayyid Ali bin Alwy ini lalu terdengarlah suara yang mengatakan : “Apakah kamu takut sedangkan kamu berdampingan dengan Sayyid Ali bin Alwy Khali’Qasam?” Beliau memiliki kedudukan yang tinggi dalam hal Mukasyafah dan Musyahadah (melihat hakikat segala sesuatu). Di antara sifat terpuji beliau adalah sosok yang luhur budi pekerti, dermawan, banyak berinfak dan rendah hati.

7. Julukan Khali’ Qasam

Beliau diberi julukan sebagai Khali’ Qasam karena beliau membeli sebidang tanah dengan harga dua puluh ribu dinar dan memberinya nama Qasam mirip dengan nama tanah mereka di Basrah, di sana beliau menaminya dengan pepohonan kurma dan membangun sebuah rumah untuk beliau tinggali di musim panas yang merupakan musim panen kurma, kemudian beberapa orang ikut membangun rumah rumah di sebelah rumahnya hingga berubah menjadi sebuah desa yaitu desa yang sekarang dikenal dengan nama beliau dan mendapat sifat yang sempurna.

Sumber : Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin (Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher)

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya