31 Dec 2021 · 2.473 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik NS, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan.
“Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat,” katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A. W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan.
Katanya, “Aku baru saja istirahat dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah baik.” Tetapi saya penasaran, Mbak Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak.
“Bapak meninggal, Mbak Yenni di dalam,” suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi muram, murung. Saya segera SMS Ibu Shinta, istri tercinta Gus Dur.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+