Biografi KH. Asrori Ahmad

 
Biografi KH. Asrori Ahmad

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier dan Karya Beliau
4.1       Karier Beliau
4.2       Karya Beliau
5          Referensi

1  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1   Lahir
  
KH. Asrori Ahmad lahir di Wonosari,  Magelang  pada 2 Ramadhan 1343 (1923). Beliau adalah putra sulung dari pasangan H Ahmad dan Nyai Aminah. 

1.2   Wafat
  
Beliau wafat pada Senin Pahing 23 Shafar 1415 (1 Agustus 1994)

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

 2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
   Asrori kecil mengaji Alquran dan tata cara ibadah harian kepada sang ayah. Semasa kanak-kanak ia sering dibonceng sang ayah dengan sepeda onthel: bersilaturahmi ke sanak famili, kerabat, dan sowan ke sejumlah kiai. Semasa usia 11 tahun, setamat kelas lima Sekolah Rakyat (SR; kini SD), ia bertekad belajar ilmu agama kepada ahlinya. Maka, sang ayah pun segera mengirimnya ke pondok pesantren.

   Pertama kali remaja Asrori nyantri adalah di Pesantren Salam, Salamkanci, Bandongan (Magelang). Di pesantren asuhan Kiai Raden Asnawi ini ia nyantri selama tiga tahun (1932-1935). Di pesantren ini pula pemuda Asrori dikhitan. Selepas dari Pesantren Salam, Asrori muda melanjutkan ke Pesantren Tremas (Pacitan) di bawah asuhan KH. Hamid Dimyati. Dua tahun lamanya ia menimba ilmu di Tremas (1936-1937).

  Selanjutnya, pemuda Asrori melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke Pesantren Al-Hidayat Lasem (Rembang), di bawah asuhan KH. Maksum. Lima tahun lamanya (1937-1942) ia bermukim di Pesantren Al-Hidayat Lasem. Tujuh tahun berselang, Kiai Asrori muda pun kembali nyantri di Lasem (1949-1953). Setelah nyantri di Lasem yang pertama, Asrori beberapa bulan lamanya sempat berguru kepada Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng (1942), KH. Dalhar di Watucongol (1943), dan Kiai Asy'ari di Damesan (1944-1947).

Semasa nyantri yang kedua kali di Lasem, Kiai Asrori muda acap kali bersilaturahmi ke beberapa ulama sepuh. Dua di antara ulama tersebut adalah KH. Bisri Sansuri (Denanyar Jombang) dan KH. Bisri Mustofa (Rembang). KH. Bisri Sansuri bahkan memberinya ijazah DOA, baik untuk diamalkan sendiri maupun diijazahkan kepada orang lain. Adapun dari KH. Bisri Mustofa, Kiai Asrori mendapat arahan sekaligus suntikan semangat untuk terus menulis.

  2.2  Guru-guru Beliau
  
  Guru-guru beliau sewaktu belajar menuntut ilmu adalah: 

  1. KH. Ahmad
  2. KH. Raden Asnawi
  3. KH. Hamid Dimyati
  4. KH. Maksum
  5. Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari di Tebuireng 
  6. KH. Dalhar di Watucongol
  7. Kiai Asy'ari di Damesan
  8. KH. Bisri Sansuri
  9. KH. Bisri Mustofa

    2.3  Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
   
Pada tahun 1953, KH. Asrori Ahmad menyudahi masa santri di Lasem. Beliau kembali ke desa tempatnya dilahirkan. Tekadnya ialah mendirikan pondok pesantren di sana sebagai medium penyebaran ilmu-ilmu agama.

    Keinginan itu sempat dikonsultasikannya dengan para guru, semisal Kiai Asy'ari Demesan, KH Ma'shum, KH Baidlowi Lasem, serta KH Bisri Mustofa. Mereka semua mendukung rencananya itu. Maka, berdirilah Pondok Pesantren Roudlotut Thullab di Dusun Wonosari, Desa Prajegsari, Kecamatan Tempuran, Magelang. Daerah Magelang memiliki reputasi yang baik bagi kaum Muslimin Jawa. Sebab, pada masa dahulu di sanalah salah satu basis perjuangan Pangeran Diponegoro saat melawan Belanda. Para kiai lokal juga setia dalam jalan jihad yang sama dengan sang pahlawan nasional.

    Maka, kiprah Kiai Asrori dengan Pesantren Roudlotut Thullab kian membesarkan nama baik Magelang. Dirinya berkhidmat di jalan dakwah dan pendidikan, yakni dengan menum buhkan, membimbing, dan membina umat. Syiar Islam pun kian terbangun di tengah masyarakat.

    Pendirian Roudlotut Thullab yang diasuh Kiai Asrori itu telah mengalami pasang surut. Hal itu tidak terlepas dari beberapa faktor pendukungnya. Pada 1976, sang pendiri mencoba menerapkan sistem madrasi (sekolah) dengan harapan pola pengajaran di sana akan lebih sistematis. Ternyata, tanggapan yang baik dan bahkan antusias datang dari masyarakat sekitar. Mereka merasakan kemanfaatan yang besar dari rencana tersebut.

    Bersamaan dengan proses dimulainya perluasan dan pembangunan gedung, pada 1987 Kiai Asrori kemudian memanggil salah seorang putranya, Ahmad Said. Anaknya itu telah menamatkan pendidikan di Pesantren Roudlatul Ulum, asuhan KH Zamrodji, Kencong, Pare, Kediri.

    Sejak kepulangan sang putra pada 1988, Pesantren Roudlotut Thullab semakin dinamis dan berbenah. Dalam hal ini, Ahmad Said dibantu seorang santri senior yang bernama Abdurrahman Masyhuri. Lambat laun, pesantren tersebut menjadi lebih tertata sedemikian rupa, baik dalam sistem pengajaran maupun kitab-kitab yang disajikan.

3  Penerus Beliau

 3.1  Anak-anak Beliau
   
    Anak-anak Beliau yang menjadi penerus beliau adalah:
    1. KH. Ahmad Said Asrori
    2. KH. Ma’ruf Asrori
    3. KH. Labib Asrori

3.2  Murid-murid Beliau
   

Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Roudlotut Thullab

4  Karier dan Karya Beliau

4.1  Karier Beliau

Beliau adalah pengasuh pesantren Roudlotut Thullab

 4.2  Karya Beliau
   
Selain mengelola pesantren, Kiai Asrori juga memantapkan dakwah bil kitabah atau penyebar an syiar Islam melalui tulisan. Ia aktif menulis dan juga menerjemahkan berbagai kitab kuning ke dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab-Pegon. Karya-karyanya tetap bisa dijumpai bahkan hingga kini. Kitabnya yang berjudul Nurudduja fi Tarjamati Safinatun Najah, misalnya, telah ratusan kali dicetak ulang. Karya ini pun banyak dikaji ataupun dijadikan referensi.

    Jumlah kitab-kitab terjemahan yang ditulis Kiai Asrori mencapai ratusan judul dan meliputi berbagai disiplin ilmu. Di antara karya-karyanya yang masyhur adalah Tashil al-Rafiq fi Tarjamati Sullam al-Taufiq, Tarjamah Riyadl al- Shalihin, Tarjamah Irsyad al-Ibad, serta Tarjamah Risalah al-Muawanah. Semua itu meliputi berbagai disiplin, seperti fikih, hadis, akhlak, tauhid, tasawuf, dan sebagainya.

5  Referensi

https://www.suaramerdeka.com/jawa-tengah/pr-04122790/kiai-asrori-tempuran-penulis-kitab-pegon
 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya