Thaharah (Bersuci)

 

Batasan Umur Anak, Membatalkan Wudhu ketika Disentuh

Laduni.ID, Jakarta Dalam mazhab Syafi’i merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan wudhu.

Cara Menyucikan Pakaian Najis Menggunakan Mesin Cuci

Laduni.ID, Jakarta Ketentuan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tentang air yang terkena najis adalah: jika volume air sudah sampai dua qullah (216 liter atau kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 60 cm) .

Hukum Bersentuhan dengan Pasangan Suami Istri, Membatalkan Wudhu?

Laduni.ID, Jakarta Pendapat yang populer di kalangan umat Islam Indonesia adalah pendapat yang menganggap bahwa menyentuh istri membatalkan wudhu jika tanpa penutup atau aling-aling (bi duni ha`il), kecuali rambut, gigi, dan kuku

Penting, Ini Manfaat Melanggengkan Wudhu

Laduni.ID, Jakarta Melanggengkan wudlu sungguh sangat banyak manfaatnya. Apa saja manfaat tersebut?

Apakah Menyentuh Istri dapat Membatalkan Wudhu? Inilah Jawabannya

Laduni.ID, Jakarta Di dalam kitab Risalatul Jami’ah, dibahas mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu (نواقض الوضوء). Hal-hal yang membatalkan wudhu ada 4 perkara sebagai berikut.

Tata Cara Tayamum dan Doanya

Laduni.ID, Jakarta Tayamum merupakan salah satu cara untuk menghilangkan hadast dan sebagai pengganti dari wudhu. Karena itu, sebagai seorang muslim, kita wajib tahu tata cara tayamum yang benar.

Hukum Mendaur Ulang Air Mutanajjis

Laduni.ID, Jakarta Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan umat manusia. Sedangkan pasokan sumber air bersih yang layak dikonsumsi seringkali kurang mencukupi kebutuhan, terutama pada musim kering.

Hasil Proses Pengolahan Air Bersih

Laduni.ID, Jakarta Dinilai ma’ al-mutlaq apabila air bersih hasil proses pengolahan tetapi mempunyai kelainan baik rasa, bau ataupun warna ?.

Pendapat Tentang Cara Menghilangkan Najis dan Hadas

Laduni.ID, Jakarta Muktamar memilih pendapat Imam Nawawi, sebagaimana putusan Muktamar pertama nomor 2, yaitu pendapat yang lebih menang dalam madzhab.

Pakaian yang Terkena Darah Nyamuk

Laduni.ID, Jakarta Dalam hal ini para ulama berselisih pendapat, menurut Imam Mutawalli dimaafkan, tetapi menurut Imam lainnya tidak dimaafkan.