Teheran Menolak Klaim Amerika Serikat Terlibat dalam Serangan Kapal Tanker

Teheran Menolak Klaim Amerika Serikat Terlibat dalam Serangan Kapal Tanker

LADUNI. ID, INTERNASIONAL -Berdasarkan foto-foto baru menunjukkan speedboat—diklaim AS milik Iran—mendekati kapal tanker milik Jepang; Kokuka Courageous dari sisi kanan dan mengeluarkan sebuah perangkat yang menurut Pentagon adalah sebuah bahan peledak.

Menurut Washington, citra ini membuktikan bahwa Teheran berada di balik serangan itu.

"Iran bertanggung jawab atas serangan itu berdasarkan bukti video dan sumber daya serta kecakapan yang diperlukan untuk dengan cepat menghapus limpet mine yang gagal meledak," kata militer AS dalam sebuah pernyataan, yang dikutip Reuters, Selasa (18/6/2019)


Selanjutnya, diungkapkan bahwa gambar-gambar lain menunjukkan sebuah lubang, yang diklaim dampak ledakan di lambung kapal kapal tanker oleh bahan peledak yang lain, dan bahkan ada bekas tangan seseorang yang mengeluarkan perangkat yang gagal meledak. 

Serangan terhadap kapal tanker minyak itu terjadi pada 13 Juni. Serangan itu memicu ledakan dan kebakaran.

AS dengan cepat menyalahkan Iran atas insiden tersebut, di mana Presiden Donald Trump mengatakan bahwa bukti yang diperoleh oleh AS memiliki catatan atas keterlibatan Iran. Namun, Teheran menolak klaim tersebut, dan menunjukkan insiden itu kemungkinan merupakan operasi "bendera palsu" yang dilakukan AS.


Insiden 13 Juni itu terjadi sebulan setelah empat tanker komersial lainnya rusak karena serangan misterius. Washington juga menyalahkan Teheran atas hal itu, dan Iran dengan keras membantah semua tuduhan tersebut.

AS telah berulang kali menyebut ada ancaman yang meningkat dari Teheran sebagai dalih untuk menumpuk pasukannya di kawasan Timur Tengah. Washington saat ini sudah mengerahkan pesawat pengebom strategis B-52, kelompok tempur kapal induk, baterai sistem rudal Patriot, dan 1.500 tentara di dekat Iran. 

Beberapa jam setelah Pentagon merilis rekaman gambar terbaru itu, Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengumumkan bahwa 1.000 tentara tambahan sedang dikerahkan ke Timur Tengah. Menurutnya, informasi intelijen yang kredibel membuktikan perilaku bermusuhan dari Iran.