DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Menurut Syaikh Khatib As-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj, bahwa memang dahulu para nabi telah melakukan haji ke Baitullah Al-Haram sebelum Nabi Muhammad SAW diutus.
Dr. KH. Moch. Ujang Saefullah, Drs.,MM.Pd. lahir di Subang pada tanggal 6 April 1964, beliau anak kedua dari pasangan Bapak H. Sukiman dan Ibu Angrum. Beliau dibesarkan dari keluarga yang berlatar pendidik atau guru.
Pondok Pesantren Riyadhul Jannah didirikan pada tahun 1996, yang mana merupakan perwujudan dari cita-cita DR. KH. Moch. Ujang Saefullah,Drs.,M.M.Pd.
Al-Imam Abu Al-'Abbas Al-Qurtubi dalam Syarah Shahih Muslim berkata, "Bisa saja sebagian orang itu diampuni dosa besarnya hanya dengan berbuat amal sholeh, dengan ukuran sebesar apa ikhlas dan adabnya ketika ibadah, karena Allah selalu memberikan keutamaannya bagi orang yang dikehendaki."
KH. Uci Turtusi adalah tokoh ulama besar yang sangat dihormati dan disegani oleh semua kalangan masyarakat, beliau sangat berjasa besar karena telah mengharumkan bangsa Indonesia terutama Kabupaten Tangerang Banten.
Di lain kesempatan, konon KH. Romli pernah di tahan oleh penjajah, namun anehnya setiap shalat jamaah di Pondok Njoso akan dimulai, beliau selalu hadir dan mengimami shalat, namun kemudian kembali lagi. Hal inilah yang pada akhirnya menggemparkan para penjajah saat itu.
Biografi KH. Noerhasan Nawawie, Kyai Sufi Tanpa Ambisi
Di antara keistimewaan Madrasah An-Nahdhoh ini adalah meluluskan lebih awal murid-muridnya yang unggul untuk membantu mengajar di situ. Di antara sekian banyak siswanya, terpilihlah Al-Habib Abdul Qodir untuk diluluskan dan diizinkan mengajar.
Dedikasinya sebagai pengajar hukum tata negara membuat dirinya diberikan gelar kehormatan oleh Presiden berupa Satya Lencana pada tahun 2004.
Sedekah memang bisa lebih utama dari ibadah haji. Ada kisah menarik yang menggambarkan kebenaran pernyataan tersebut. Peristiwa ini dialami oleh seorang ulama besar di masa tabi'in. Adapun sosok yang terkait dengan kisah ini, tidak lain adalah Abdullah Ibnu Al-Mubarak.