Mengerjakan Shalat Sunat Dengan Berkewajiban Mengqadha Sholat Fardhu

 
Mengerjakan Shalat Sunat Dengan Berkewajiban Mengqadha Sholat Fardhu

Mengerjakan Shalat Sunat, Padahal Masih Berkewajiban Mengqadha Shalat Wajib

Pertanyaan :

Apakah orang berkewajiban qadha shalat fardhu, boleh mengerjakan shalat sunat?.

Jawab :

Kalau meninggalkan shalat fardhu itu karena ada uzur (halangan), maka sah dan tidak haram mengerjakan salat sunat, tetapi kalau meninggalkan itu tidak karena uzur maka haramlah mengerjakan shalat sunat, tetapi sahlah shalatnya, menurut pendapat Imam Ibn Hajar, tetapi menurut Imam Zarkasyi tidak sah.

Keterangan, dari kitab:

  1. I’anatuth Thalibin [1]

وَيُبَادِرُ مَنْ مَرَّ بِفَائِتٍ وُجُوْبًا إِنْ فَاتَتْ بِلاَ عُذْرٍ فَيَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ فَوْرًا، قَالَ شَيْخُنَا ابْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ اللهُ وَالَّذِيْ يَظْهَرُ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ صَرْفُ جَمِيْعِ زَمَنِهِ لِلْقَضَاءِ مَا عَدَا مَا يَحْتَاجُ لِصَرْفِهِ فِيْمَا لاَ بُدَّ وَإِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّطَوُّعُ أَي مَعَ صِحَّتِهِ خِلاَفًا لِلزَّرْكَشِيّ.

Orang yang ketinggalan melaksanakan shalat wajib tanpa uzur, maka ia harus segera mengqadhanya. Ibn Hajar berpendapat, ia wajib memanfaatkan semua waktunya untuk melaksanakan qadha kecuali untuk melaksanakan sesuatu yang memang merupakan keharusan. Dalam hal ini, ia haram melakukan shalat sunah, walaupun hukumnya sah, berbeda dengan pendapat Imam Zarkasyi.

[1] Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in, (Beirut: Dar al-Fikr, 1418 H/1997 M), Jilid I, h. 31.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 213 KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-12 Di Malang Pada Tanggal 12 Rabiul Tsani 1356 H. / 25 Maret 1937 M.