Fiqh Qurban #6: Qurban untuk Orang Meninggal Tidak Sah, Benarkah?

 
Fiqh Qurban #6: Qurban untuk Orang Meninggal Tidak Sah, Benarkah?

LADUNI.IDI QURBAN- Dalam masyarakat sebagian orang melakukan qurban untuk orang yang telah meninggal. Persoalan semacam ini juga kerap terjadi dalam kehidupansehari-hari. Menanggapi hal tersebut Imam Nawawi dalam membahas prersalan ini dalam kitab beliau bernama “Minhaj ath-Thalibin” dengan tegas menyatakan tidak sah kurban untuk orang yang telah meniggal dunia kecuali semasa hidupnya pernah berwasiat dengan ungkapan beliau :“tidak sah berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia apabila dia tidak berwasiat untuk dikurbani” (Imam Nawawi, Minhaj ath-Thalibin, Bairut-Dar al-Fikrh. 321).

Syekh Khatib Syarbini juga sependapat dengan Imam Nawawi yang dinukilkan dalam kitab “ Mughni Muhtaj” : “Tidak sah berkorban atas nama mayit yang tidak mewasiatkannya, karena firman Allah swt (artinya) :”Dan sesungguhnya bagi manusia hanyalah apa yang dia usahakan”. Jadi jika dia mewasiatkannya maka boleh sampai ungkapan Dikatakan : sah berkorban atas nama mayit walaupun dia tidak mewasiatkannya, karena berkurban merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat”. (Mughni Muhtaj:4:292-293)

Namun ada argumen lain yang menyebutkan boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia sebagaimana dikemukakan oleh Abu al-Hasan al-Abbadi. Alasan beliau bahwa berkurban termasuk sedekah, sedangkan bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia adalah sah dan bisa memberikan kebaikan kepadanya, serta pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana yang telah disepakati oleh mayoritas para ulama.

Argumentasi ini disebutkan dalam kitab  al-Majmuk Syarah Muhazzab’Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama” (Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab; 8: 406,).

Semenatar itu dalam persfektif mazhab Imam Syafi’I, pendapat yang kuat (sahih) adalah  yang pertama yakni tidak boleh dan tidak sah berqurban terhadap orang yang telah meningal tanpa wasiat. Argument ini juga dianut mayoritas ulama dari kalangan madzhab Syafi’i. Kendati pandangan yang kedua tidak menjadi pijakan mayoritas ulama madzhab syafi’i, namun pandangan kedua didukung oleh madzhab Hanbali Hanafi, dan Maliki,.

Hal ini sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah yang  berbunyi: “Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk dikurbani kemudian ahli waris atau orang lain mengurbani orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri maka madzhab hanafii, maliki, dan hanbali memperbolehkannya. Hanya saja menurut madzhab maliki boleh tetapi makruh. Alasan mereka adalah karena kematian tidak bisa menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji” (Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah: 5: 106-107).                                    

Salah  satu solusi terhadap problema semacam  ini dengan metode seperti yang direalisasikan oleh baginda Rasulullah SAW sendiri dengan mengirim pahala kurban saja terhadap orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat, bahkan kepada siapa saja boleh dikirim pahalanya baik orang tua, kerabat, teman serta terhadap seluruh kaum muslimin lainnya.. Hal ini telah dipraktekkan  oleh Rasulullah SAW saat menyembelih Qurban beliau berdoa: "Bismillah. Allahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad wa min ummati Muhammad". (Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad)". (HR Muslim).

***Helmi Abu Bakar El-langkawi, dewan Guru Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, Aceh