Teguran Sayyidina Umar pada Muadzin Karena Suara Kerasnya

 
Teguran Sayyidina Umar pada Muadzin Karena Suara Kerasnya

Laduni.ID, Jakarta - Dikisahkan Sayyidina Umar bin al Khatthab Ra, Khalifah kedua pasca wafatnya Rasulullah Saw yang sangat terkenal ketegasannya pun pernah menegur muazin semasanya: Abu Mahdzurah Samurah bin Mi'yar Ra, yang azan dengan memaksakan suara sekeras-kerasnya, seiring firman Allah Swt:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْواتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (لقمان: ١٩)
"Dan biasalah dalam berjalanmu (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat dan kurangilah volume suaramu (tidak memaksakan diri untuk terlalu keras, namun sesuai kebutuhannya). Sungguh suara yang paling diingkari (paling jelek) adalah suara keledai (yang terlalu keras)." (QS. Luqman: 19)

Penuh ketegasan Sayyidina Umar Ra menegur Sang Muazin:

لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَنْشَقَّ مُرَيْطَاؤُكَ!
"Aku khawatir perut bagian pusar hingga (tempat tumbuh) rambut kemaluanmu bedah!"

Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah kekhawatiran Sayyidina Umar RA ini berkaitan dengan sakit atau bahaya bagi muazin ketika memaksakan suaranya secara sangat keras? Bukan terkait dengan bahaya yang menimpa orang lain?” Memang benar sekilas demikian. Tetapi, pesan utama dari kisah ini adalah hendaknya bahaya harus dihindarkan baik bagi diri sendiri maupun orang lain, selaras dengan semangat sabda Rasulullah SAW

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ. حَسَنٌ

Artinya, “Tidak boleh menyakiti orang lain dan tidak boleh membalas menyakitinya,” HR Ahmad dan Ibn Majah. Hasan. (Lihat Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’us Shaghir, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1415 H/1994 M], juz VI, halaman 566).

Berkaitan dengan kadar volume azan. Sebenarnya dalam fiqih Islam, pokok kesunnahan azan (ashlus sunnah) untuk jamaah shalat sudah terpenuhi dengan mengeraskan suara azan hingga terdengar lebih dari satu orang jamaah yang akan mengikuti shalat. Berkaitan dengan hal ini pakar fiqih Syafi’i asal Malabar India Selatan, Syekh Zainuddin Al-Malibari (w. 987 H/1579) menjelaskan:

يُسَنُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْأَذَانِ لِمُنْفَرِدٍ فَوْقَ مَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ ولِمَنْ يُؤَذِّنُ لِجَمَاعَةٍ فَوْقَ مَا يُسْمِعُ وَاحِدًا مِنْهُمْ...

Artinya, “Disunnahkan mengeraskan suara azan bagi orang yang shalat sendirian di atas volume suara yang dapat memperdengarkan dirinya sendiri; dan bagi orang yang azan untuk jamaah di atas volume yang dapat memperdengarkan satu (1) orang dari mereka” (Lihat Zainuddin bin Abdil Aziz Al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 238).

Kemudian dalam penjelasannya diterangkan secara lugas, bahwa orang yang azan untuk jamaah disunnahkan memperdengarkan azannya kepada lebih dari satu orang calon jamaah. Sementara memperdengarkan azan kepada satu orang calon jamaah menjadi syarat azan yang tidak boleh ditinggalkan. (Lihat Abu Bakr bin As-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah at-Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 238).

Karenanya, mengeluhkan terlalu kerasnya volume azan melalui pengeras suara bukan berarti mengeluhkan azan secara total, namun hanya berarti mengeluhkan kadar volumenya yang dalam teknis fiqih Islam berarti membatasi praktik kesunahan secara maksimal yang tentu saja boleh, sebagaimana kebolehan seseorang mengumandangkan azan dengan volume di bawah suara maksimalnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah juga sering mengencangkan suara 'toa' sekeras-kerasnya dalam berbagai aktifitas dan acara di atas kebutuhan sebenarnya? Wallahu a'lam.

****
Oleh: Ahmad Muntaha AM

Sumber:
Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad al Qurthubi, al Jami' li Ahkam al Qur'an, [Kairo: Dar al Kutub al Mishriyyah, 1384 H/1964 M], tahqiq: Ahmad al Burduni dan Ibrahim Ashfisy, juz XIV, halaman 71.
______________________
Artikel ini telah terbit di Laduni.ID pada tanggal 24/08/2018 dengan judul Sayyidina Umar pun Menegur Adzan yang Dipaksakan Sekencang-kencangnya dan diterbitkan ulang tanggal 24/02/2022