Biografi Imam Ad-Darimi

 
Biografi Imam Ad-Darimi

Daftar Isi Profil Imam Ad-Darimi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Guru-Guru
  5. Murid-Murid
  6. Pujian Para Ulama kepadanya
  7. Karya-Karya
  8. Metodologi Penulisan Sunan dan Kandungannya

Kelahiran

‘Abdullah bin ‘Abdurrahmân bin al-Fadhîl bin Bahram bin ‘Abdusshamad at-Tamîmî as-Samarkandî ad-Dârimî atau yang kerap disapa dengan panggilan Imam ad-Dârimî, lahir pada tahun 181 H di Dârimî.

Wafat

Imam ad-Dârimî wafat pada tahun 255 H dalam usia 74 tahun bertepatan pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah) setelah Ashar dan beliau dikuburkan pada hari Arafah bertepatan pada hari Jum’at di kota Marwa.

Pendidikan

Sebagai seorang yang bertekad menjadi penyebar hadits dan sunnah, maka syarat-syarat sebagai seorang rawi sejati menjadi satu kemestian untuk dimiliki. Diantaranya ia mesti terlebih dahulu belajar dan berguru dalam rangka menuntut ilmu merupakan bagian yang sangat mencolok dan sifat yang paling menonjol dari tabiat para ahlul hadits, karena terpencarnya para pengusung sunnah dan atsar di berbagai belahan negri Islam yang sangat luas. Maka Imam ad-Darimi pun tidak ketinggalan dengan merantau dibeberapa Negara yang terkenal, ‎diantara negara yang pernah beliau singgahi untuk menuntut ilmu adalah Khurasan, Iraq, Badgdad, Kuffah, Wasith, Syam, Damaskus, Shur, Jazirah, Hijaz, Makkah dan madinah

Guru-Guru

Dalam perjalanan hidupnya, terutama sebagai seorang ulama hadis, Imam ad-Darimi telah menimba ilmu dari sejumlah guru dan para ulama terkenal yang ditemui selama hidupnya. Guru-guru beliau diantaranya:

  1. An-Nadhr bin Syamîl
  2. Abu An-Nadhr Hâsyim bin Qâsim
  3. Marwân bin Muhammad Ath-Thâtharî
  4. Yazîd bin Hârûn
  5. Asyhal bin Hâtim
  6. Habbân bin Hilâl
  7. Aswad bin ‘Amir
  8. Ja’far bin ‘Aun .

Murid-Murid

  1. Imam Bukhârî (selain dalam Jâmi’ as-Shahîh)
  2. Imam Muslim bin al-Hajjâj al-Qusyairî
  3. Imam Abu Dâud
  4. Imam Tirmizî
  5. Hasan bin Shabâh Al-Bazzâr
  6. Bindâr
  7. Zuhliyyu
  8. Abû Zar’ah
  9. Abû Hâtim
  10. Baqa’ bin Mukhlid
  11. ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal
  12. Muthîn

Pujian Para Ulama kepadanya

Ad-Dârimî adalah al-Hâfizh dalam bidang Hadis, oleh karena itu banyak ulama lain yang semasa dengan beliau yang memuji dan mengakui kemampuan dan kehebatannya. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Abdullah bin ‘Abdurrahmân adalah Imam dalam bidang Hadis” . Dalam kesempatan lain beliau berkata kepada seseorang: “Bergurulah kepada Tuan Guru ‘Abdullah bin ‘Abdurrahmân” dan dia mengulang-ngulangi perkataan itu.

Berkata Ibnu Abi Hâtim dari Ayahnya: “ Beliau adalah Imam pada masanya”. Abu Hâtim bin Hibbân berkata: “ Beliau adalah Huffâzh yang terpercaya, ahli wara’ dalam beragama, banyak hafalan dan karya, menghidupkan Sunnah di masanya dan menentang para munkirusunnah .

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata: Beliau adalah tsiqah, fâdhil, mutqin . Tsiqah ¬pengertiannya adalah seseorang yang dapat dipercaya perkataannya tidak pernah berdusta dan berkata sia-sia. Fâdhil maksudnya memiliki akhlak yang mulia tidak pernah melakukan yang makruh apalagi yang haram. Mutqin maknanya hafalannya bagus tidak mudah lupa dan tidak pelupa.

Perkataan di atas merupakan hanya perwakilan dari sekian banyak pujian dan pengakuan yang diberikan para ulama di masa beliau. Dari sini dapat kita ketahui bahwa beliau mamang ahli dalam bidang agama terutama dalam bidang Hadis, bahkan beliau bukan hanya mempelajari dan mendalami Hadis akan tetapi membela Hadis dan menghidupkan Sunnah yang pada masa beliau banyak penguasa yang ingin meninggalkannya.

Karya-Karya

Sebagai seorang yang ahli dalam ilmu Hadis dan bidang-bidang lain, beliau banyak menulis dalam berbagai disiplin ilmu agama. Banyak ulama menyebutkan bahwa Imam ad-Dârimî memiliki karya selain buku Sunan. Imam az-Zahabi berkata: Imam ad-Dârimî menyusun:

  1. al-Musnad
  2. at-Tafsîr
  3. al-Jâmi’

Namun diantara karya-karya beliau yang sangat berharga dan sampai kepada kita adalah buku Sunan (.al-Musnad).

Perlu kita ketahui bahwa sebahagian ulama bahwa Sunan ad-Dârimî lebih pantas disebut dengan nama musnad. Kalau yang dimaksud musnad adalah bahwa Hadis-hadis dalam buku itu semua bersandar kepada Nabi Saw. tidak jadi masalah, akan tetapi kalau dimaksudkan bahwa buku Sunan disusun menurut abjad nama Sahabat tidak menurut bab-bab fiqih tentu itu tidak tepat karena buku Sunan disusun sesuai dengan bab-bab fiqih.

Metodologi Penulisan Sunan dan Kandungannya

Sunan ad-Dârimî adalah salah satu dari sekian banyak buku-buku Hadis yang sangat berharga dalam dunia Islam. Berkata Mughkathâya: Sesungguhnya Sekolompok Ulama mengatakan musnad ad-Dârimí adalah Shâhîh”. Ibnu Shalâh menjadikan Sunan ad-Dârimî sebagai salah satu kitab musnad. Kalau yang dimaksud musnad adalah bahwa Hadis-hadis dalam buku itu semua bersandar kepada Nabi Saw. tidak jadi masalah, akan tetapi kalau dimaksudkan bahwa buku Sunan disusun menurut abjad nama Sahabat tidak menurtu bab-bab fiqih tentu itu tidak tepat karena buku Sunan disusun sesuai dengan bab-bab fiqih.

Penilaian ini terjadi mungkin karena Hadis-hadis di dalam kitab Sunan semuanya ada sandarannya (musnadatun), namun kalau seperti ini penilaiannya tidak jadi masalah. Karena Shahîh Bukhâri juga dinamakan musnad jâmi’, karena hadis-hadisnya ada sandarannya bukan karena disusun menurut metode kitab-kitab musnad.

Adapun status Hadis di dalam Sunan ad-Dârimî adalah bermacam-macam, yaitu:

  1. Hadis Shahîh yang disepakati oleh Imam Bukhari Muslim
  2. Hadis Shahîh yang disepakati oleh salah satu keduanya
  3. Hadis Shahîh di atas syarat keduanya
  4. Hadis Shahîh di atas syarat salah satu keduanya
  5. Hadis Hasan
  6. Hadis Sadz-dzah
  7. Hadis Mungkar, akan tetapi itu hanya sedikit
  8. Hadis Mursal dan Mauquf, akan tetapi ada thuruq lain yang menguatkannya .

Berkata Syekh ‘Abdul Haq ad-Dahlâwî: berkata sebahagian para ulama bahwa kitab ad-Dârimî lebih pantas dan cocok untuk dimasukkan dalam katagori kutubussittah menggantikan posisi Sunan Ibnu Mâjah, dengan alasan:

  1. Karena rijâlul hadisnya lebih kuat
  2. Keberadaan Hadis Sadz-dzah dan Munkar hanya sedikit
  3. Sanadnya termasuk sanad yang âliyah
  4. Rijâlul hadisnya tiga orang lebih banyak dalam kitab Sunan ad-Dârimî dari pada dalam Shâhih Bukhâri .

Sunan ad-Dârimî terdiri dari dua jilid, 23 kitâb dan di dalamnya terdapat 3503 Hadits. Diawali dengan Muqaddimah yang isinya tentang sejarah Nabi Muhammad Saw., ittibâ’ sunnah, ilmu dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya.

Adapun kitâb- kitâb yang ada di dalam Sunan Ad-Dârimî adalah:

  1. Kitâb at-Thahârah
  2. Kitâb as-Shalât
  3. Kitâb az-Zakât
  4. Kitab as-Shoum
  5. Kitâb al-Manâsik
  6. Kitâb al-Adhahâ
  7. Kitâb as-Shoid
  8. Kitâb ath‘Imah
  9. Kitâb asy-Ribah
  10. Kitâb ar-Ru’yâ
  11. Kitâb an-Nikâh
  12. Kitâb At-Thalâq
  13. Kitâb al-Hudûd
  14. Kitâb an-Nuzur wal Aimân
  15. Kitâb ad-Diyât
  16. Kitâb al-Jihâd
  17. Kitâb as-Sair
  18. Kitâb al-Buyû
  19. Kitâb Isti’zân
  20. Kitâb ar-Raqâiq
  21. Kitâb al-Farâid
  22. Kitâb al-Washâyâ
  23. Kitâb Fadhâ’il Qur’ân
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya