Mengambil Pelajaran dari Kritik Gus Dur terhadap Nahdlatul Ulama dalam Tulisanya yang Berjudul “NU Dulu dan Kini”

 
Mengambil Pelajaran dari Kritik Gus Dur terhadap Nahdlatul Ulama dalam Tulisanya yang Berjudul “NU Dulu dan Kini”
Sumber Gambar: Istimewa, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Membaca kembali tulisan Gus Dur tentang NU ibarat membuka kembali lembaran ingatan kolektif yang selama ini mungkin sedikit terlupakan, atau entahlah sengaja dinafikan dan disimpan rapat-rapat. Tulisan berjudul “NU Dulu dan Kini” yang akan disertakan di bawah ini merupakan tulisan kritis Gus Dur yang diambil dari buku Gus Dur Bertutur (2005) yang sebelumnya juga pernah dimuat di Harian Proaksi, 23 November 2004. Demikian keterangan yang bisa dilihat di situs resmi gusdur.net.

Kritik dalam tulisan tersebut tentu tidak lahir dari kejauhan, apalagi dari sikap ingin menghakimi, melainkan ditulis oleh seorang kyai, santri, dan pemimpin NU yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam denyut organisasi ini. Tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa di dalam setiap kalimatnya seakan mengandung kegelisahan, kejujuran, sekaligus cinta yang mendalam terhadap Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang lahir dari rahim pesantren dan sejarah bangsa.

Memperhatikan dinamika NU hari ini, ketika perbincangan tentang kekuasaan, jabatan, dan pengaruh kerap mengemuka, menurut saya tulisan Gus Dur di bawah ini rasanya relevan untuk direnungkan dan diambil pelajaran. Kritik yang ada di dalamnya seperti mengetuk kesadaran kita bersama, mengajak warga NU untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu bertanya dengan jujur: “Masihkah NU dijalankan dengan ruh keikhlasan, keadilan, dan akhlak sebagaimana diwariskan para pendirinya?” Sekali lagi, tulisan Gus Dur berikut patut dibaca ulang sebagai cermin untuk menilai diri kita, warga Nahdliyin, khususnya para pengurusnya hari ini.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN