08 Feb 2019 Β· 5.222 dibaca · Ringan Riuh
LADUNI.ID - Puisi bagai pisau, ia bisa membunuh lawan-lawannya dengan ketajaman kata-katanya. Bisa pula meninabobokkan, dengan belaian kalimatnya, berbunga-bunga.
Entah, siapalah ia, pisau itu tergantung pemiliknya. Bila Ramai dengan Puisi "Doa Yang Ditukar" Fadli Zon-, biarkan ia berteriak-teriak, memecah hening, bukankan ada penyair hebat Musailamah Al-Kadzab dengan syairnya yang membara. Ada Hasan Bin Sabit, penyair Nabi, dengan pujian-pujian yang dirindukan.
Biarkan puisi menggila, bila kau marah, tulislah puisi. Bila kau memerah, marahlah pada kata-kata itu, bakar ia dengan kalimatmu.
Puisi selalu bermuatan ideologi, kalau puisi tak ber-ideologi, ia hanya semacam anyaman senyap, haru-biru, dan bunga semata. Walau keindahan tetaplah menjadi bagian dari puisi, tetapi, apakah hanya cantik, tapi tak sholehah.
Ideologi, semacam pesan kuat untuk memberikan suatu perubahan, apakah itu ideologi kemanusiaan, ketuhanan, nasionalisme, atau apapun.
Dan puisi selalu hadir dalam situasi dan kondisinya. Ketika masa penjajah, ia dat
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+