Biografi KH. Abdul Wahab Chasbullah

 
Biografi KH. Abdul Wahab Chasbullah

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat
1.3       Riwayat Keluarga     

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Menjadi Pengasuh Pesantren 
2.4       Perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Era KH. Abdul Wahab Chasbullah

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Karya, dan Karir
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.2       Karya-karya Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Kisah Teladan
5.1       Keluwesan dalam Hukum Fiqih  
5.2       Penggagas Halal bi Halal 

6          Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

7          Penghargaan

8          Referensi

 

Riwayat Hidup dan Keluarga

      1.1       Lahir

KH. Abdul Wahab Chasbullah merupakan salah  ulama besar pelopor pendiri Nahdlatul Ulama (NU)yang sangat berjasa di negara ini . Beliau meupakan orator ulung, ahli politik, pejuang dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia

KH. Abdul Wahab Chasbullah atau yang biasa dipanggil dengan Mbah Wahab lahir di Jombang, 31 Maret 1888. Beliau merupakan putra pasangan KH. Hasbullah Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, dengan Nyai Latifah.

KH. Abdul Wahab Chasbullah berasal dari keturunan Raja Brawijaya IV dan bertemu dengan silsilah KH. Hasyim Asy’ari pada Kiai Abdus Salam (Kiai Shoichah) bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sumbu bin Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir (Mas Karebet), bin Lembu Peteng, bin Brawijaya V (raja Majapahit ketujuh).

      1.2    Wafat

KH. Abdul Wahab Chasbullah wafat di Jombang pada usia 83 tahun atau tepatnya pada 29 Desember 1971. 43 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 November 2014, Kiai Wahab bersama dengan Djamin Ginting, Sukarni Kartodiwirjo, dan HR Muhammad Mangundiprojo diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo.

      1.3    Riwayat Keluarga

Pada tahun 1914, KH. Abdul Wahab Chasbullahllah, menikah dengan putri Kiai Musa yang bernama Maimunah. Sejak itu, ia tinggal bersama mertua di kampung Kertopaten, Surabaya. Namun pernikahan dan membina rumah tangga ini tidak berlangsung lama. Istrinya meninggal sewaktu mereka berdua menjalankan ibadah haji pada 1921. 15 Sepeninggal Maimunah, ia menikah lagi dengan Alawiyah, putri dari KH Alwi Tamim. Dari perkawinan ini ia di karuniai seorang putri bernama Khadijah yang kemudian menikah dengan Kiai Abdul Mu’in dari Bangil. Kemudian Khadijah meninggal tahun 1987.

Masih dalam perkawinan dengan Alawiyah, beliau menikah lagi di Jombang dengan seorang perempuan bernama Rahmah, putri Kiai Abd.Sjukur. akan tetapi pernikahan dengan Rahmah ini tidak berlangsung lama, beliau bercerai dan tidak mempunyai putra. Kemudian beliau menikah lagi tiga kali, kemudian bercerai, dan tidak mempunyai anak. Sewaktu melaksanakan ibadah haji tahun 1920 KH. Abdul Wahab Chasbullah menikah dengan Asna binti Said asal Surabaya dan memiliki putra bernama Nadjib (meninggal tahun 1987).

Setelah itu, beliau menikah dengan Fatimah binti Burhan, tetapi tidak di karuniai putra. Sebelum disunting KH. Abdul Wahab Chasbullah, Fatimah telah mempunyai putra bernama Ahmad Saichu. KH. Abdul Wahab Chasbullah kembali menikah dengan Fatimah binti Ali asal Mojokerto dan Askanah binti Muhammad Idris dari Sidoarjo.

Dari kedua istri tersebut ia juga tidak mempunyai putra. Selanjutnya, KH. Abdul Wahab Chasbullah menikah dengan Masmah, sepupu Asna binti Said, dan mempunyai seorang putra bernama Moh. Adib. Sepeninggal Masmah, beliau menikah lagi dengan Aslihah binti Abdul Majid asal Bangil, Pasuruan dan mempunyai dua putri, Djumiyatin dan Muktamaroh. Aslihah meninggal pada tahun 1939, kemudian beliau menikah dengan Sa’diyah, kakak Aslihah. Dari pernikahannya dengan Sa’diyah, beliau mempunyai lima putra, yaitu Machfudzoh, Hizbiyah, Munjidah, Muh. Hasib, dan Muh. Roqib.

         

 2       Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

Masa pendidikan KH. Abdul Wahab Chasbullah dari kecil hingga besar banyak dihabiskan di pondok pesantren. Selama kurang lebih 20 tahun, beliau secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari beberapa pesantren. Karena tumbuh dilingkungan pondok pesantren, mulai sejak dini beliau diajarkan ilmu agama dan moral pada tingkat dasar.

Termasuk dalam hal ini tentu diajarkan seni Islam seperti kaligrafi, hadrah, barjanji, diba’, dan salawat. Kemudian tak lupa diajarkan tradisi yang menghormati leluhur dan keilmuan para leluhur, yaitu dengan berziarah ke makam-makam leluhur dan melakukan tawasul.

Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup, seorang santri, seperti, salat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk salat tahajud. Kemudian Kiai Wahab membimbingnya untuk menghafalkan Juz ‘amma dan membaca Al Quran dengan tartil dan fasih. Kemudian beliau dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya: Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan Al Majmu’. Wahab Hasbullah juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, dan Ulumul Hadits.

Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Selama enam tahun awal pendidikannya, beliau dididik langsung oleh ayahnya, baru ketika berusia 13 tahun, Kiai Wahab Chasbullah mengembara untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya.

Diantara pesantren yang pernah disinggahi Wahab Hasbullah adalah sebagai berikut:

  1. Pesantren Langitan Tuban
  2. Pesantren Mojosari, Nganjuk
  3. Pesantren Cempaka
  4. Pesantren Tawangsari, Sepanjang
  5. Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura dibawah asuhan KH. Kholil Bangkalan
  6. Pesantren Branggahan, Kediri
  7. Pesantren Tebuireng, Jombang dibawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari

Khusus di Pesantren TebuiIreng, beliau cukup lama menjadi santri. Hal ini terbukti, kurang lebih selama 4 tahun, beliau menjadi lurah pondok, sebuah jabatan tertinggi yang jarang didapatkan oleh seorang santri dalam sebuah pesantren. Menjadi lurah pondok adalah sebagai bukti kepercayaan kiai dan pesantren kepada santri.

Setelah lama belajar ke berbagai pesantren, seperti halnya kebanyakan santri Jawa saat itu, KH. Wahab Chasbullah pada umur 27 tahun juga memperdalam keilmuannya, terutama ilmu agama di Makkah. Beliau belajar di kota suci ini selama kurang lebih 5 tahun. Di Makkah, beliau bertemu dengan ulama terkemuka dan kemudian berguru pada mereka. Seperti yang telah di sebutkan di atas di antara guru-gurunya selama di Makkah adalah sebagai berikut:
1) Kiai Mahfudz Termas.
2) Kiai Muchtarom Banyumas.
3) Syaikh Ahmad Khotib Minangkabau.
4) Syaikh Sa’id Al-Yamani.
5) Syaikh Ahmad Abu Bakri Sata.

Selain belajar pada kitab-kitab atau pelajaran agama, beliau juga belajar ilmu organisasi dan pergerakan. Selama di Makkah ini pulalah beliau belajar pergerakan organisasi SI.

Bahkan, beliau aktif dalam dunia pergerakan dan organisasi ini. Bersama dengan Kiai Abas dari Jember, Kiai Asnawi dari Kudus, dan Kiai Dahlan dari Kertosono memelopori berdirinya Syarikat Islam (SI) cabang Makkah. Dengan rangkaian perjalanan intelektual yang demikian panjang, tidak mengherankan apabila pada usia 34 tahun, KH. Wahab Chasbullah  telah menjadi pemuda yang menguasai berbagai disiplin ilmu keagamaan, seperti Ilmu Tafsir, hadis, Fikih, Akidah, Tasawuf, Nahwu Sharaf, Ma’ani, Manthiq, ‘Arudl dan ilmu Hadlarah, sejarah Islam, cabang ilmu diskusi, dan retorika.

Sepulangnya dari Makkah dan bertempat tinggal di Surabaya, KH. Abdul Wahab Chasbullah sudah merasakan perlunya melakukan pergerakan dengan mendidik kader dalam bentuk Tashwir Al-Afkar, sebuah pertukaran gagasan. Ide ini kemudian mengkristal menjadi semacam kursus perdebatan untuk anak-anak muda dan kiai-kiai muda upaya ini didorong oleh semangat untuk kebangunan Islam, yang salah satunya dilatari oleh kondisi Syarikat Islam (berdiri sejak 1912) yang sudah mulai dicurigai Belanda akibat kasus afdeling B sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan SI karena Belanda di mana- mana bisa menangkapi mereka yang di curigai sebagai bagian dari pemberontakan SI Afdeling.

       2.2          Guru-Guru Beliau

  1. KH Hasbulloh Said
  2. KH. Kholil Bangkalan
  3. KH. Hasyim Asy’ari
  4. Syaikh Mahfudz at-Tarmasi
  5. Syaikh Al-Yamani
  6. Kiai Muchtarom Banyumas.
  7. Syaikh Ahmad Khatib (pemimpin Tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyyah).
  8. Syaikh Sa’id Al-Yamani.
  9. Syaikh Ahmad Abu Bakri Shata.
  10. KH. Saleh
  11. KH. Zainuddin Bangkalan-Madura.
  12. KH. Faqihuddin Kediri (pengasuh Pesantren Branggahan Kediri).

       2.3          Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren

Beliau menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang menggantikan perjuangan sang ayah Almaghfurullah “Kiai Hasbullah”  yang wafat pada 1920 M, beliau pula yang menggagas ide pembuatan nama “Bahrul ‘Ulum” sebagai nama resmi pesantren mengingat nama Tambakberas sendiri sebenarnya merupakan nama sebuah dusun.

Selain itu Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Chasbullah juga merupakan tokoh yang merekontruksi sistem pendidikan di pesantren Bahrul ‘Ulum dengan mendirikan Madrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah Al-Qur’an (1959) yang merupakan madrasah pertama dalam sejarah Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas, sebelum sistem tersebut dimodifikasi oleh Almaghfurullah KH. Abdul Fattah Hasyim tatkala menjadi pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum.

Atas perjuangan dari Almaghfurullah KH. Abdul Wahab Chasbullah diangkatlah nama beliau sebagai nama salah satu Universitas di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum yaitu UNWAHA (Universitas Wahab Hasbullah) yang merupakan metamorfosis dari STAI-BU dan STIMIK-BU. Selain itu pada peringatan Haul AlmaghfurullahKH. Abdul Wahab Chasbullah ke-43 pada tahun 2014 dicanangkan pula event “ KH. A Wahab Chasbullah Award 2014 Award 2014”  oleh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang.

      2.4         Perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Era KH. Abdul Wahab Chasbullah

Mendirikan Beberapa Sekolahan

KH. Abdul Wahab Chasbullah berpandangan bahwa pendidikan tidak harus dilakukan di pesantren tapi bagaimana agar mendidik anak bisa dilakukan dimanapun dan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Akan tetapi, bukan berarti pendidikan pesantren dilupakan.

Oleh karenanya selain melakukan pendidikan di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, juga melakukan pendidikan di luar pesantren yang ditujukan untuk kalangan umum dan terpelajar dengan mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar.

Melalui Nahdlatun Wathan beliau juga telah berhasil mendirikan beberapa sekolah di berbagai daerah, antara lain:

  1. Sekolah/Madrasah Ahloel Wathan di Wonokromo
  2. Sekolah/Madrasah Far’oel Wathan di Gresik
  3. Sekolah/Madrasah Hidayatoel Wathan di Jombang, dan
  4. Sekolah/Madrasah Khitaboel Wathan di Surabaya (Mashyuri, 2008:86-87).
     

3       Penerus Beliau

     3.1      Anak-anak Beliau

  1. KH. Muhammad Wahab Wahib
  2. Khadijah
  3. Moh. Adib Djumiyatin
  4. Muktamaroh
  5. NYai Hj. Mundjidah Wahab
  6. Mahfuzah
  7. Hasbiyah
  8.  Mujidah
  9. Muhammad Hasib
  10. Raqib
  11. KH. A. Syaichu (anak tiri)

      3.2     Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau para santri-santri di pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang


4      Jasa, Karya, dan Karir Beliau

    4.1      Jasa-jasa Beliau


a. KH. Abdul Wahab Chasbullah Pendiri NU

KH. Abdul Wahab Chasbullah merupakan salah satu bapak Pendiri NU. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro.

Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. KH. Abdul Wahab Chasbullah juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.

b. Fatwa Resolusi Jihad

Pada masa revolusi kemerdekaan KH. Abdul Wahab Chasbullah juga turut serta dalam proses keluarnya “Fatwa Resolusi Jihad. Ketika fatwa Resolusi Jihad dikeluarkan Rois Akbar PBNU KH. Hasyim Asy’ari, dalam pertemuan ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya pada 22 Oktober 1945, KH. Abdul Wahab Chasbullah yang waktu itu menjadi Khatib Am PBNU bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan.  

Fatwa tersebut akhirnya menjadi pemantik pertempuran heroik 10 November, untuk mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah dengan cara membonceng NICA alias Sekutu. Dengan catatan sejarah panjang perjuanganKH. Abdul Wahab Chasbullah terhadap bangsa ini, berbagai pihak menilai sangat tepat jika pemerintah memberi gelar Pahlawan Nasional. 

c. Pencipta lagu Ya Lal Wathon

KH. Abdul Wahab Chasbullah adalah pengarang syair "Ya Lal Wathon" yang banyak dinyanyikan dikalangan Nahdliyyin, lagu Ya Lal Wathon di karangnya pada tahun 1934. KH. Maimoen Zubair mengatakan bahwa syair tersebut adalah syair yang beliau dengar, peroleh, dan dinyanyikan saat masa mudanya di Rembang. Dahulu syair Ya Lal Wathon ini dilantangkan setiap hendak memulai kegiatan belajar oleh para santri.

d. Inspirator Terbentuknya GP Ansor

Dari catatan sejarah berdirinya GP Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh dan pembinaan kader. KH. Abdul Wahab Chasbullah, tokoh tradisional dan KH. Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH. Abdul Wahab Chasbullah yang kemudian menjadi pendiri NU membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab Chasbullahh ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut.

Gerakan ANO harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU.

Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU. Dimasukkannya ANO sebagai salah satu departemen dalam struktur kelembagaan NU berkat perjuangan kiai-kiai muda seperti KH. Machfudz Siddiq, KH. Wahid Hasyim, KH. Dachlan Kertosono, Thohir Bakri dan Abdullah Ubaid serta dukungan dari ulama senior KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Sementara itu, peran KH. Mohammad Chusaini Tiway terlihat pada masa pendudukan Jepang, dimana pada saat itu organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wahid Hasyim Menteri Agama RIS kala itu, maka pada 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru, yakni Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).

e. Menjadi Utusan Jami'iyyah Nahdlatul Ulama di Arab Saudi

Pada saat pemimpin-pemimpin Islam mendapat undangan dari Raja Hijaz,KH. Abdul Wahab Chasbullah lalu membentuk Komite Khilafat yang diberi nama “Komite Hijaz” atas izin dari KH. Hasyim Asy’ari. KH. A Wahab Chasbullah mendirikan “Komite Hijaz” sebagai bentuk respon atas proses “wahabisasi” di Arab yang memberi pengaruh pada persoalan kebebasan beribadah sesuai dengan kepercayaannya. Komite ini kemudian mengirim delegasi sendiri ke Makkah-Madinah. Komite Hijaz inilah yang kemudian melahirkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, sehingga kehadiran NU tidak dapat dilepaskan dari perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah.

    4.2      Karya-karya Beliau

Yaa Lal Wathan, Lagu Patriotis Karya KH. Abdul Wahab Chasbullah

Lagu ini berisikan syair yang penuh dengan semangat patriotisme. Lagu yang berjudul Syubbanul Wathan atau Yaa Lal Wathan kini sudah Diterjemahkan dan sering dinyanyikan oleh para santri.

 KH. Maimoen Zubair salah satu santri KH. Abdul Wahab Chasbullah meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” disana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullahh pada tahun 1934.

    4.3      Karier Beliau

  1. Menjabat khatib  'Am (sekretaris umum) PBNU saat NU pertama kali didirikan.
  2. Setelah KH. Hasyim Asy'ari wafat, jabatan Rais 'Am (ketua umum) dijabat oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah
  3. Menjadi anggota BPKNIP (badan pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat)
  4. Menjadi anggota konstituante dan berkali-kali menjadi anggota DPR RI 
  5. Menjadi anggota Dewan Pertimbangan agung atau DPA

5      Kisah Teladan

5.1      Keluwesan dalam Hukum Fiqih

Riwayat perbedaan pandangan tentang hewan kurban merupakan salah satu yang termasyhur di Denanyar dan Tambakberas, Jombang. Seorang laki-laki diceritakan sowan kepada Kiai Bisri Syansuri di Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar. Lelaki itu berusaha menyampaikan keinginannya menyembelih hewan kurban. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Ceritanya, laki-laki itu hendak menyembelih seekor sapi, tetapi anggota keluarganya terdiri dari delapan orang. Ia ingin menanyakan hal itu kepada Kiai Bisri Syansuri. “Yo ndak bisa, satu sapi ya untuk tujuh orang. Begitu aturan syariatnya,” jawab Kiai Bisri lugas dan tegas.

Mendengar jawaban sang ulama, laki-laki itu agak sedikit bingung. Ia khawatir kelak di akhirat salah satu anggota keluarganya tidak bisa naik hewan sembelihan akibat aturan syariat itu. Rasa penasarannya tinggi terhadap aturan syariat tersebut. Hal itu membuatnya harus menanyakan kembali kepada ulama lainnya di Jombang.

Pilihan dia jatuh ke KH. Abdul Wahab Chasbullah. Ia kemudian bergegas ke Tambakberas, sebuah desa yang terletak di utara Denanyar. Ia sowan kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Setelah memperkenalkan diri lengkap berserta asal-usul dan riwayat keluarga, hajat yang sama ia sampaikan kepada Kiai Wahab. “Yo ndak apa-apa. Cuma, anakmu kan ada yang kecil satu, biar dia bisa naik ke punggung sapi, harus disediakan ancik-ancikan (undak-undakan),” ujar Kiai Wahab. “Ancik-ancikan-nya apa ya, Kiai?” tanya lelaki itu dengan antusias seolah menemukan solusi. "Ya belikan kambing satu, biar bisa dipakai ancikan anakmu," jawab Kiai Wahab.

Mendengar jawaban KH. Abdul Wahab Chasbullah yang tidak langsung memvonis “tidak bisa”. Laki-laki itu telah menemukan jalan keluar dan pulang dengan berita gembira. Akhirnya, di hari raya Idul Adha, ia bisa berkurban untuk seluruh anggota keluarganya.

5.2   Penggagas Halal Bi Halal

KH. Abdul Wahab Chasbullah yang saat itu menjabat Anggota Dewan Pertimbangan Agung memberikan saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahmi sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunnahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain.”

“Itu gampang,” ucap Kiai Wahab.

“Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu, kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’,”jelas KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Dari saran KH. Abdul Wahab Chasbullah itulah, kemudian Soekarno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bihalal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Dan dari peristiwa bersejarah tersebut, halal bi halal mampu menyatukan segenap elemen bangsa dan menggalang semangat persatuan. Terbukti di tahun berikutnya tepatnya pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan kedaulatan bangsa Indonesia yang dilakukan di dua tempat.

Pertama,  di Amsterdam oleh Ratu Belanda kepada Perdana Menteri Mohammad Hatta, dan kedua,  di Jakarta yang diwakili oleh wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia, Tony Lovink kepada Sri Sultan Hamengkubowo IX sebagai wakil perdana menteri. Setelah itu bangsa Indonesia sempat menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) selama 8 bulan dan pada 19 Mei 1950 melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejak saat itu pula, instansi-instansi pemerintah menyelenggarakan halal bi halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama.

6         Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Abdul Wahab Chasbullah merupakan bapak Pendiri NU Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.

Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. KH. Abdul Wahab Chasbullah juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.

Di dalam politik pun tak kalah hebatnya. KH. Abdul Wahab Chasbullah ikut membidani perjuangan NU di tingkatan politik. Hal itu terait dengan proses perjuangan melawan penjajah tidak bisa hanya memakai jalan perjuangan fisik. Beliau juga membidani lahirnya laskar-laskar, seperti Hizbullah. Dalam urusan politik ini, KH. Abdul Wahab Chasbullah memiliki insting yang kuat untuk menjadi seorang politisi tangguh, ulet, dan ahli melobi.

Semangat nasionalisme kaum muslimin mulai muncul ke permukaan di awali oleh berdirinya Sarekat Islam (SI) tanggal 11 November 1912. Semangat nasionalisme ini kemudian diikuti dengan berdirinya beberapa orgaNisasi keagamaan, seperti Muhammadiyah tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta, Al-Irsyad tahun 1915, Persatuan Islam (Persis) tahun 1923, dan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi-organisasi ini merupakan cikal bakal terbentuknya perjuangan umat Islam yang di mulai pada abad ke-20. Di sini, NU sebagai salah satu organisasi keagamaan yang mempunyai anggota cukup banyak dan mampu menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia menarik untuk dikaji.

Pada periode ini pula lahir tokoh gerakan pemuda Islam,KH. Abdul Wahab Chasbullah. Pada periode berikutnya, masa kependududkan Jepang di Hindia Belanda KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagaimana kebanyakan ulama memperoleh posisi di dalam pemerintahan. Tahun 1943 beliau diangkat sebagai Shu Sangi Kai atau dewan penasehat di Surabaya.  KH. Abdul Wahab Chasbullah juga menjadi penghubung penting antara presiden soekarno dan NU. Kedua orang ini memiliki hubungan yang dekat dan hangat.

Munculnya NU sebagai partai independen kian mendorong hubungan presiden dan NU yang saling menguntungkan. Soekarno berusaha mempromosikan NU sementara KH. Abdul Wahab Chasbullah berharap presiden akan menjadi penyokong partainya dalam sistem politik yang kompetitif. Menurutnya, NU harus mendukung presiden, bukan semata-mata karena ia merupakan tokoh kunci kemerdekaan indonesia, tetapi karena beliau juga tetap merupakan figur penting dalam mempertahankan dan membangun rasa persatuan dan cita-cita nasional.

KH. Abdul Wahab Chasbullah juga tidak dapat membiarkan kaum modernis yang dilancarkan serangan-serangan kepada ulama bermadzhab. Oleh sebab itu pada tahun 1924, KH. Abdul Wahab Chasbullah membuka kursus “Masail Diniyyah” (kursus khusus masalah-masalah keagamaan). Kursus tersebut guna menambah pengetahuan bagi ulama-ulama muda yang mempertahankan mazhab pesantren. Dengan demikian,KH. Abdul Wahab Chasbullah telah membangun pertahanan cukup ampuh bagi menolak serangan-serangan kaum modernis.

7          Penghargaan

Diangkat jadi Pahlawan Nasional

Dengan catatan sejarah panjang perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah terhadap bangsa ini, berbagai pihak menilai sangat tepat jika pemerintah memberi gelar Pahlawan Nasional.  Apalagi usulan nama Kiai Wahab yang wafat 29 Desember 1971, sebagai Pahlawan Nasional sebenarnya sudah dilakukan cukup lama. u sulan pertama pada tahun 1989 atau ketika masa Orde Baru. Karena macet, akhirnya usulan kedua disampaikan tahun 2012 lalu. Yang mengusulkan Pemkab Jombang, PBNU Pusat, dan PCNU Jombang, juga para keluarga, kiai, dan ulama semua.  

Dari usulan tersebut, telah dilakukan beberapa kali seminar, uji publik, dan kajian sejarah untuk menguji layak tidaknya KH. Abdul Wahab Chasbullah menjadi Pahlawan Nasional, dilihat dari peran sebelum, ketika maupun sesudah kemerdekaan. Mereka yang mengulas, antara lain, sejarawan Prof Anhar Gonggong, sejarawan NU Choirul Anam, dan PBNU. Perjuangannya selama hidup tak sia-sia. Pada 7 November 2014, Presiden Joko Widodo menganugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia untuk Kiai Wahab.

8          Referensi

https://www.tambakberas.com/

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya