11 Jul 2019 · 3.509 dibaca · Sosial Budaya
LADUNI.ID - Suatu hari, Sibawaih (w. 796 M) berdebat dengan gurunya Kholil bin Ahmad al-Farohidi (w. 791) tentang masalah isim makrifat (semacam article dlm Bs. Inggris). Kholil beranggapan bahwa kata ganti (isim dlamir) adalah kata yang paling makrifat sedangkan di sisi lain Sibawaih beranggapan kata yang paling makrifat adalah nama (isim alam). Keduanya berdebat hingga larut dan masih saja belum ditemukan kata sepakat.
Hingga beberapa hari setelahnya, Sibawaih yang berwajah tampan itu sengaja bertamu ke rumah gurunya, Kholil bin Ahmad. Sibawaih mengucapkan salam sembari mengetuk pintu. Lalu dari dalam muncul suara Kholil bertanya, “Siapa itu?” Sibawaih pun menjawab, “Aku (Ana).”
“Aku siapa? (Ana man?)” Tanya Kholil.
“Aku ya aku.” Ujar Sibawaih.
Lalu Kholil keluar dan melihat Sibawaih di sana. Sejenak kemudian Kholil tertegun. Ia sadar bahwa isim yang paling makrifat bukanlah kata ganti (dlomir; dalam konteks ini ‘ana’, ‘aku’, kata ganti pertama), melainkan yg paling ma
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+