LADUNI.ID - Sastra selalu bermuatan ediologi, kalau sastra tak ber-ediologi, ia hanya semacam anyaman senyap, haru-biru, dan bunga semata. Walau keindahan tetaplah menjadi bagian dari sastra, tetapi, apakah hanya cantik, tapi tak sholehah.
Ediologi, semacam pesan kuat untuk memberikan suatu perubahan, apakah itu ideologi kemanusiaan, ketuhanan, nasionalisme, atau apapun.
Dan sastra selalu hadir dalam situasi dan kondisinya. Ketika masa penjajah, ia datang dengan sastra perlawanan. Ketika banyak orang dikoyak, hadir sastra humanisme. Maka, ia hadir sesuai dengan konteksnya, tidak pernah cukup melihat teks sebuah teks, tanpa kehadirannya yang menyertainya.
Menurut Maman, puisi yang baik adalah puisi yang ditulis dengan baik, bukan puisi toilet. Puisi baik, puisi yang benar-benar hadir, bukan hanya diawang-awang, memoles kata, tapi tak punya makna.
Seperti Hamzah Fansuri, dengan metafor yang hangat, pesan yang kuat. Maka, kata Maman, selain Hamzah membawakan puisi indah, dengan pesannya penuh hikmah, ia juga datang sebagai seorang intelek.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+