Biografi KH. Suyuthi Abdul Qodir

 
Biografi KH. Suyuthi Abdul Qodir

Daftar Isi Profil KH. Suyuthi Abdul Qodir

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Tokoh Masyarakat
  7. Peranan di Nahdlatul Ulama

 

Kelahiran

KH. Suyuthi Abdul Qodir lahir pada tanggal 14 Dzulqo’dah tahun 1904 di desa Guyangan, Trangkil, Pati. Namun menurut catatan kitab ayahandanya, beliau lahir pada Dzulhijjah 1325 H/1908 M. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan KH. Abdul Qadir dengan Hj. Arum. Ayahandanya wafat ketika beliau menginjak usia 17 tahun.

 

Wafat

KH. Suyuthi Abdul Qodir wafat pada hari selasa, 25 September 1979 atau bertepatan pada 4 Dzulqo’dah. Beliau meninggal dunia di rumah sakit dr. Karyadi di Semarang karena sakit.

Keluarga

KH. Suyuthi Abdul Qodir melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Tasri’ah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai delapan anak diantaranya, Nyai Hj. Salamah, KH. Salim Suyuthi, Nyai Rasyidah, Hj. Sa’adah, KH. Faruq Suyuthi, KH. Humam Suyuthi, Nyai Hj. Kafiyah dan KH. Najib Suyuthi.

 

Pendidikan

KH. Suyuthi Abdul Qodir menempuh pendidikan agamanya sejak kecil bersama sang ayah, sebelum sang ayah wafat. Kyai Suyuthi muda adalah sosok yang alim dan cerdas, hal ini dibuktikan banyaknya beliau mempelajari kitab-kitab besar seperti Iqna’ dan Qishashul Anbiya’. Sejak itulah, awal rihlah ilmiah beliau bermula. Beliau adalah sosok yang haus akan ilmu, tak kenal lelah, mempunyai semangat dalam mencari ilmu kepada para kiai terkemuka di Nusantara dan internasional.

Pada tahun 1921 beliau menimba ilmu ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Jamsaren, Solo kepada Kiai Idris selama dua tahun. Pada 1923, beliau menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Kasingan Rembang kepada Kiai Kholil dan KH. Mas’ud. Lalu pada tahun 1924, Kiai Suyuthi menimba ilmu kepada Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Lalu pada tahun 1926, Kiai Suyuthi pergi ke Sampang, Madura untuk memperdalam hafalan al-Quran di Pondok Pesantren Sampang yang diasuh oleh KH. Munawwir selama satu tahun. Dengan berpedoman “Uthlubul ‘ilma walau bisshin”, tahun berikutnya beliau pergi ke Makkah untuk menimba ilmu selama lima tahun kepada ulama-ulama besar, seperti Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Baqir Yogyakarta, Syaikh Ali Makki, mufti madzhab Maliki di Makkah, Syaikh Saíid al-Yamani, mufti madzhab Syafii (Yaman), Syaikh Umar Bayunid, mufti madzhab Syafii (Makkah), Syaikh Ibrahim Barri dan Syaikh Syarif Muhammad Ibnu Ghulam as-Singkiti, mursyid tarekat Syadiziliyah.

Kiai Suyuthi belajar berbagai kitab hadis, khususnya Shahih Bukhari dan Muslim, juga belajar lintas disiplin ilmu, antara lain, tafsir, hadis, fiqh, nahwu, sastra, sejarah, balaghah, dll.

Pada tahun 1931 setelah lima tahun menimba ilmu di Makkah dan dirasa belum cukup, Kiai Suyuthi pergi melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Sedayu Gresik yang berada diasuhan KH. Munawwir. Lalu, Kiai Suyuthi kembali ke Pesantren Tebuireng pada tahun 1933 untuk mengabdikan dirinya kepada KH. Hasyim Asy’ari, karena ketekunan dan kedalaman ilmunya, beliau sering diamanahi untuk menjadi badal (wakil/pengganti) Kiai Hasyim Asy’ari sendiri.

Mendirikan Pesantren

Setelah selesai belajar di pondok pesantren, kemudian KH. Suyuthi Abdul Qodir kembali ke kampung halaman dan memutuskan untuk membangun sebuah pesantren yang bernama Pesantren Raudlatul Ulum yang berlokasi di Desa Guyangan, Trangkil, Pati.

Bagi beliau tujuan dari mendirikan pesantren adalah untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang memegang ajaran ahlusunnah wal jamaah sehingga dapat mengharumkan nama bangsa. Selain itu, membangun pesantren merupakan kesempatan bagi beliau untuk membagi ilmunya kepada orang lain. Seiring dengan perkembangan zaman, pesantren yang didirikan oleh KH. Suyuthi semakin menampakkan namanya di dunia pendidikan.

KH. Suyuthi juga dibantu beberapa sahabat untuk mengembangkan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, antara lain KH. Abdul Jamil, KH. Yusuf, KH. Abdurrahman, KH. Maimun, KH. Ismail, KH. Abdullah Zaini, KH. Bisri, KH. Fauzi, dan lain-lain.

Saat ini, madrasah dan pesantren berkembang pesat, sehingga kurang lebih ada 6000 (enam ribu) santri yang belajar di lembaga pendidikan ini.

 

Tokoh Masyarakat

KH. Suyuthi Abdul Qodir merupakan sosok yang tidak pandang bulu dalam berteman dan juga pandai bergaul dengan siapapun. Oleh karena itu, beliau memiliki banyak teman dari kalangan masyarakat biasa sampai tokoh ulama yang terkenal.

Diantara tokoh yang akrab dengan beliau antara lain KH. Bisyri Syansuri dari Jombang, KH. Mahfudz Kajen dan KH. Bisri Mustofa dari Rembang. Bagi beliau semua orang itu sama derajatnya di hadapan Allah namun yang membedakan hanyalah ketaqwaannya saja.

Di mata masyarakat, KH. Suyuthi dikenal sebagai orang yang arif dan bijaksana atau bisa dibilang KH. Suyuthi merupakan “Rahmatal lil’alamin”. Ketika ada masalah beliau selalu menyelesaikan masalah tersebut dengan kepala dingin dan tidak pernah menggunakan emosi.Tidak sedikit masyarakat yang datang menemui KH. Suyuthi untuk meminta pendapat dalam menyelesaikan permasalahannya.

Pernah dikisahkan pada suatu malam, KH. Suyuthi diundang oleh salah satu masyarakat sekitar untuk menghadiri acara hajatan. Kebetulan pada waktu itu sedang terjadi bencana banjir dan jalanan tergenang oleh air. Penduduk tersebut mengira bahwa KH. Suyuthi tidak akan hadir. Tapi tak disangka, beliau datang dengan mengangkat sarungnya. Penduduk sekitar pun sangat terharu, karena mereka tidak pernah menyangka bahwa ulama besar seperti beliau mau menerjang banjir hanya untuk menghadiri acara hajatan tersebut.

Dalam sejarahnya, KH. Suyuthi adalah orang yang penyabar. Ada sebuah cerita, ketika beliau keliling pesantren untuk sekedar mengecek keadaan pesantren dan tanpa sengaja beliau melihat seorang guru yang salah dalam mengajar. Namun, beliau tidak langsung marah, melainkan beliau memanggil guru tersebut dan menjelaskan letak kesalahan tersebut.

Sebagai seorang ulama besar, KH. Suyuthi merupakan sosok teladan yang dapat dijadikan panutan. Banyak masyarakat yang sangat senang dan hormat kepada beliau. Hal itu dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat yang melintas di depan rumah beliau. Ketika mereka sedang melintas di depan rumah beliau, mereka turun dari kendaraannya dan menuntunnya sampai melewati rumah KH. Suyuthi.

Hal itu dilakukan ketika KH. Suyuthi ada di rumah maupun tidak ada di rumah dan sampai sekarang pun hal itu masih dilakukan. Kejadian itu adalah bukti keta’dziman dan kecintaan dari masyarakat sekitar terhadap KH. Suyuthi.

Begitu juga sosok KH. Suyuthi di dalam keluarga. Beliau merupakan sosok yang harmonis dan menyayangi keluarganya. KH. Suyuthi adalah seorang figur bapak yang hebat bagi putra-putrinya. Hal itu dapat dilihat dari cara beliau mendidik putra-putrinya hingga menjadi manusia yang hebat seperti beliau.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa KH. Suyuthi merupakan seorang ulama besar yang dapat dijadikan panutan dan teladan bagi masyarakat sampai sekarang. Karomahnya masih bisa dirasakan masyarakat sekitar hingga saat ini.

Peranan di Nahdlatul Ulama

Almaghfurlah memiliki peran besar di jamiyah Nahdlatul Ulama, khususnya NU Pati, yaitu ketika menjadi Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pati sejak tahun 1960 sampai wafatnya. Ia adalah simbol organisasi yang harus di hormati dan di junjung tinggi.

 

Sumber:

Penulis: Sulistiyani, alumnus Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan. Saat ini menjadi Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sunan Pandanaran Yogyakarta

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya