Biografi KH. Ahmad Maimun Adnan

 
Biografi KH. Ahmad Maimun Adnan

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Maimun Adnan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama

Kelahiran

KH. Ahmad Maimun Adnan lahir pada tanggal 22 Juli 1933 di Desa Tanggungan Baureno Bojonegoro. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, dari pasangan KH. Adnan dan Nyai Robi’ah. Saudara-saudara beliau diantaranya, Abdul Hamid, Umamah, Ahmad Maimun Adnan, Abdul Majid, Sholihah, Zaenah, M. Chozin dan Choiroh.

Ayah beliau merupakan seorang guru ngaji sekaligus pedagang tembakau yang sukses di desanya. Meskipun ayahnya sosok yang berpengaruh di Desa Tanggungan, tidak menjadikan Maimun kecil dikenal sebagai pribadi yang sombong sebaliknya ia dikenal sebagai pribadi yang lembut, mudah bergaul dan suka mengajak ngaji teman-teman sepermainannya. Seperti waktu itu, ketika Maimun tengah bermain kelereng didepan rumahnya dan mendengar suara adzan dari saung yang dibangun oleh Kiai Adnan, ia langsung berdiri dan meringkus kelereng yang tergeletak kemudian berkata pada temannya, “Ayo wes saiki awakmu melok aku sembayang sek, ben engkok aku diolehi dulin maneh ambek bapakku”.

Dua puluh teman Maimun hanya mengangguk dan mengikuti langkah maimun dari belakang. Kemudian di lain waktu, Maimun juga mengajak teman dekatnya yang bernama Darda’ untuk ikut mengaji dengannya. Ketika itu di Desa Tanggungan terdapat pagelaran pencak silat yang diisi dengan acara-acara pemujaan, Maimun dilarang untuk keluar oleh orang tuanya sehingga para teman-temannya mencari keberadaan Maimun saat itu.

Abu Darda’ teman Maimun mengetuk pintu rumah Maimun untuk mengajak ia keluar dan menonton, namun Maimun menolak dan berkata “Melok aku ngaji ae nak Deso kidul kono, engkok mulene ayo dolen maneh”. Di desa ini memang masih memegang tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka, sehingga saat itu Kiai Adnan yang salah satu dari alumni dari pondok pesantren ingin merubah kebiasaan dari masyarakat sekitar.

Beliau mendirikan sebuah saung atau langgar yang mana tempat ini diisi ngaji Qur’an setelah habis subuh dan ashar. Di saung atau langgar ini Kiai Adnan mempunyai sepuluh santri yang semuanya dari luar Desa Tanggungan. Dan di tempat ini juga pendidikan agama pertama Maimun kecil dilakukan.

Selain sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul, dikeluarga Maimun juga dikenal sebagai pribadi yang penurut, tidak banyak berbicara sehingga diantara para saudara-saudaranya, Maimun adalah anak yang sering dibawa oleh Kiai Adnan ketika mengisi pengajian di luar Desa Tanggungan. Kemudian menginjak usia 13 tahun, Maimun remaja harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi teman dan sekaligus gurunya meninggal dunia.

Usia dimana ketika iamenjadi satu-satunya kakak laki-laki tertua yang harus menggantikan posisi ayahnya. Disaat ia masih merasakan kesedihan, Maimun harus sudah siap menggantikan posisi ayahnya sebagai penanggung jawab atas adik-adik serta ibunya. Dikarenakan kakak perempuan tertuanya telah menikah dan kakak laki-lakinya meninggal dunia.

Diusia ini juga ia harus mampu membagi fikirannya untuk nasib dirinya sendiri dan untuk nasib keluarganya. Sehingga Maimun memutuskan untuk menunda keberangkatannya ke pondok pesantren, ia ingin membantu ibu nya terlebih dahulu mulai dari pengasuhan adik-adik nya sampai pada menggantikan ayah nya untuk turut serta menjual tembakau bersama Ahmad, adik dari Kiai Adnan atau paman dari Maimun.

Sementara saat itu perekonomian pasti keluarga Maimun hanya bergantung pada hasil pertanian, peternakan, serta tanaman bambu Kiai Adnan yang dikelolah oleh ibu Nyai Robi’ah.

Wafat

Faktor usia yang tidak lagi muda tidak menjadikan KH. Ahmad Maimun Adnan untuk mengurangi aktivitas beliau berdakwah di luar ataupun di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Ketika itu tepatnya pada hari Minggu tanggal 1 Februari 2015 KH. Ahmad Maimun Adnan harus diinfus karena beliau tidak mau makan dan tidak mau minum mengakibatkan gula darah beliau turun seketika.

Padahal sebelumnya beliau masih mengajar ngaji kitab di beberapa tempat, salah satunya pengajian kitab Al-Hikam yang diminta oleh para santri dan alumni, ketika itu KH. Ahmad Maimun Adnan bercerita bahwa beliau mendapatkan ijazah dari KH. Abdul Hadi dan Syekh Masduki Lasem bahwa KH. Ahmad Maimun Adnan boleh mengajar kitab Hikam jika usia beliau sudah menginjak 40 tahun.

Beliau juga berpesan kepada para santri dan para alumni untuk ikut menjalankan ijazah dari dua guru beliau, yaitu jika ingin mengajar kitab Al-Hikam, mereka juga harus pada usia 40 tahun. Dan pengajian itu adalah pengajian kitab kuning yang terakhir KH. Ahmad Maimun Adnan sampaikan kepada para santri dan alumni.

Pada hari Senin 16 Februari 2015 pukul 17.00 kondisi beliau semakin kritis, suhu tubuhnya sudah semakin dingin dan pukul 22.25 beliau menghembuskan nafas terakhir diusia 82 tahun. Sebelum KH. Ahmad Maimun Adnan meninggal, beliau berpesan kepada kedua putri yang tertua, yaitu Ibu Hj. Hakimatuz Zahidiyah dan Ibu Hj. Hatimah Maknunah bahwa “Sesungguhnya semua peninggalan dunia tidak akan pernah dibawa mati, hanya sifat arif, lapang dada dan sifat kekeluargaan yang akan diperhitungkan. Ndue dulur akeh, dunyo ojok digae rebutan. Lak isok podo ngelengno mas, mbak lan adek ayo podo ngelengno, Ben sesok nak akherat isok kumpul maneh”.

Keluarga

Pada tahun 1962 Nyai Robi’ah kedatangan saudaranya dari Desa Bungah Gresik yaitu KH. Chudlori beserta istrinya, yaitu Nyai Aisyah. KH. Chudlori ini suami dari Nyai Aisyah yang merupakan ponakan dari Nyai Robi’ah. Mereka datang ke Desa Tanggungan dengan tujuan meminta KH. Ahmad Maimun Adnan untuk bisa diambil menantu dan akan dinikahkan dengan Siti Hawwa.

Nyai Robiah menjelaskan bahwa Siti Hawwa adalah sosok yang hafal Al-Qur’an, sehingga beliau memutuskan untuk menerima lamaran dari KH. Chudlori yang merupakan sepupu ipar dari KH. Ahmad Maimun Adnan. Kemudian tepat pada tanggal 15 Agustus 1962 yang bertepatan dengan tanggal 14 Maulud 1894 KH. Maimun Adnan dan Ibu Siti Hawwa menikah di pondok pesantren Qomaruddin Bungah Gresik. Dari pernikahan tersebut KH. Ahmad Maimun Adnan dikaruniai 13 orang anak.

Pendidikan

KH. Ahmad Maimun Adnan Keberadaan seorang kiai yang mempunyai kharisma tinggi dihadapan santri maupun di mata masyarakat, tidak pernah terpisah dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kiai tersebut.

Wibawa dari seorang kiai di mata para santri dan masyarakat sering dikaitkan dengan sisi keilmuannya. Demikian pula KH. Ahmad Maimun Adnan, sebelum beliau merintis pondok pesantren Al-Ishlah, beliau terlebih dahulu belajar ilmu agama diberbagai pondok pesantren. Dari usia delapan tahun, Maimun kecil sudah diperkenalkan ilmu agama salah satunya adalah ilmu shorof.

Ilmu shorof adalah bagian dari ilmu nahwu yang menekankan kepada pembahasan bentuk kata meliputi cara pembacaannya, menulis sampai menghafal. Pembelajaran ini dilakukan secara langsung oleh ayah Maimun yaitu, Kiai Adnan. Karena menurut Kiai Adnan ilmu shorof merupakan dasar dari ilmu-ilmu agama sehingga jika Maimun dapat memahami ilmu shorof sama saja seperti Maimun juga memahami ilmu agama yang lain.

Menginjak usia sembilan tahun, Kiai Adnan mulai membatasi pergaulan Maimun kecil, dikarenakan kondisi desa Tanggungan saat itu masih banyak kemaksiatan, mulai dari percaya akan ilmu-ilmu perdukunan, minum-minuman keras serta terjadi pelecehan dimana-mana sehingga KH. Adnan merasa khawatir jika Maimun akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, pengasuhan nilai-nilai keagamaan sangat di tekankan oleh KH. Adnan kepada keluarganya, tak

terkecuali Maimun. Untuk menarik rasa simpati Maimun, KH. Adnan mempunyai cara tersendiri dalam pembelajaran, dimulai dengan seringnya Maimun diajak berkeliling ketika KH. Adnan diundang untuk mengisi pengajian sambil menyelipkan beberapa kata yang akan dihafalkan oleh Maimun atau dengan cara mengajak serta Maimun saat akan menjual tembakau ke kota dengan catatan Maimun harus mau untuk belajar kitab shorof.

Namun diusia tiga belas tahun, Maimun harus kehilangan sosok ayah sekaligus teman yang telah menemaninya selama ini. KH. Adnan berpulang ke Rahmatullah, Maimun remaja harus dihadapkan dengan dua pilihan yaitu yang pertama ia membantu ibu untuk mengasuh adik-adik serta menggantikan sosok ayah bagi keluarganya dan yang kedua ia harus memenuhi amanah KH. Adnan yang disampaikan kepada Nyai Robia’ah bahwa Maimun harus pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren. “Nak, bapak sampean tidak mewariskan harta, hanya buku-buku inilah yang ditinggalkan bapakmu. Lalu, jika kamu tidak bisa membaca, lalu siapa yang akan membaca?”

Setelah memikirkan hal tersebut keputusan Maimun remaja adalah membantu ibu nya terlebih dahulu untuk mengasuh adik-adiknya dan turut mengurus hasil pertanian, peternakan peninggalan KH. Adnan untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Kemudian di tahun 1948 menginjak usia 15 tahun akhirnya Maimun remaja dengan berat hati harus meninggalkan ibu serta adik-adiknya untuk pergi belajar ilmu agama, pesantren pertama yang dipilih adalah Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban yang pada saat itu tengah di pimpin oleh KH. Abdul Hadi.

KH. Abdul Hadi sendiri adalah teman seperjuangan dari KH. Adnan ayah dari Maimun selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Maskumambang Dukun Gresik. Selama menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Langitan Maimun menjalaninya dengan pulang pergi yang mana pada saat itu perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki dari rumah dan menyebrangi Bengawan Solo untuk sampai di pondok pesantren.

Ketika itu jarak yang ditempuh antara Desa Tanggungan dengan Pondok Pesantren Langitan adalah 65,2 Km. Kegiatan ini berlangsung hinggga Maimun menyelesaikan pendidikan MI selama 4 tahun. Setelah kelulusannya, Maimun memutuskan untuk menginap di Pondok Pesantren Langitan guna menyelesaikan pembelajaran kitab kuning yang tertinggal selama ia harus melakukan perjalanan pulang pergi. Sehingga setelah kelulusannya ia hanya pulang di hari kamis dan menginap dihari sabtu.

Kegiatan ini dinilai unik oleh salah satu guru Maimun di pondok pesantren, sehingga Maimun diberikan julukan Mislituko. Mislituko adalah julukan khusus yang diberikan KH. Anwar Jasri kepada Maimun yang saat itu sebagai santri yang sering tidur namun berprestasi. Menurut KH. Anwar Jasri Maimun adalah sosok yang bekerja keras bukan hanya untuk dirinya saja melainkan juga untuk keluarganya.

Seperti yang pernah KH. Anwar Jasri sampaikan kepada Maimun. “Masio wujud badane nak pondok, tapi ati lan pikirane tetep keri nak omah. Atine alus, dadi mesti ancen dikarekno gak digowo. Ibukmu pasti sehat lak awakmu yo sehat, ibukmu pasti seneng lak awakmu seneng, lan ibukmu pasti terus ndungakno masio awakmu lali ndungakno”.

Memang betul apa yang telah disampaikan oleh KH. Anwar Jasri bahwa Maimun adalah sosok yang mencintai keluarganya terbukti ketika masih menjadi santri Maimun sangat bekerja keras untuk tetap membantu ibu nya dengan cara membawa telur dari rumah yang akan ia jual terlebih dahulu di pasar, yang nantinya hasil penjualan telur itulah yang menjadi uang saku untuk Maimun ketika berada di pondok pesantren.

Selain itu ia juga sering kali membawa bekal jeruk nipis dan bunga melati untuk biaya membayar tambangan menyebrang Bengawan Solo demi menghemat biaya pengeluaran ibunya. KH. Anwar Jasri sangat bersimpati kepada Maimun karena kecerdasan dan ketanggapan nya dalam memahami suatu pelajaran, ia juga sangat memegang teguh nilai-nilai ketawadhu’an nya sebagai santrisehingga KH. Anwar Jasri menyuruh Maimun menggantikan beliau untuk mengajar kitab Imrithi yang saat itu telah mencapai bab Na’at.

Dan menurut KH. Anwar Jasri, Maimun telah berhasil memberikan pemahaman kepada santri-santri yang diajarnya. Karena keberhasilannya itu, KH. Anwar Jasri kembali memberikan Maimun beberapa kitab untuk menjadi guru di Jeramba komplek Pondok selatan, adapun kitab yang diajarkan Maimun diantaranya adalah Kitab Imriti, Kitab Alfiyah, Kitab Uqudul Juman, Kitab Ushul Fiqih.

Di tahun berikutnya, tepatnya tahun 1956 setelah menyelesaikan belajar mengajar selama delapan tahun di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, Maimun merasa bahwa pengetahuannya belum cukup sehingga ia memutuskan untuk kembali belajar, kali ini lokasi yang dipilih cukup jauh tepatnya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem Jawa Tengah yang saat itu tengah dipimpin oleh KH. Ma’sum.

Tujuan dari memilih Pondok Pesantren Al-Hidayah adalah untuk memperdalam pengetahuannya mengenai ilmu alat dan juga ilmu tasawuf. Dalam perjalanan ini Maimun tidak sendiri melainkan bersama dengan Mohammad Kholil Kuro yang merupakan sahabatnya yang telah bersamasama dari awal masuk pondok pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur.

Di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem, Ahmad Maimun Adnan berguru kepada tiga ulama besar Lasem sekaligus yaitu Syekh Masduki, KH. Baidhowi dan KH. Ma’sum. Ahmad Maimun Adnan belajar kitab-kitab kecil berupa Bidayatul Hidayah, dan Sulam Taufiq, kepada KH. Ma’sum setelah sholat Ashar. Kemudian belajar kitab Jam’ul Jawami kepada KH. Baidhowi setelah sholat Dhuhah. Dan yang terakhir beliau belajar kepada Syekh Masduki mengenai kitab Ushul Fiqih, Balaghoh, Mantiq, Al-Hikam dan Kitab Tafsir, yang dilakukan hampir setiap hari.

Karena KH. Ahmad Maimun Adnan mengakui bahwa beliau sangat mengidolakan sosok Syekh Masduki. Setelah lima tahun di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem dan berhasil mengkhatam kan kitab-kitab yang menjadi impiannya, perjalanan Maimun kembali dilakukan guna menambah pengetahuan keagamaannya.

Dan kali ini pondok pesantren yang dipilih adalah Pondok Pesantren Poncol- Beringin Salatiga Jawa Tengah karena menurutnya pondok pesantren ini terkenal pengajian kilatan kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga ia tertarik karena dengan waktu singkat ia dapat mengkhatamkan dua kitab hadist tersebut.

Sehingga ia hanya butuh waktu satu tahun untuk mengkhatamkan kitab hadist Shahih Bukhori dan Shahih Muslim kepada guru beliau yang bernama KH. Ahmad Asy’ari di tahun 1961. Setelah perjalanan panjang yang di lalui oleh KH. Ahmad Maimun Adnan, beliau memutuskan kembali ke Desa Tanggungan yang mana di desa kelahirannya tersebut terdapat pondok pesantren yang telah dirintis oleh KH. Adnan. Sebagai penerus pemimpin pondok pesantren, KH. Ahmad Maimun Adnan harus ekstra mencurahkan tenaga serta pikiran demi kemajuan pondok pesantren ayahnya yang bernama Tanwirul Qulub.

Saat KH. Ahmad Maimun Adnan masih belajar di pondok pesantren kepempinan digantikan oleh KH. Abu Darda’ yang tidak lain adalah paman ipar beliau, suami dari bibi nya yang bernama Choiroh. Perubahan pertama yang KH. Ahmad Maimun Adnan lakukan adalah dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyyah dan mendirikan pondok putri di pondok pesantren Tanwirul Qulub.

Mendirikan Pesantren

Bermula dari keinginan beberapa santri untuk menimba ilmu keagamaan, berguru dan mengaji kitab kuning (at-Turaath al-Islamy) kepada KH. Ahmad Maimun Adnan secara sorogan dengan sistem halaqah secara sederhana. Pengajian halaqah ini kemudian terus berkembang dari tahun ke tahun, begitu juga dengan jumlah santri yang mengaji. Semakin banyak santri yang menetap atau mondok dan mengaji di tempat KH. Ahmad Maimun Adnan, semakin tidak memadai tempat tinggal atau asrama pondokan untuk para santri.

Dengan semangat menuntut ilmu keagamaan dalam rangka Tafaqquh fi ad-Diin dan semangat berkorban dan berjuang Li i’laa Kalimatillah meninggikan kalimah Allah, maka atas inisiatif para santri, mereka mendirikan gubuk gubuk sederhana atau pondokan sederhana di sekitar rumah KH. Ahmad Maimun Adnan supaya dapat menetap dan mondok serta menimba ilmu keagamaan dari sang Kyai.

Melihat perkembangan pengajian halaqah yang sedemikan rupa, para santri berinisiatif untuk mengadakan musyawarah diantara mereka, yang intinya bahwa mereka memerlukan wadah atau Pondok Pesantren yang dapat digunakan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran yang berkualitas dalam rangka Tafaqquh fi ad-Diin dan sebagai tempat berjuang Li i’laa i Kalimatillah meninggikan kalimah Allah. Keinginan para santri tersebut bahwa mereka memerlukan wadah Pondok Pesantren sudah bulat dan bahwa pendirian Pondok Pesantren sudah merupakan suatu kebutuhan.

Dengan niatan tulus ikhlas dan mencari ridha Allah, para santri itu kemudian sowan dan matur kepada KH. Ahmad Maimun Adnan bahwa mendirikan Pondok Pesantren sebagai tempat pendidikan dan pengajaran yang berkualitas dalam rangka Tafaqquh fi ad-Diin dan sebagai tempat berjuang Li i’laa i Kalimatillahmeninggikan kalimah Allah sudah merupakan suatu kebutuhan guna meningkatkan mutu dan kebaikan dalam menuntut ilmu pengetahuan.

Setelah mendengar penjelasan para santri bahwa mendirikan Pondok Pesantren sudah merupakan suatu kebutuhan guna mencapai yang lebih baik, maka pada akhirnya KH. Ahmad Maimun Adnan menyetujui untuk mendirikan Pondok Pesantren sebagaimana keinginan para santri tersebut. Sebagai catatan bahwa pada waktu itu, KH. Ahmad Maimun Adnan adalah ketua Yayasan Pondok Pesantren “Qomaruddin” Bungah Gresik. Pada tahun 1962, beliau bersama teman-teman beliau mendirikan Madrasah Tsanawiyyah Assa’adah Bungah, kemudian menyusul mendirikan Madarasah Aliyah Assa’adah Bungah.

Beliau juga yang mempunyai inisiatif dan gagasan serta menjadi pioneer yang mempelopori pendirian Perguruan Tinggi (STAI) Qomaruddin Bungah. Sebagai orang yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan mbah Kyai Qomaruddin, beliau selalu mengajarkan untuk memberikan sesuatu yang baik kepada masyarakat, memberikan kontribusi yang manfaat kepada masyarakat dan berjasa, tetapi jangan minta jasa dan mengharapkan penghargaan. Sebab setiap yang berjasa, pasti akan mendapatkan jasa dan penghargaan dengan sendirinya.

Itulah sebagian dari kontribusi dan jasa yang pernah diberikan oleh KH. Ahmad Maimun Adnan di dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Sebagai ketua Yayasan Pondok Pesantren “Qomaruddin” Bungah dan karena memang di Bungah sudah berdiri Pondok Pesantren “Qomaruddin”, Beliaupun bersilaturrahim dan sowan kepada KH. M. Sholih (mbah Sholih) yang pada waktu itu sebagai pemangku Pondok Pesantren “Qomaruddin” Bungah untuk mengutarakan niatan dan keinginan para santri yang mengaji di tempat beliau dalam mendirikan Pondok Pesantren. KH. M. Sholih (mbah Sholih) setelah mendengar penjelasan dari KH. Ahmad maimun Adnan, beliau menyetujui pendirian Pondok Pesantren oleh KH. Ahmad Maimun Adnan guna saling melengkapi dan dapat melakukan synergi di dunia pendidikan dan pengajaran di desa Bungah.

Akhirnya pada tahun 1982, secara resmi Pondok Pesantren al-Ishlah berdiri di desa Bungah, kecamatan Bungah, kabupaten Gresik Jawa Timur. Pondok Pesantren al-Ishlah adalah merupakan kerabat dan keluarga dari Pondok Pesantren “Qomaruddin” Bungah, meski masing masing mempunyai karakter dan kepribadian sendiri sendiri. 

Selain kegiatan- kegiatan yang telah disebutkan diatas, KH. Ahmad Maimun Adnan juga aktif mengisi beberapa pengajian rutin yang diadakan di tiga tempat, yaitu:

1. Majelis Ta’lim di Dusun Dimoro Desa Babakbowo Secara umum pada waktu itu di tahun 1965 kehidupan beragama di Kabupaten Gresik sangat terpengaruh oleh situasi politik pasca peristiwa G-30 S/PKI 1965. Secara psikologis, akibat dari peristiwa itu keadaan sosial budaya masyarakat di daerah-daerah juga tertekan. Didaerah ini pun mulai menggalakkan kegiatan-kegiatan keagamaaan dengan cara mengadakan pengajian yang diisi oleh KH. Ahmad Maimun Adnan.

Dimulai dari pukul 16.00 sampai habis sholat Maghrib, kitab yang diajarkan adalah Terjemahan dari Kitab Sulam Safinah. Kitab Sulam Safinah karya Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al-hadhrami dipilih oleh KH. Ahmad Maimun Adnan guna memperkenalkan dasar-dasar agama Islam.36 Diawali dengan pembahasan seputar tauhid, mencakup pembahasan sifat-sifat Allah SWT. Dan diakhiri dengan pembahasan tentang hal-hal yang tidak membatalkan puasa ketika masuk kedalam anggota tubuh.

2. Pengajian Bulanan Kitab Kuning (Untuk Umum) di Pondok Pesantren Al-Ishlah bagian selatan Pengajian kitab kuning ini dilaksanakan setiap satu bulan sekali di hari Kamis legi. Pengajian ini diikuti oleh masyarakat disekitar pondok pesantren Al-Ishlah, santri kalong yang berasal dari Desa Tanggungan Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro, desa Kebomelati Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban, dan dari Kota Malang.

Adapun materi yang diambil dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang menerangkan tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan penyakit hati, pengobatannya dan cara mendidik hati.

Dalam Pengajian para santri kalong ataupun masyarakat sekitar tidak dipungut biaya padahal pengajian ini dilakukan atas usulan masyarakat sekitar yang ingin menambah pengetahuan dalam hal kajian agama Islam. Sebelum kegiatan pengajian dimulai, KH. Ahmad Maimun Adnan meminta kepada seluruh santri yang mengikuti pengajian ini untuk mengawali kegiatan dimulai dengan istighosah yang dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Maimun Adnan dengan tujuan agar pengajian ini diberikan kelancaran dan kemanfaatan.

3. Ketua Umum Ta’mir Masjid jami’ Kiai Gede Bungah Dalam karir nya beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ta’mir Masjid jami’ Kiai Gede Bungah, sejak tahun 1977 sampai 2009 dalam masa jabatan nya beliau selalu mempunyai program andalan diantaranya perenovasian masjid di tahun 1995-1996, kemudian program pengajian yang dilaksanakan khusus di Bulan ramadhan setelah sholat ashar dan adanya pengajian malam kamisan.

Peranan di Nahdlatul Ulama

sepulang dari pondok pesantren Poncol Beringin Salatiga Jawa Tengah KH. Ahmad Maimun Adnan, pulang kembali ke kampung halaman, untuk berdakwah sekaligus menikah. KH. Ahmad Maimun Adnan adalah figur yang bijaksana dan lembut hatinya. Terbukti, pernah suatu hari ada satu rombongan mobil datang ke ndalem beliau untuk bersilaturrahmi.

Ketika itu rombongan tersebut diberikan jamuan seperti biasa, ada teh dan beberapa hidangan lainnya bertepatan dengan hari kamis, satu rumah KH. Ahmad Maimun Adnan tengah menjalankan ibadah puasa sunnah hari kamis, namun karena beliau sangat menghargai dan menghormati tamu tersebut beliau meminta kepada istrinya untuk dipersiapkan satu gelas buthek 33 kosong.

Ibu Hawwa (Istri KH. Ahmad Maimun Adnan) sempat bingung untuk apa gelas tersebut, namun KH. Ahmad Maimun Adnan berbisik kepada ibu hawwa “aku sakaken ambek dulurku, wedi sungkan lak ape mangan mergo aku poso. Padahal kabeh ketokane luwe”.

Selain berkecimpung di pondok pesantren Al-Ishlah, KH. Ahmad Maimun Adnan juga berkarir di organisasi NU (Nahdlatul Ulama) bahkan beliau sempat menjabat sebagai Ketua PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) anak cabang Bungah tahun 1964. Setelah kesuksesannya menjadi ketua PERGUNU KH. Ahmad Maimun Adnan kembali dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif anak cabang Bungah Gresik pada tahun 1966.

Pada tahun 1968 KH. Ahmad Maimun Adnan kembali ditunjuk untuk menjadi ketua Syuriah di Majelis wakil Cabang Bungah Gresik, namun beliau menolak karena banyak anggota lain yang lebih mampu untuk memimpin sehingga beliau memutuskan untuk memilih menjadi sekertaris Syuriah di Majelis wakil Cabang Bungah Gresik

Pada tahun 2000 KH. Ahmad Maimun Adnan diminta untuk menggantikan posisi Ketua di Majelis Wakil Cabang Bungah Gresik, yang saat itu diisi oleh KH. Muhammad Zubair Abdul Karim, dikarenakan KH. Muhammad Zubair Abdul Karim meninggal sehingga seluruh anggota sepakat bahwa mengangkat KH. Ahmad Maimun Adnan sebagai ketua adalah keputusan yang tepat, karena beliau sudah banyak pengalaman yang mampu memberikan pelajaran bagi para generasi penerusnya.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya