Biografi KH. Warson Munawwir

 
Biografi KH. Warson Munawwir

Daftar Isi Profil KH. Warson Munawwir

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat
1.3       Riwayat Keluarga

 

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Kisah Belajar Beliau
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak
3.2      Murid-murid

4          Jasa dan Karya Beliau
4.1       Jasa-jasa Beliau 
4.2       Karya-karya Beliau

5          Kisah Teladan
5.1       Menjadi Guru Muda
5.2       Sosok Suami dan Ayah Penyayang

6      Perjalanan Politik

7      Sumber


1     Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1    Lahir

KH. Ahmad Warson Munawwir lahir pada hari Jum’at Pon tanggal 20 Sya’ban 1353 H atau 30 November 1934M di Pondok Pesantren Al Munawwir. KH. Ahmad Warson Munawwir merupakan putra dari pasangan KH. Munawwir dengan Nyai Hj. Khusnul Khotimah. Sejak Mbah Munawwir wafat pada 1942 M

1.2   Wafat

KH. Ahmad Warson Munawwir wafat pukul 06.00 WIB hari Kamis, 8 Jumadil Akhir 1434 H atau 18 April 2013. Beliau meninggal dunia karena sakit serangan jantung. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Al Munawwir Dongkelan, Bantul, Yogyakarta.

Dikisahkan, beberapa hari sebelum wafat, KH. Ahmad Warson Munawwir bermimpi ketemu dengan kakak iparnya, KH. Ali Maksum. Dalam mimpinya, KH. Ali Maksum mengajak beliau ikut dengannya. Bagaimana tidak, sebagai wujud takzim pada gurunya, beliau mengiyakan untuk ikut.

1.3   Riwayat  Keluarga

Pada 1970 M, KH. Ahmad Warson menikah dengan Nyai Hj. Khusnul Khotimah, lalu mempunyai dua anak yaitu H. M Fairus Warson dan Hj. Qory Aina, keduanya merupakan Hafidz (Penghafal Al Quran). KH. Ahmad Warson Munawwir dikenal sebagai penyusun kamus Arab-Indonesia terlengkap dengan tebalnya mencapai 1634 halaman yang dinamai Kamus Al Munawwir. Disusun dari saat masih menjadi santri KH. Ali Maksum yang menjadi guru besar di Pesantren Krapyak sekaligus kakak ipar beliau.


2    Sanad Pendidikan

KH. Ahmad Warson Munawwir kecil, beliau memulai pendidikannya dengan belajar segala keilmuan yang ada di pesantren langsung kepada kakak iparnya, yaitu KH. Ali Maksum.

Pendidikan yang diterima KH. Ahmad Warson Munawwir membuahkan hasil yang baik. Di usianya yang baru 9 tahun beliau sudah hafal nadzom Alfiyyah Ibnu ‘Aqil. Dua tahun kemudian, atau tepatnya ketia beliau berusia 11 tahun, beliau mulai ikut mengajar di Pesantren Al-Munawwir dengan usia santri yang diajarnya rata-rata lebih tua darinya. Kala itu, KH. Ahmad Warson Munawwir mengajar Nahwu, Sharaf, Bahasa Inggris, dan Tarikh.

2.2   Guru Beliau

KH. Ali Maksum


3    Penerus Beliau

3.1    Anak-anak Beliau

  1. H. M Fairus Warson
  2. Hj. Qory Aina

3.2   Murid-murid Beliau

  1. KH. Habib Syakur
  2. KH Munawwir A.F
  3. KH. Ghazalie  Masroeri
  4. KH.  Said Aqil Siradj
  5. KH Muchid
  6. Nyai Hj. Duroh Nafisah
  7. Nyai Hj. Luthfiyah


4    Jasa dan Karya Beliau

4.1   Jasa-jasa Beliau

Mendirikan Komplek Pesantren Putri

Sebelum mendirikan komplek Pesantren Putri, KH. Ahmad Warson Munawwir membuka pengajian terbuka untuk takhosshus bagi setiap santri komplek manapun di rumahnya setiap hari, pukul 07.00 hingga pukul 11.00. Pelajaran yang dibahas adalah Pelajaran Bahasa Arab. 

Semakin hari semakin banyak yang mengikuti pengajian, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan komplek pesantren putri, tempat tersebut tersebut diberi nama komplek Q.

Seiring berjalannya waktu, KH. Ahmad Warson Munawwir akhirnya memfokuskan komplek pesantren yang diasuhnya untuk program Madrasah Diniyyah dan Tahfidzul Qur’an. Madrasah diniyyah dibimbing langsung oleh beliau, sedangkan tahfidzul Qur’an oleh istrinya, Bu Nyai Hj. Husnul Khotimah.

Semakin lama komplek Q semakin banyak diminati. Kini jumlah santriwati Komplek Q tahun 2014 sebanyak 320 santriwati yang berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Komplek Q juga telah mencetak puluhan generasi hafidzoh al-Qur’an baik bil-ghoib maupun bi an-nadzhri.

Komplek Q  berada kira – kira 250 m dari Al-Munawwir Pusat. Bangunannya berada diantara Komplek Nurussalam dan Komplek L. Baik Komplek Q, Komplek Nurussalam maupun Komplek L merupakan bagian dari Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

4.2   Karya-karya Beliau

Menurut penuturan KH. Habib Syakur, santri alumni Pondok Pesantren Krapyak, mengatakan salah satu karya fenomenal KH. Ahmad Warson Munawwir adalah dengan Kamus Al-Munawwir, kamus tersebut dicetak pertama kali pada 1976 masih dengan tulisan tangan dan baru sampai dengan huruf dzal.

Sementara, santri alumni lainnya yang pernah menemani Mbah Warson mengungkapkan, kamus tersebut dirampungkan selama 15 tahun. Dengan asumsi bahwa kamus selesai ditulis pada 1975, maka bisa diperkirakan penulisannya telah dimulai sejak 1960 ketika almarhum berusia 26 tahun atau bahkan jauh sebelumnya.

Kamus Al-Munawwir ditulis Mbah Warson ditulis dalam bimbingan KH. Ali Maksum. Tidak keliru apabila dalam kamus tertulis nama KH. Ali Maksum sebagai pentashihnya. Selama penulisan kamus, KH. Ahmad Warson Munawwir menggunakan metode setoran dalam memeriksakan naskah kamusnya kepada KH. Ali Maksum. Setiap kali menyelesaikan beberapa halaman untuk kamusnya, beliau membawa naskah tersebut kepada KH. Ali Maksum yang lantas memeriksanya sambil minta dipijit. Begitu seterusnya hingga kamus tersebut selesai dikerjakan.

Dalam menyusun kamus, KH. Ahmad Warson Munawwir menggunakan berbagai kamus dan kitab sebagai referensi. Dengan ketekunannya tersebut Al-Munawwir pun berhasil menjadi kamus klasik dengan variasi kata yang kaya. Jika dalam halaman pendahuluan kamusnya KH. Ahmad Warson Munawwir menuliskan harapannya agar Al-Munawwir dapat “membantu mereka yang bermaksud menggali mutiara-mutiara berharga dalam kitab-kitab berbahasa Arab”, maka dengan kualitas yang dimilikinya, kini, dengan tak kurang percaya diri bisa dikatakan tujuan itu telah berhasil dicapai. Akhirnya Kamus setebal 1634 halaman itu menjadi satu diantara peninggalan keilmuan KH. Ahmad Warson Munawwir.


5    Kisah Teladan

5.1    Menjadi Guru Muda

Sebagai pengajar, Mbah Warson muda menjadi guru yang simpatik karena kecakapan dan keramahannya di mata para santrinya. Di usia belia, beliau telah memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mengajarkan beberapa mata pelajaran. Di luar kelas pun, beliau menjadi kawan bermain yang egaliter bagi segenap santri.

Di Pondok Pesantren Krapyak kala itu, Mbah Warson mengampu mata pelajaran Nahwu, Shorof, dan Bahasa Inggris. Di samping itu, karena pengetahuannya yang luas, beliau juga mengajar Tarikh.

Mbah Warson dikenal sebagai guru yang sabar dan dapat menerangkan materi pelajaran penyampaian yang mudah dipahami. Seperti halnya diungkapkan oleh KH Munawwir A.F., alumni Pondok Pesantren Krapyak, “Saya masih ingat tentang materi isim mausul yang merupakan bagian tersulit namun beliau mampu menerangkan sehingga mudah dimengerti.”

Lantaran usia beliau yang masih sebaya dengan santri-santri yang diajarnya pada saat itu,  di luar kelas Mbah Warson kerap kali mengajak para santri untuk bermain sepak bola dan badminton.

5.2   Sosok Suami dan Ayah Penyayang

Kiai Warson merupakan sosok suami dan ayah penyayang. Saking sayang dan cintanya kepada istri dan anak, seringkali beliau bangun tengah malam saat putra putrinya yang masih dalam susuan merengek, untuk sekedar menggantikan popok atau menimang hingga mereka tidur lagi.

Jika istrinya bepergian dan Kiai tidak dapat menemani, maka beliau akan menghubunginya, menanyakan kabar dan keberadaan istrinya. Wujud perhatian dan kasih sayang pada anak-anaknya pun tampak ketika beliau tidak memperbolehkan keduanya untuk belajar mengendarai motor. Tapi beliau menyuruh keduanya untuk langsung belajar mengendarai mobil.


6    Perjalanan Politik

Dalam perjalanan karier politiknya, KH. Ahmad Warson Munawwir pernah terlibat dalam beberapa organisasi hingga partar politik. Beliau memulai kariernya dengan menjadi ketua GP Ansor wilayah Yogyakarta periode 1965- 1968. Kemudian beliau juga pernah menjadi ketua Gemuis (Gerakan Muda Islam) Yogyakarta. Tahun 1977-1982, beliau dipercaya duduk di kursi DPRD DIY mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Setelah keluar dari kepengurusan PPP, beliau akhirnya memprakarsai berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Yogyakarta dan berkedudukan sebagai Dewan Syura.

Ketika banyak masalah di internal PKB, beliau kemudian keluar. Bersama kiai-kiai lain, beliau lantas membidani lahirnya Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Selain aktif di berbagai organisasi politik. Beliau juga pernah tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat cabang Yogyakarta. Harian Duta Masyarakat merupakan koran milik NU yang didirikan tahun 1953.

 

Sumber

https://www.almunawwir.com/
https://mangsantri.wordpress.com/

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya