Biografi KH. Warson Munawwir

 
Biografi KH. Warson Munawwir

Daftar Isi Profil KH. Warson Munawwir

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Komplek Pesantren Putri
  6. Karier
  7. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Ahmad Warson Munawwir atau yang kerap disapa dengan Mbah Warson lahir pada hari Jum’at Pon tanggal 20 Sya’ban 1353 H atau 30 November 1934M di Pondok Pesantren Al Munawwir. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Munawwir dengan Ny. Hj. Khodijah (Suistiyah).

Wafat

KH. Ahmad Warson Munawwir wafat pukul 06.00 WIB hari Kamis, 8 Jumadil Akhir 1434 H atau 18 April 2013. Beliau meninggal dunia karena sakit serangan jantung. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Al Munawwir Dongkelan, Bantul, Yogyakarta.

Dikisahkan oleh Nyai Khusnul, beberapa hari sebelum wafat, Mbah Warson bercerita padanya bahwa beliau mimpi bertemu dengan kakaknya, almarhum KH. Ali Maksum. Dalam mimpinya, Kang Ali, begitu ungkapnya, mengajak beliau ikut dengannya. Bagaimana tidak, sebagai wujud takzim pada gurunya, beliau mengiyakan untuk ikut. Kini Mbah Warson telah berkumpul bersama para pendahulu, leluhur serta guru-guru.

Keluarga

Pada tahun 1970, KH. Ahmad Warson Munawwir melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Khusnul Khotimah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai dua anak, M.Fairuz dan Qorry Aina.

Pendidikan

KH. Ahmad Warson Munawwir kecil, beliau memulai pendidikannya dengan belajar segala keilmuan yang ada di pesantren langsung kepada kakak iparnya, yaitu KH. Ali Maksum.

Pendidikan yang diterima KH. Ahmad Warson Munawwir membuahkan hasil yang baik. Di usianya yang baru 9 tahun beliau sudah hafal nadzom Alfiyyah Ibnu ‘Aqil. Dua tahun kemudian, atau tepatnya ketia beliau berusia 11 tahun, beliau mulai ikut mengajar di Pesantren Al-Munawwir dengan usia santri yang diajarnya rata-rata lebih tua darinya. Kala itu, KH. Ahmad Warson Munawwir mengajar Nahwu, Sharaf, Bahasa Inggris, dan Tarikh.

Mendirikan Komplek Pesantren Putri

Sebelum mendirikan komplek Pesantren Putri, KH. Ahmad Warson Munawwir membuka pengaosan terbuka untuk takhosshus bagi setiap santri komplek manapun di rumahnya setiap hari, pukul 07.00 hingga pukul 11.00. Pelajaran yang dibahas adalah Pelajaran Bahasa Arab. 

Semakin hari semakin banyak yang mengikuti pengajian, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan komplek pesantren putri, tempat tersebut tersebut diberi nama komplek Q.

Seiring berjalannya waktu, KH. Ahmad Warson Munawwir akhirnya memfokuskan komplek pesantren yang diasuhnya untuk program Madrasah Diniyyah dan Tahfidzul Qur’an. Madrasah diniyyah dibimbing langsung oleh beliau, sedangkan tahfidzul Qur’an oleh istrinya, Bu Nyai Hj. Husnul Khotimah.

Semakin lama komplek Q semakin banyak diminati. Kini jumlah santriwati Komplek Q tahun 2014 sebanyak 320 santriwati yang berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Komplek Q juga telah mencetak puluhan generasi hafidzoh al-Qur’an baik bil-ghoib maupun bi an-nadzhri.

Komplek Q  berada kira – kira 250 m dari Al-Munawwir Pusat. Bangunannya berada diantara Komplek Nurussalam dan Komplek L. Baik Komplek Q, Komplek Nurussalam maupun Komplek L merupakan bagian dari Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Karier

Dalam perjalanan kariernya, KH. Ahmad Warson Munawwir pernah terlibat dalam beberapa organisasi hingga partar politik.

Beliau memulai kariernya dengan menjadi ketua GP Ansor wilayah Yogyakarta periode 1965- 1968. Kemudian beliau juga pernah menjadi ketua Gemuis (Gerakan Muda Islam) Yogyakarta. Tahun 1977-1982, beliau dipercaya duduk di kursi DPRD DIY mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Setelah keluar dari kepengurusan PPP, beliau akhirnya memprakarsai berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Yogyakarta dan berkedudukan sebagai Dewan Syura.

Ketika banyak masalah di internal PKB, beliau kemudian keluar. Bersama kiai-kiai lain, beliau lantas membidani lahirnya Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Selain aktif di berbagai organisasi politik. Beliau juga pernah tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat cabang Yogyakarta. Harian Duta Masyarakat merupakan koran milik NU yang didirikan tahun 1953.

Karya-Karya

Menurut penuturan KH. Habib Syakur, santri alumni Pondok Pesantren Krapyak, mengatakan salah satu karya fenomenal KH. Ahmad Warson Munawwir adalah dengan Kamus Al-Munawwir, kamus tersebut dicetak pertama kali pada 1976 masih dengan tulisan tangan dan baru sampai dengan huruf dzal.

Sementara, santri alumni lainnya yang pernah menemani Mbah Warson mengungkapkan, kamus tersebut dirampungkan selama 15 tahun. Dengan asumsi bahwa kamus selesai ditulis pada 1975, maka bisa diperkirakan penulisannya telah dimulai sejak 1960 ketika almarhum berusia 26 tahun atau bahkan jauh sebelumnya.

Kamus Al-Munawwir ditulis Mbah Warson ditulis dalam bimbingan Mbah Ali. Tidak keliru apabila dalam kamus tertulis nama Mbah Ali Maksum sebagai pentashihnya. Selama penulisan kamus, KH. Ahmad Warson Munawwir menggunakan metode setoran dalam memeriksakan naskah kamusnya kepada Mbah Ali Maksum. Setiap kali menyelesaikan beberapa halaman untuk kamusnya, beliau membawa naskah tersebut kepada Mbah Ali Maksum yang lantas memeriksanya sambil minta dipijit. Begitu seterusnya hingga kamus tersebut selesai dikerjakan.

Dalam menyusun kamus, KH. Ahmad Warson Munawwir menggunakan berbagai kamus dan kitab sebagai referensi. Dengan ketekunannya tersebut Al-Munawwir pun berhasil menjadi kamus klasik dengan variasi kata yang kaya. Jika dalam halaman pendahuluan kamusnya KH. Ahmad Warson Munawwir menuliskan harapannya agar Al-Munawwir dapat “membantu mereka yang bermaksud menggali mutiara-mutiara berharga dalam kitab-kitab berbahasa Arab”, maka dengan kualitas yang dimilikinya, kini, dengan tak kurang percaya diri bisa dikatakan tujuan itu telah berhasil dicapai.

Akhirnya Kamus setebal 1634 halaman itu menjadi satu diantara peninggalan keilmuan KH. Ahmad Warson Munawwir.

Sumber: https://www.almunawwir.com/