Lebaran Kupat: Budaya Teologis Muslim Indonesia

 
Lebaran Kupat: Budaya Teologis Muslim Indonesia

LADUNI.ID, Jakarta - Tradisi lebaran di beberapa daerah Indonesia masing-masing mempunyai ciri khas sendiri dan bermacam-macam cara untuk menyambut kemenangan Hari Raya Idul Fitri, di Indonesia khususnya di pulau Jawa mempunyai 2 (dua) tradisi lebaran, yaitu lebaran Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Lebaran Hari Raya Idul Fitri seperti serentak dilakansakan sesuai ketentuan Pemerintah yang sudah di umumkan tanggal dan hari Raya Idul Fitri secara resmi kemudian seminggu setelahnya muslim di Indonesia khususnya yang berada di pulau Jawa merayakan lebaran ketupat.

Budaya kupatan atau Riyoyo Kupat (bahasa Jawa) adalah budaya yang sudah lama ada di Jawa, bahkan sejak masa kejayaan Hindu dan Budha. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi Kupatan berakulturasi dengan tradisi Islam. Dan hampir setiap daerah memiliki ke khas-an hari raya ketupat atau raya kupat.

Dalam Hadis Imam Muslim dalam Shahih Muslim nomor 1991 menyatakan bahwa: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seolah-olah puasa setahun.” Hadis inilah yang mendasari masyarakat muslim di Indonesia untuk melaksanakan puasa sunah enam hari dibulan syawal lalu kemudian mengakulturasikan tradisi selametan dalam bentuk “Lebaran kupat atau hari raya kupat”.

Lebaran kupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, saat itu, beliau memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim, sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari itu, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua, sebagai bentuk silaturrahmi dan simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN