Biografi Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A, Ph.D

 
Biografi Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A, Ph.D

Riwayat dan Kelahiran
Prof Dr K Yudian Wahyudi lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 1960. Bapaknya adalah tentara zaman revolusi yang ditugaskan pemerintah di Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 1948, dan dia lahir di sana. Tetapi, karena Yudian nakal, suka tawuran, dia ‘dibuang’ ke pesantren. Alasannya adalah sebetulnya bapaknya ingin mondok ke Termas, tetapi orang tuanya tidak mampu. Jadi, nggak jadi, akhirnya dialah yang dimasukkan ke sana.

Masa Pendidikan
Beliau di Pondok pesantren Termas sejak usia 12 tahun dan seperti anak yang ‘dibuang.’ Sebelumnya, beliau belajar mengaji di Balikpapan, Kalimantan Timur, tetapi belum bisa berbahasa Arab. Mulai bisa bahasa Arab, sejak berada di Termas. Setelah selesai di Termas, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak selama satu tahun, antara 1978-1979. Dari Krapyak, beliau masuk Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang Universitas Islam Negeri–Red), merangkap kuliah di Fakultas Filsafat UGM.

Tahun 1988, Menteri Agama Munawir Sjadzali membuat program Pembibitan Calon Dosen IAIN se-Indonesia. Orang yang dipilih syaratnya, IP memenuhi syarat sebagai dosen, bisa bahasa Arab dan Inggris. Yudian tidak bisa berbahasa Inggris waktu itu. Akan tetapi, dia mempunyai 10 terjemahan bahasa Arab ke Indonesia dan mempunyai ijazah BA dari Fakultas Filsafat UGM. Dia lulus dan masuk 20 besar. Kemudian, mengikuti training sembilan bulan dan enam bulan bahasa Inggris.

Setelah mengikuti training baru berangkat ke Kanada, 1991. Tahun 1993, dia menyelesaikan MA. Selesai MA, dia kursus bahasa Inggris lagi untuk mempersiapkan diri meraih gelar doktor. Sebab, untuk meraih beasiswa program doktor, sangat berat. Selain bahasa Inggris, dia juga kursus bahasa Prancis. Perhitungan dia benar. Tahun 1994, dia mengikuti tes dan berhasil memenangkan beasiswa untuk doktor.

Yudian memecahkan rekor sebagai dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat (AS) pada 2002-2004. Rekor itu diraihnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors periode 2005-2006, serta dipercaya mengajar di Comparative Department.

Meniti Karier
Yudian Wahyudi dikenal sebagai akademisi yang aktif, baik di kapus ataupun di pesantren. Bahkan, ia sempat menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, jabatan itu ia emban sejak 11 Mei 2016. Selain menjadi rektor periode 2016-2020, ia juga aktif sebagai pendiri sekaligus pembina Pesantren Nawesea, pesantren khusus bagi mahasiswa pasca-sarjana.

Tak hanya itu, Yudian menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors periode 2005-2006, serta dipercaya mengajar di Comparative Department, Tufts University, AS. Yudian juga termasuk produktif sebagai penulis dan penerjemah. Sepanjang kariernya, Yudian telah menulis segudang artikel ilmiah yang bertemakan Islam kontemporer. Setidaknya, telah menerjemahkan 40 buku bahasa Arab, 13 bahasa Inggris, dan dua buku berbahasa Prancis ke Bahasa Indonesia.

Yudian Wahyudi dilantik menjadi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) oleh Presiden Jokowi, pada Rabu 05 Februari 2020. Jokowi menerangkan, tugas BPIP adalah membumikan Pancasila. Terutama target anak-anak muda di bawah 39 tahun yang menurut Jokowi memerlukan injeksi tentang Pancasila dalam keseharian.

Mendirikan Pesantren
Pada 2016, ia turut mendirikan Pesantren Nawesea yang memiliki pendidikan formal TK, SD dan SMP Sunan Averroes Islamic Boarding School. Pesantren Nawesea adalah salah satu pesantren di wilayah Yogyakarta yang didirikan dan dibina oleh Prof. .H. Yudian Wahyudi. Pendidikan di pesantren ini dikonsentrasikan pada pengembangan bahasa asing, utamanya bahasa Inggris dan bahasa Arab. Pesantren ini diorientasikan pada peningkatan kapasitas umat Islam dalam hal akademik.

Para santri dididik untuk meraih prestasi akademik yang cemerlang dengan lulus cepat dan mendapatkan nilai pujian. Mahasiswa yang menyantri di pondok ini juga dilatih untuk menjadi terampil dalam menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab serta terampil dalam penulisan ilmiah. Selain itu, para santri dibina untuk meningkatkan aktivitas keagamaan, seperti shalat hajat. Ciri khas pesantren ini adalah program bahasa asing, peningkatan akademik, dan spritualitas.

 

Sumber: Dari berbagai sumber