Biografi Sayyid Ali Zainal Abidin bin Al Imam Husein bin Ali bin Abi Tholib

 
Biografi Sayyid Ali Zainal Abidin bin Al Imam Husein bin Ali bin Abi Tholib

Daftar Isi Biografi Sayyid Ali Zainal Abidin bin Al Imam Husein bin Ali bin Abi Tholib

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Nasab
1.4  Wafat

2.    Sanad Keilmuan
2.1  Guru-guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Sekilas Perjalanan Hidup
3.2  Wasiat dan Nasihat

4.    Karya-karya
4.1  Shahifah Sajjadiyah
4.2  Risalah Huquq

5.     Referensi

 

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Al-Imam Ali Zainal  Abidin bin Husein bin Ali dilahirkan pada tahun 33 H/ 613 M, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H/ 658-659 M. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in. Ada  riwayat lainnya menyatakan beliau dilahirkan pada tanggal 15 Jumadil Ula 36 H. Beliau dilahirkan di Madinah Asy-Syarifah pada hari Khamis 15 Sya'ban 38 Hijrah, dua tahun sebelum Sayyidina Ali bin Abi Talib RA wafat.

Ayah beliau adalah Al-Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib dan ibundanya dikenal bernama Salafah dan digelar dengan gelaran Syahin Zauan yang bermaksud Raja Perempuan.

Ada beberapa riwayat yang menyatakan tentang siapa ibu dari Al_Imam Ali Zainal Abidin, antara lain:
Riwayat pertama menyatakan bahwa ibunya bernama Syahzanan putri dari Yazdigard bin Syahriyar bin Choesroe, kaisar terakhir Sasaniyah, Persia. Selain itu disebut juga ia bernama Syahr banawaih. Khalifah Ali bin Abi Thalib mengangkat Huraits bin Jabir al-Hanafi untuk menangani urusan bagian provinsi-provinsi timur, Huraits memberikan kepada Sayyidina Ali dua putri Yazdigard bin Syahriyar bin Choesroe. Salah satu putri Yazdigard ini yang bernama Syahzanan diberikan Ali kepada putranya yang bernama Al-Husein. Syahzanan kemudian melahirkan anak lelaki kepada Al-Husein. Anak lelaki ini bernama Zainal Abidin. Ali memberikan putri Yazdigard yang satunya lagi kepada Muhammad bin Abu Bakar, yang melahirkan seorang anak lelaki bernama al-Qasim.

Riwayat lainnya menyatakan bahwa ibundanya bernama Syahrbanu, putri Yazdigard, kaisar terakhir Sasaniyah, Persia. Oleh karena itu Ali Zainal Abidin dijuluki pula Ibn al-Khiyaratyn, yaitu anak dari dua yang terbaik, yaitu Quraisy diantara orang Arab dan Persia diantara orang non-Arab. Menurut riwayat itu ibunya dibawa ke Madinah sebagai tahanan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab yang hendak menjualnya. Namun Ali bin Abi Thalib menyarankan sebaiknya Syahrbanu terlebih dahulu diberi pilihan untuk menjadi istri salah seorang Muslim, dan mas kawinnya diambil dari Baitul Mal. Khalifah Umar menyetujuinya, dan akhirnya Syahrbanu memilih putra Ali bin Abi Thalib yaitu Husein. Konon Syahr Banu wafat tak lama setelah melahirkan anak semata wayangnya ini.

1.2 Riwayat Keluarga
Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali dikaruniai 15 orang anak yaitu 11 anak laki-laki dan 4 anak perempuan diantaranya adalah :

  1. Muhammad, ibunya adalah Ummu Abdullah binti al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Merupakan Imam selanjutnya menurut Imamiyah.
  2. Abdullah
  3. Al-Hasan
  4. Al-Husein
  5. Zaid, imam pengganti menurut Zaidiyah.
  6. Al-Husein Al-Asghar
  7. Abdurrahman
  8. Sulaiman
  9. Muhammad Al-Asghar
  10. Umar
  11. Ali, merupakan anak bungsu
  12. Khadijah, saudara seibu dengan Ali
  13. Fatimah
  14. Aliyah
  15. Ummu Kultsum

1.3 Nasab
Beliau Adalah Cicit dari junjungan kita Nabi Muhammad Rasulullah SAW, dengan Urutan Silsilah sebagai berikut :

  1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW
  2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib
  3. Al-Imam Husein
  4. Al-Imam Ali Zainal Abidin

1.4 Wafat
Al-Imam Ali Zainal Abidin wafat di Madinah pada 95 H/713 M dalam usia 57 tahun, ada pula yang menyatakan wafat pada 25 Muharram 95 H. 34 tahun setelah kewafatnya ayah beliau. 34 tahun beliau menjadi Imam dan dimakamkan di Pekuburan al-Baqi, Madinah.

2.  Sanad Keilmuan

Al-Imam Ali Zainal Abidin Dua tahun tinggal bersama kakek beliau, Ali bin Abi Thalib, 12 tahun tinggal bersama sang paman, Al-Imam Hasan dan 23 tahun tinggal bersama ayah beliau, Al-Imam Husein.

2.1 Guru-guru

  1. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA
  2. Al-Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib
  3. Al-Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib

4.  Perjalanan Hidup  dan Dakwah

4.1 Sekilas Perjalanan Hidup
Beliau adalah Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau  dikenal dengan julukan Zainal Abidin karena kemuliaan pribadi dan ketakwaannya dan As-Sajjad sebagai tanda "orang yang terus melakukan sujud dalam ibadahnya". Beliau juga dipanggil dengan nama Abu Muhammad, bahkan kadang ditambah dengan Abu Al-Hasan.

Sayyidina Ali bin Husein mendapatkan gelar Zainal Abidin dikarenakan menghabiskan waktu beliau hanya untuk beribadah dan ada beberapa gelar lainnya buat beliau yaitu : Sayyidul Abidin, Az-Zaki, Al-Amin dan Zun Nafahat.

Ketika ayahandanya, Al-Imam Husein, berjuang melawan prajurit Khalifah Yazid bin Muawiyah, beliau tengah sakit dan berada di dalam kemah bersama kaum wanita. Beliau menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa semua anggota keluarganya berguguran syahid, sehingga kenangan getir tak pernah lepas dari benaknya. Beliau bahkan menyaksikan bagaimana ayahandanya dipancung.

Setelah perang usai, sisa anggota keluarga Imam Husein yang masih hidup ditawan di Kufah, Irak. Bahkan Ali Zainal Abidin, yang ketika itu baru berusia 11 tahun, hampir dibunuh. Tapi, nyawa beliau selamat berkat kegigihan Sayidah Zainab, bibinya, yang memeluknya dan mencegah para prajurit mendekat. Tak lama kemudian para tawanan dipindah ke Damaskus, Syria, dipertemukan dengan Khalifah Yazid bin Muawiyah. Tapi kemudian dibebaskan, bahkan diantar pulang ke Madinah.

Muhammad Al-Baqir, anak lelakinya, bercerita, “Setiap kali mendapatkan nikmat Allah SWT, Imam Ali Zainal Abidin langsung bersujud. Setiap kali membaca ayat sajdah dalam Al-Quran, beliau selalu bersujud. Setiap kali selesai salat fardhu, beliau selalu bersujud. Dan setiap kali berhasil mendamaikan orang berselisih, beliau selalu bersujud. Karena sering bersujud itulah tampak bekas sujud di keningnya, dan karena itu pula beliau disebut As-Sajjad, orang yang suka bersujud.”

Al-Imam Ali Zainal Abidin benar-benar mewarisi sikap dan sifat ayahandanya dalam hal keilmuan dan kezuhudan. “Di antara Bani Hasyim, saya kira beliaulah yang paling mulia,” kata Yahya Al-Anshari, salah seorang ulama terkemuka di masanya. Kemuliaan itu, antara lain, karena beliau selalu dalam keadaan suci, selalu berwudhu, dan tak pernah absen menunaikan qiyamul lail alias shalat Tahajjud, baik di rumah maupun dalam perjalanan.

Beliau adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling dari yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya dan rasa takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin.

Di Madinah, Al-Imam Ali Zainal Abidin tumbuh sebagai seorang yang sangat alim. Beliau tekun beribadah, sementara ketinggian ilmu agamanya menjadikannya sebagai rujukan para ulama. Terutama dalam hal ilmu hadits. Lebih dari itu, beliau sangat terkenal sebagai ahli ibadah yang luar biasa.

Sebagai seorang Imam Agung. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayah beliau (Al-Imam Husein), paman beliau Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin, mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di didalam ilmu, zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam setiap sesuatu.

Meskipun Tragedi Karbala sangat membekas dalam kalbunya, beliau berusaha menyadarkan umat agar bersabar menghadapi kekuasaan yang represif. Dengan arif beliau mendidik dan memperbaiki nasib umat. Salah satunya dengan menyusun rangkaian doa berjudul As-Sahifah As-Sajjadiyyah – yang beliau maksudkan untuk mengobati penyakit rohani yang merajalela, sekaligus memanjatkan permohonan kepada Allah SWT agar terlepas dari situasi yang mengimpit.

Sebagai waliyullah, beliau dinilai sudah mencapai maqam mukasyafah, peringkat tertinggi, yang mampu menyingkap tabir ketuhanan. Salah satu karamahnya beliau adalah tentang surat rahasia dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan kepada panglimanya, Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi. Surat itu antara lain berbunyi, “Jauhkan aku dari lumuran darah Bani Abdul Muthalib, yang setelah bergelimang dalam dosa tidak lagi mampu bertahan kecuali dalam waktu yang tidak lama...”

Pada saat yang bersamaan, Ali Zainal Abidin juga menulis surat kepada Khalifah Malik bin Marwan, yang di antaranya berbunyi, “Anda telah menulis surat kepada Hajjaj mengenai keamanan kami. Semoga Allah SWT memberi balasan sebaik-baiknya kepada Anda.” Tentu saja Khalifah Abdul Malik bin Marwan tercengang membacanya. Sebab, tanggal surat itu persis sama dengan tanggal surat Khalifah kepada Hajjaj.

Dan ternyata saat keberangkatan utusan Ali Zainal Abidin dari Madinah juga sama dengan saat keberangkatan utusan Khalifah yang mengantarkan surat kepada Hajjaj. Karena itu Khalifah Malik pun menyadari, Allah SWT telah membuka mata batin Ali Zainal Abidin. Beliau lalu menulis surat dan menyampaikan hadiah kepada Ali Zainal Abidin.

Cicit Rasulullah SAW ini juga dikenal sebagai pembela hak asasi manusia. Dalam risalahnya, Risalah Al-Huquq, antara lain beliau menulis, manusia punya hak dan kewajiban kepada Allah SWT, kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, dan kepada sesama makhluk Allah. Mengenai hak dan kewajiban kepada sesama manusia, beliau memperinci hak dan kewajiban rakyat kepada penguasa dan sebaliknya. Risalah ini tentu sangat istimewa, karena ditulis pada abad ke-7 Masehi, sebelum lahirnya dokumen Magna Charta dalam sejarah Inggris, lima abad setelah itu, yang kemudian berkembang menjadi Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia.

Berkata Yahya Al-Anshari, “Beliau (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat.” Berkata Zuhri, “Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husein dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.”

Beliau shalat 1000 rakaat setiap hari dan malamnya. Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab, “Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?.” Beliau tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. Beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah ataupun bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah meridhoi mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat, “Labbaikallah…,” beliau pingsan.

Suatu saat ketika beliau baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di sekitarnya, baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang tersebut, akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, “Tunggulah sebentar orang laki-laki ini.” Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi. Apakah engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?.” Orang laki-laki itu merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata laki-laki itu, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu Rasulullah.”

Az Zuhri dan Ibnu Uyainah menyatakan: "Kami tidak mendapati di kalangan orang Quraisy yang lebih baik daripada Ali Zainal Abidin. Az Zuhri berkata: "Aku tidak melihat seorang yang lebih faqih melainkan Sayyidina Ali Zainal Abidin. Ibnu Musayyib berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih wara' dari Sayyidina Ali Zainal Abidin.

Daripada Tawus berkata: "Suatu malam aku masuk ke dalam bilik dan kemudian Sayyidina Ali Zainal Abdidin RA masuk ke dalam bilik tersebut lalu bersembahyang begitu lama dan memanjangkan sujudnya. Melihat keadaannya saya berkata: "Seorang lelaki yang soleh daripada rumah kenabian, lalu aku meminta doa darinya dan aku mendengar beliau berkata (mengajarkan doanya):

“Abduka bi finaaik, miskiinuka bi finaaik, faqiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik, “

(hamba ini berada di hadapan Mu Wahai Allah, si miskin dihadapan Mu, si fakir berada di hadapan Mu, si pengemis berada di hadapan Mu)

Maka Tawus berkata: "Demi Allah! Tidaklah aku meminta dan berdoa (dengan menggunakan doa) daripada kesusahan melainkan Allah memudahkan urusan aku.

Kata Ibnu Aisyah: "Saya mendengar penduduk Madinah berkata: "Kami tidak kehilangan sedekah Sirr (rahasia) melainkan selepas kewafatan Sayyidina Ali bin Husein RA" Muhammad bin Ishak berkata: "Adakah penduduk Madinah yang miskin dapat menikmati kehidupan tetapi tidak dapat mengetahui puncak dari mana datangnya makanan dan minuman mereka. Semasa hidupnya , Ali Zainal Abidin memikul bungkusan roti di belakangnya pada waktu malam untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Ketika memandikan jenazah beliau, mereka mendapati terdapat kesan hitam di belakangnya. Mereka bertanya: "Tanda apakah ini?" Sahabat-sahabatnya menyatakan: "Ini adalah kesan beliau memikul bungkusan gandum pada waktu malam di belakangnya yang beliau bagikan kepada penduduk Madinah yang miskin." Setelah wafat beliau baru diketahui kalau beliau telah menyedekahkan sebanyak 100 buah rumah.

Beliau jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau jika meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika sudah berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya. Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak pernah memukul tunggangannya itu.

Diriwayatkan ketika beliau sakit, datang sekumpulan sahabat Rasulullah SAW lalu berkata: "Bagaimana keadaan kamu wahai cucu Rasulullah SAW, tebusan kamu adalah diri kami". Maka Sayyidina Ali Zainal Abidin menjawab: "Saya berada di dalam afiat dan Allahlah tempat untuk dipuji. Bagaimana pula keadaan kamu semua?" Sahabat-sahabat Nabi menjawab: "Keadaan kami demi Allah, untuk kamu wahai anak Rasulullah SAW yang mengasihi dan menyayangi." Maka Imam Ali Zainal Abidin menyatakan kepada mereka: "Sesiapa yang kasih kepada kami kerana Allah, maka Allah akan menempatkan mereka di bawah naungan Illahi dan sesiapa yang mencintai kami kerana inginkan pemberian kami, maka Allah akan memberikannya di dalam syurga, dan sesiapa yang mencintai kami kerana dunia, maka Allah akan mencurahkan rezeki yang tidak disangka-sangka.

4.2 Wasiat dan Nasihat
Para murid beliau selalu mengenangnya dan mencatat semua ajarannya. Karya Imam Ali Zainal Abidin yang sangat popular adalah Risalatul Huquq, yang berisi 51 pemikiran beliau tentang hak-hak manusia, termasuk hak asasi manusia. Khotbah-khotbah beliau juga dicatat oleh muridnya yang kemudian dibukukan dengan judul Ash-Shahifah As-Sajjadiyah ( lembaran catatan As-Sajjad ), yang sangat populer dan disejajarkan dengan karya kakeknya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, An-Nahjul Balaghah.

Sebagai Waliyullah, beliau juga sangat terkenal dengan ungkapan atau nasihat-nasihatnya, terutama yang ditujukan kepada pengikutnya; misalnya :

“Semoga Allah SWT melindungi kami dan kalian dari tipu daya orang-orang zalim, kedzaliman para penghasut dan paksaan para pemaksa. Wahai orang-orang Mukmin, janganlah kalian tertipu oleh para thagut, penguasa zalim, pencari dunia yang hatinya dirasuki kecintaan kepada dunia, dan selalu menginginkan kenikmatan tiada nilai serta kelezatan dunia yang cepat berlalu. Aku bersumpah demi jiwaku, dimasa lalu, kalian telah melewati beberapa kejadian dan melalui beberapa fitnah dengan selamat, sementara kalian selalu menjauh dari orang-orang sesat, para pembuat bid’ah dan perusak di muka bumi. Maka kini mohonlah pertolongan Allah SWT dan kembalilah taat kepada Allah SWT dan kepada Wali Allah SWT yang lebih layak daripada para penguasa.”

“Dahulukanlah perintah Allah SWT dan ketaatan kepada orang yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dari segala sesuatu dan selamanya dalam semua urusan. Janganlah kalian mendahulukan ketaatan kepada para thagut yang tertipu oleh dunia yang semu, daripada ketaatan kepada Allah SWT. Berhati-hatilah, jangan bergaul dengan para pendosa dan orang-orang yang tercemar maksiat. Berhati-hatilah bekerja sama dengan orang-orang zalim dan berdekatan atau berhubungan dengan orang-orang fasik. Waspadalah fitnah mereka dan menjauhlah dari mereka. Ketahuilah, barang siapa menentang para wali Allah SWT, mengikuti agama selain agama Allah SWT, dan mengabaikan perintah dan larangan Wali Allah SWT, ia akan masuk neraka, dan tertimpa kobaran api yang menyala-nyala.”

Wahai nafsu hentikanlah kecondonganmu kepada dunia dan kecenderungan untuk meramaikannya, tidaklah engkau menjadikan sebagai pelajaran terhadap para pendahulumu yang telah ditelan bumi serta para sahabatmu yang telah membuatmu bersedih karena kepergiannya, demikian juga kawan-kawanmu yang telah berpindah kedalam tanah, mereka sekarang telah berada di dalam perut bumi, dibalik permukaannya, kebaikan-kebaikan mereka ikut lebur menyatu didalamnya , sudah berapa banyak manusia – manusia yang telah dibinasakan ole kekejaman masa dari abad kea bad, serta berapa banyak manusia-manusia yang telah dirusak oleh bumi dengan bencana-bencananya, lalu mereka ditenggelamkan di dalam gumpalan tanahnya, dari berbagai jenis manusia yang pernah engkau ajak bergaul dan kemudian mereka kamu antarkan ke dalam kuburnya.”

Betapa banyak manusia yang telah ditipu oleh dunia dari mereka yang justru mendiaminya, dan betapa banyak manusia yang telah dibanting oleh dunia dari mereka yang justru menempatinya, lalu dunia itu tidak mau mengangkatnya lagi dari keterpelesetannya, tidak menyelamatkannya dari kebinasaannya, tidak menyembuhkan dari kepedihannya, tidak membebaskannya dari penyakitnya dan tidak melepaskannya dari penderitaannya.”

Wahai putraku janganlah engkau berteman dengan orang fasik, karena sesungguhnya dia akan menjualmu dengan sesuap makanan atau lebih sedikit lagi dari hal itu yang ia belum memperolehnya, dan janganlah berteman dengan orang bakhil ( pelit ) karena sesungguhnya dia akan mentelantarkanmu di dalam apa yang dia miliki, sedangkan engkau sangat membutuhkannya, serta janganlah kanu berteman dengan seorang pembohong, karena sesungguhnya dia adalah seperti fatamorgana, ia membuat sesuatu yang jauh nampak dekat dihadapanmu dan membuat sesuatu yang dekat nampak jauh dari dirimu, demikian juga orang yang tolol, karena sesungguhnya ia ingin menguntungkan dirimu ( tapi karena ketololannya ) maka ia malah menyengsarakan dirimu, dan jangan pula dengan suka memutuskan tali persaudaraan, karena dia adalah orang yang mendapat laknat di dalam kitabullah, dengan firmannya : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah SWT, maka Allah SWT menulikan telinga mereka dan membutakan penglihatan mereka.”

Sesungguhnya Allah SWT menyukai seseorang yang telah berbuat dosa, lalu bertobat.”

Orang yang tidak memerintah terhadap kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah seperti orang yang mencampakkan Kitabullah di belakang punggungnya.

Orang-orang yang menjadi pimpinan para manusia adalah orang-orang yang bermurah hati dan bertaqwa, sedangkan di Akhirat nanti, yang mulya adalah orang-orang ahli agama, ahli keutamaan dan orang ahli ilmu yang bertaqwa, karena sesungguhnya Ulama adalah Ahli waris Para Nabi.

Ada 4 perkara yang barangsiapa memilikinya, niscaya imannya menjadi sempurna, dosa-dosanya diampuni dan ia akan berjumpa dengan tuhannya dalam keadaan ridlo kepadanya, yaitu barangsiapa yang mau menepati karena Allah SWT, terhadap apa yang diwajibkan Allah SWT atas dirinya untuk para manusia, lisannya selalu berkata jujur kepada para manusia dan ia bersikap malu terhadap segala perbuatan jelek menurut pandangan Allah SWT dan para manusia, serta ia selalu berbudi pekerti yang baik kepada para keluarganya.

Amal yang paling utama disisi Allah SWT adalah sesuatu yang dilakukan menurut sunnah Rasulullah SAW.

Janganlah kamu merasa tidak suka berteman dengan seseorang, meskipun kamu telah mengira bahwa orang ini tidak akan bermnfaat bagi dirimu, karena sesungguhnya kamu tidak tahu kapan kamu akan membutuhkan temanmu itu.

Orang yang berhati hasud (dengki) tidak akan meraih kemulyaan dan orang yang suka dendam akanmati merana. Sejelek-jeleknya saudara adalah yang selalu memperhatikan dirimu ketika kamu kaya dan ia menjauhi kamu, ketika kamu dalam keadaan melarat. Bersikap rela terhadap taqdir Allah SWT yang tidak menyenangkan adalah merupakan martabat yang tinggi.

5.  Karya-karya

Para ulama Ahlusunnah mengutip banyak ilmu dari Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali.  Di antara karya peninggalan beliau yang masyhur menurut para ulama adalah nasihat-nasihat, doa-doa, riwayat tentang keutamaan Al-Quran, halal haram, peperangan dan hari-hari sejarah. Sebuah hal menarik bahwa sekitar 300 hadist dari Imam Sajjad as dimuat dalam kutub Arba'ah.

5.1 Shahifah Sajjadiyah
Shahifah Sajjadiyah adalah kumpulan doa-doa Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali . Sebuah cerminan dari kehidupan sosial pada masa itu khususnya di Madinah terlihat dalam Shahifah Sajjadiyah, Diantaranya, menghindari perilaku dan perkataan buruk masyarakat masa itu dan minta perlindungan kepada Allah SWT dari apa yang dilihat dan didengar dan menjelaskan jalan kebenaran dalam naungan pendidikan agama dan Alquran, serta pensucian jiwa dari kotoran. Sepertinya Imam Sajjad as dengan bahasa doanya sebisa mungkin hendak mengeluarkan masyarakat dari belenggu syaitan menuju naungan Allah SWT. Shahifah ini sudah tersebar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

5.2 Risalah Huquq
Risalah al-Huqug adalah salah satu karya yang dinisbatkan kepada Imam Sajjad as. Dalam risalah ini terdapat 51 hak (atau 50, menurut beberapa cetakan) Risalah ini pun telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sebagian hak yang terdapat di dalamnya adalah: 

  1. Hak Allah
  2. Hak Jiwa
  3. Hak Lidah
  4. Hak Shalat
  5. Hak Sedekah
  6. Hak Guru
  7. Hak Rakyat
  8. Hak Perempuan
  9. Hak Ibu
  10. Hak Ayah
  11. Hak Anak
  12. Hak Saudara
  13. Hak Budak
  14. Hak Teman
  15. Hak Tetangga
  16. Hak Peminjam Utang
  17. Hak Orang yang Marah Kepada Anda
  18. Hak Orang yang Membahagiakan Anda
  19. Hak Orang yang Berbuat Buruk
  20. Hak Ahli Dzimmah

6.  Referensi

  1. Dirangkum dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy, dan Alawiyin
  2. Asal Usul & Peranannya, karya Alwi Ibnu Ahmad Bilfaqih
  3. Dikutip dari buku Ajarilah Anakmu Mencintai Keluarga Nabi SAW; Muhammad Abduh, majalah Al-Kisah No. 05/Tahun IV/27 Feb-12 Mar 2006]
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya