Doa Bersama Antar Umat Beragama

Doa Bersama Antar Umat Beragama

Doa Bersama Antar Umat Beragama

A. Diskripsi Masalah

Adanya krisis (moneter, kepercayaan, keimanan) yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini, menuntut bangsa Indonesia untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Di antara usaha-usaha yang dilakukan adalah mengadakan doa bersama antar berbagai umat beragama (Islam, Katholik, Kristen, Hindu dan Budha).

B. Pertanyaan

a. Bagaimana hukum doa bersama antar berbagai umat beragama yang sering dilakukan di Indonesia?. b. Mohon dijelaskan batas-batas kerjasama antar umat beragama yang diperbolehkan oleh syari’at agama Islam?.

C. Jawaban

a. Tidak boleh, kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

D. Dasar Pengambilan Hukum

1. Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab [1]

وَلَزِمْنَا مَنْعُهُمْ إِظْهَارُ مُنْكَرٍ بَيْنَنَا كَإِسْمَاعِهِمْ إِيَّانَا قَوْلَهُمْ اَللهُ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ

Dan wajib bagi kita (muslimin) mencegah non muslim menampakkan kemungkaran di hadapan kita, seperti memperdengarkan ucapan mereka kepada kita: “Allah adalah salah satu dari tiga Tuhan.”  

2. Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab [2]

لاَ يَجُوْزُ التَّأْمِيْنُ عَلَى دُعَاءِ الْكَافِرِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَا دُعَآءُ الْكَافِرِيْنَ إِلاَّ فِيْ ضَلاَلٍ

Dan tidak boleh mengamini doa non muslim karena doanya tidak diterima sesuai dengan firman Allah Swt.: “Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. al-Ra’du: 14)  

3. Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib [3]

قَوْلُهُ (تَحْرِيْمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ)

 .... أَيِ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوْهَةٌ

أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلاَ حُرْمَةَ فِيْهِ

Ungkapan Syaikh Muhammad al-Syirbini al-Khatib: (“Haram mengasihi dengan non muslim.”), maksudnya menyukai, dan simpati dengan hati. Adapun pergaulan lahiriah, maka hukumnya makruh. … Sedangkan bergaul untuk menolak bahaya atau mengambil keuntungan dari mereka, maka tidak haram.  

4. Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj [4]

(وَلاَ يُمْنَعُ أَهْلُ الذِّمَّةِ الْحُضُوْرَ)

 لِأَنَّهُمْ يَسْتَرْزِقُوْنَ وَفَضْلُ اللهِ وَاسِعٌ وَقَدْ يُجِيبُهُمُ اسْتِدْرَاجًا وَطَمَعًا فِي الدُّنْيَا قَالَ تَعَالَى سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ [اَلْأَعْرَافُ 182 \ الْقَلَمُ 33] (وَلاَ يَخْتَلِطُوْنَ)

أَهْلُ الذِّمَّةِ وَلاَ غَيْرُهُمْ مِنْ سَائِرِ الْكُفَّارِ (بِنَا) فِيْ مُصَلاَّنَا وَلاَ عِنْدَ الْخُرُوْجِ أَيْ يُكْرَهُ ذَلِكَ بَلْ يُتَمَيَّزُوْنَ عَنَّا فِيْ مَكَانٍ لِأَنَّهُمْ أَعْدَاءُ اللهِ تَعَالَى إِذْ قَدْ يَحِلُّ بِهِمْ عَذَابٌ بِكُفْرِهِمْ فَيُصِيْبَنَا  قَالَ تَعَالَى : وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً [اَلْأَنْفَالُ 25]

وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُؤَمِّنَ عَلَى دُعَائِهِمْ كَمَا قَالَهُ الرَّوْيَانِيُّ لِأَنَّ دُعَاءَ الْكَافِرِ غَيْرُ الْمَقْبُوْلِ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ كَمَا اسْتُجِيْبَ دُعَاءُ إِبْلِيْسَ بِاْلإِنْظَارِ

(Dan non muslim dzimmi -yang dijamin keamanannya oleh pemerintah Islam- tidak dilarang mengikuti istisqa’ -permintaan hujan-), sebab mereka berhak mencari rezeki, sedangkan anugerah Allah Swt. sangat luas. Terkadang Allah Swt. mengabulkan harapan mereka dalam rangka istidraj (melalaikan) dan membuat mereka tamak pada dunia. Allah Swt. berfirman: “Nanti Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” [QS. al-A’raf: 182/al-Qalam: 44]. (Dan mereka tidak boleh berkumpul), yakni non muslim dzimmi dan selainnya (dengan kita muslimin) di tempat shalat istisqa’ kita, dan tidak pula saat pergi -menuju tempat istisqa’-. Maksudnya hal itu makruh, dan mereka harus dibedakan dari kita umat Islam di suatu tempat. Sebab, mereka adalah musuh-musuh Allah Swt., karena terkadang mereka akan tertimpa suatu adzab dengan sebab kekufurannya, maka adzab itu akan mengenai kita pula. Allah Swt. Berfirman: Dan takutlah pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” [QS. al-Anfal: 25]. Tidak boleh mengamini doa mereka sebagaimana pendapat al-Rauyani, karena doa mereka tidak akan diterima. Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa doa mereka bisa saja dikabulkan sebagaimana dikabulkannya doa Iblis agar ditundak kematiannya.  

5. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab [5]

(فَرْعٌ)

فِيْ مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِيْ خُرُوْجِ أَهْلِ الذِّمَّةِ لِلإِسْتِسْقَاءِ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّهُمْ يُمْنَعُوْنَ مِنَ الْخُرُوْجِ مُخْتَلِطِيْنَ بِالْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ يُمْنَعُوْنَ مِنَ الْخُرُوْجِ مُتَمَيَّزِيْنَ وَبِهِ قَالَ الزُّهْرِيُّ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ وَقَالَ مَكْحُوْلٌ لاَ بَأْسَ بِإِخْرَاجِهِمْ

(Sub Masalah) tentang berbagai mazhab ulama perihal non muslim ikut keluar untuk istisqa’. Telah kami paparkan, bahwa mazhab kami -Syafi’iyah- menyatakan mereka dilarang keluar bercampur dengan orang-orang Islam dan mereka tidak dilarang dari keluar dengan mebedakan diri dari orang-orang Islam. Dengan ini al-Zuhri, Ibn al-Mubarak dan Abu Hanifah berpendapat. Dan Makhul berkata: “Tidak mengapa mereka keluar (ikut istisqa’).  

6. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab [6]

وَيُكْرَهُ إِخْرَاجُ الْكُفَّارِ لِلاسْتِسْقَاءِ لِأَنَّهُمْ أَعْدَاءٌ فِيْ اللهِ فَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُتَوَسَّلَ بِهِمْ إِلَيْهِ فَإِنْ حَضَرُوْا وَتَمَيَّزَوْا لَمْ يُمْنَعُوْا  لِأَنَّهُمْ جَاءُوْا فِيْ طَلَبِ الرِّزْقِ

Dan dimakruhkan non muslim ikut keluar untuk istitsqa’, mengingat mereka adalah musuh-musuh Allah Swt., maka tidak boleh menjadikan mereka sebagai media tawasul kepada Allah Swt. Jika mereka hadir dan membedakan diri ari umat Islam, maka mereka tidak boleh dilarang. Sebab, mereka datang untuk mencari rezeki.  

7. Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab [7]

وَالْوَجْهُ جَوَازُ التَّأْمِيْنِ بَلْ نَدْبُهُ إِذَا دَعَى لِنَفْسِهِ بِالْهِدَايَةِ وَلَنَا بِالنَّصْرِ مَثَلاً

Dan suatu pendapat menyatakan boleh mengamini doa non muslim, bahkan sunnah jika misalnya ia berdoa agar dirinya mendapat hidayah dan agar kita mendapat pertolongan.  

C. Jawaban

b. Batas-batas kerjasama antar umat beragama yang diperbolehkan oleh syari’ah Islam yaitu sepanjang kerjasama itu menyangkut urusan duniawi yang ada manfaatnya bagi umat Islam seperti perdagangan dan pergaulan yang positif.  

Dasar Pengambilan Hukum

8. Murah Labid li Kasyf Ma’ani al-Qur’an al-Majid [8]

وَثَانِيْهَا (الْمُخَالَطَةُ) الْمُبَاشَرَةُ بِالْجَمِيْلِ فِيْ الدُّنْيَا بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَذَلِكَ غَيْرُ مَمْنُوْعٍ

Yang kedua, bergaul dengan baik di dunya secara lahiriah (saja). Dan hal itu tidak terlarang.  

9. Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib [9]

..... قَوْلُهُ (تَحْرِيْمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ) أَيِ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوْهَةٌ

أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلاَ حُرْمَةَ فِيْهِ

Ungkapan Syaikh Muhammad al-Syirbini al-Khatib: (“Haram mengasihi dengan non muslim.”), maksudnya menyukai, dan simpati dengan hati. Adapun pergaulan lahiriah, maka hukumnya makruh. … Sedangkan bergaul untuk menolak bahaya atau mengambil keuntungan dari mereka, maka tidak haram.  

[1] Sulaiman bin Manshur al-Jamal, Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid V, h. 226.

[2] Sulaiman bin Manshur al-Jamal, Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid III, h. 119.

[3] Sulaiman bin Muhammad al-Bujairamai, Hasyiyah Sulaiman al-Bujairami ‘ ala al-Khatib, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1951), Jilid IV, h. 245.

[4] Muhammad al-Khatib al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj, (Mesir: al-Tujjariyah al-Kubra, t. th.), Jilid I, h. 323.

[5] Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid V, h. 72.

[6] Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid V, h. 66.

[7] Sulaiman bin Manshur al-Jamal, Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab, (Mesir: al-Tujjariyah al-Kubra, t. th.), Jilid II, h. 119.

[8] Muhammad Nawawi bin Umar  al-Bantani, Futuhat Murah Labid li Kasyf Ma’ani al-Qur’an al-Majid, (Mesir: Isa al-Halabi, t. th.), Juz I, h. 94.

[9] Sulaiman bin Muhammad al-Bujairamai, Hasyiyah Sulaiman al-Bujairami ‘ ala al-Khatib, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1951), Jilid IV, h. 245.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 421 KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL AL-DINIYYAH AL-WAQI’IYYAH MUKTAMAR XXX NU DI Pon-Pes. LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR TANGGAL 21 s/d 27 NOPEMBER 1999