Abu Teupin Raya Al-Falaqy#4: Ahli Falak Dunia dan Al-Azhar Cairo

Abu Teupin Raya Al-Falaqy#4: Ahli Falak Dunia dan Al-Azhar Cairo

LADUNI.ID I ULAMA- Abu Teupin Raya (Teungku Muhammad Ali Irsyad ) sejak muda telah dididik oleh orang tuanya dengan pendidikan agama. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri yaitu Teungku Irsyad. Ayahnya seorang ahli agama yang dikenal sebagai kadi. Selain sebagai kadi, ia juga Ulee Balang Geulumpang Payong di masa Belanda. Sudah tentu dari kalangan bangsawan Abu Teupin Raya muda mendapat kesempatan pendidikan umum.

Dua kutub ilmu telah dilakoni oleh Abu Teupin Raya. Ia mempertimbangkan, jika di rumah harus belajar ilmu agama dan esoknya belajar di sekolah umum dengan guru-guru Belanda. Hal ini menimbulkan goncangan dan dilema di hatinya, sehingga ia memilih mencari ilmu agama.

Lantas di mana ia pertama kali belajar ilmu agama? Hal ini tentunya menjadi sejarah tersendiri untuk dikaji. Ternyata dayah atau pesantren yang pertama kali Abu Teupin Raya yang memiliki nama asli Muhammad Ali Irsyad kunjungi adalah di Uteuen Bayu Ulee Glee.

Di sana ada seorang ulama yang bernama Teungku Abdurrahman. Namun penulis tidak mendapatkan tahun berapa beliau menuntut ilmu di Uteun Bayu, Bandar Dua, Pidie Jaya itu. Dalam catatatan sejarah di Uteun Bayu atau Ulee Glee sangat banyak ulama yang dilahirkan namun menjadi tokoh dan ulama kharismatik di luar daerahnya, sebut saja seperti Abu Manan Alue Lhoek dan lainnya.

Setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Uteun Bayu dan oleh sang guru beliau telah mengizinkan untuk melanjutkan pendidikan di dayah lain. Akhirnya pada tahun 1947 Teungku Muhammad Ali Irsyad meneruskan pengembaraan ilmu ke tempat lain karena telah mendapat izin dari gurunya. Dayah yang ia pilih berikutnya di daerah Bireun, teptnya Pulo Kiton.

Singkat cerita, selanjutnya menuju Gandapura, Bireuen. Di sini ia mempelajari Ilmu Falak pada salah seorang ulama yang baru pulang dari Mekah, yang telah mempelajari Ilmu Falak beberapa tahun lamanya. Ilmu tersebut sangat menarik perhatian Teungku Muhamad Ali Irsyad. Sekitar dua tahun beliau belajar Ilmu Falak pada Teungku Usman Maqam.

Setelah menimba ilmu di beberapa dayah di Aceh, tepatnya pada tahun 1961 akhirnya ia memutuskan untuk mengembara dalam menuntut ilmu ke Mesir. Bertolak dari Aceh menuju Jakarta, atas kesempatan yang diberikan oleh Menteri Agama yang masa itu dijabat Wahid Hasyim (Bapaknya Gusdur). Beliau diterima di Dirasah Khassah yang khusus menuntut Ilmu Falak.

Belajar di Mesir merupakan sebuah kebanggaan, terlebih di bidang Ilmu Falak. Salah seorang yang menjadi dosen Ilmu Falak di sana adalah seorang ulama yang sudah tua bernama Syeikh Ulaa Al-Banna. Syekh sangat bangga dan takjub dengan kepandaian Abu Teupin Raya di bidang Ilmu Falak. Wajar beliau merasa heran karena selama hidupnya, dan selama mengajar menjadi guru dalam ilmu Falaki as-Syar’i di al-Azhar belum pernah ada seorang pun yang belajar kepada beliau yang mempunyai kemampuan yang luar biasa seperti  muridnya ini (Teungku Muhammad Ali Irsyad).

Pada tahun 1966 Abu Teupin Raya menyelesaikan pendidikan di al-Azhar dalam bidang Ilmu Falaki Syar’i. Ia mendapatkan ijazah dan punya kemampuan di bidang Ilmu Hisab Falaki. Ilmu yang dapat mengeluarkan tarikh atau penanggalan, mengatur jadwal salat seluruh negara, jatuh dari awal bulan Qamariah atau bulan yang disyaratkan kepada Ru'yatul Hilal, perjajaran bintang dan dapat mengetahui jauh bintang di mana pun berada, kapan terjadinya gernaha matahari dan bulan, penentuan arah kiblat di mana pun serta pelajaran Ilmu Syariah yang bersangkutan dengan Ilmu Falak.

***Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Guru Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga.