Biografi Sunan Drajat (Raden Qasim)

 
Biografi Sunan Drajat (Raden Qasim)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Nasab Sunan Drajat
1.4       Wafat          

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4         Metode Dakwah Beliau    
4.1      Menjadi bagian Terpenting dalam Masyarakat
4.2      Mengayomi Masyarakat
4.3      Mengentaskan Kemiskinan Rakyat
4.4      Dengan Kearifan dan Kebijaksanaan
4.5      Melalui Kesenian Tradisional
4.6      Lewat Pitutur Sosial

5         Karomah Beliau 
5.1      Di Tolong Ikan Cucut dan Ikan Talang
5.2      Memancarkan Air dari Lubang Bekas Umbi
5.3      Memindahkan Masjid Dalam Waktu Semalam

6          Keteladanan Sunan Drajat

7          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir
Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi.

1.2       Riwayat Keluarga

Saat di daerah Cirebon, Sunan Drajat sering disebut dengan Syekh Syarifuddin. Di sana beliau turut membantu Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan dakwah agama Islam. Beliau kemudian menikah dengan Dewi Sufiyah yang merupakan putri dari Sunan Gunung Jati, dan dikaruniai anak bernama Pangeran Trenggana, Pangeran Sandi, dan Dewi Wuryan.

Selain itu, beliau juga menikah dengan Nyai Kemuning dan Nyai Retno Ayu Candrawati. Nyai Kemuning merupakan putri dari Mbah Mayang Madu yang merupakan seorang tetua desa Jelak.

Beliau merupakan orang yang telah menolong Sunan Drajat disaat terdampar dalam perjalanan dakwahnya menuju ke pesisir Gresik. Di lain sisi, Sunan Drajat juga menikahi Nyai Retno Ayu Candrawati yang merupakan putri dari Raden Suryadilaga, seorang adipati di kawasan Kediri.

1.3       Nasab Sunan Drajat
   Raden Qasim  - As-Sayyid Ali Rahmatullah - As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy  - As-Sayyid Husain Jamaluddin bin - As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin - As-Sayyid Abdullah bin - As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin - As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin - As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin - As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin - As-Sayyid Alwi bin - As-Sayyid Muhammad bin - As-Sayyid Alwi bin - As-Sayyid Ubaidillah bin - Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin - Al-Imam Isa Ar-Rumi bin - Al-Imam Muhammad An-Naqib bin - Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin - Al-Imam Ja’far Shadiq bin - Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin - Al-Imam Ali Zainal Abidin bin - Al-Imam Al-Husain bin - Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti - Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

1.4       Wafat   

Sunan Drajat meninggal tahun 1522 Masehi. Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Kompleks Makam Sunan Drajat terletak di sebuah bukit di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Menuntut Ilmu
Diperintahkan ayahnya untuk menuntut ilmu di Cirebon berguru dengan sunan Gunung Jati
      
2.2       Guru-Guru Beliau

  1.  Sunan Ampel (Ayah beliau)
  2. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Setelah proses pembukaan lahan selesai, Sunan Drajat beserta pengikutnya mendirikan pemukiman seluas 9 hektar. Berdasarkan petunjuk yang disampaikan Sunan Giri lewat mimpi, beliau menempati daerah sisi selatan perbukitan dan dinamai Ndalem Duwur, di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan (kini menjadi komplek pemakaman).Sunan Drajat juga mendirikan masjid agak jauh di bagian barat tempat tinggalnya, untuk dijadikan sebagai pusat dakwah dan menghabiskan sisa hidupnya di daerah tersebut.

Berkat kecerdasannya, beliau mampu memegang kendali otonomi atas wilayah perdikan Drajat melalui kerajaan Demak selama 36 tahun. Atas kesuksesannya tersebut maka orang-orang menyebut beliau dengan nama “Kadrajat” yang artinya terangkat derajatnya. Dari sebutan itulah akhirnya muncul nama Sunan Drajat. Selain itu, beliau juga mendapatkan gelar Sunan Mayang Madu (1520 M) dari Sultan Demak I, atas keberhasilannya dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat.

3          Penerus Beliau

3.1        Anak-anak Beliau

  1. Pangeran Trenggana
  2. Pangeran Sandi
  3. Dewi Wuryan

3.2       Murid-murid Beliau
Duratmo atau Ki Sulaiman.

4         Metode Dakwah Beliau

Menurut seorang antropologi bernama E. Vogt, masyarakat akan cenderung bersifat kolot dan juga progresif dalam menerima perubahan budaya. Mereka yang memiliki kedudukan tertentu dalam masyarakat cenderung tidak menyukai adanya perubahan yang mampu mengubah kedudukannya.

Sedangkan orang yang tidak memiliki kedudukan akan cenderung bersifat progresif. Dalam mengatasi hal-hal tersebut maka Sunan Drajat memiliki metode yang sangat bijak sebagaimana yang dijelaskan berikut.

4.1       Menjadi bagian Terpenting dalam Masyarakat
Untuk bisa dihormati dan diikuti oleh masyarakat maka Sunan Bonang menjadi bagian terpenting dalam lingkungan dakwahnya. Dalam beberapa naskah disebutkan bahwa beliau menikahi putri-putri dari petinggi desa atau wilayah kabupaten.

Dengan demikian maka cukup mudah bagi beliau untuk mengajak pemimpin dan rakyatnya masuk dalam agama Islam, atau mengajak orang-orang yang lebih kaya untuk menginfakkan sebagian harta mereka pada fakir miskin.

Selain itu, beliau juga mampu mengambil hati masyarakat dengan menyembuhkan warga yang sakit melalui doa dan juga ramuan tradisional.

Beliau juga terkenal dengan kesaktiannya, terbukti dengan adanya Sumur Lengsanga di daerah Sumenggah, yang diciptakan dari sembilan lubang bekas umbi hutan yang dicabut dan akhirnya memancarkan air bening untuk menghilangkan dahaga para pengikutnya selama perjalanan.

4.2       Mengayomi Masyarakat
Sunan Drajat kerap sekali memperhatikan rakyatnya, terutama setelah pembukaan lahan baru di perbukitan Drajat. Beliau sering melakukan ronda atau mengitari perkampungan di malam hari untuk mengamankan dan melindungi rakyatnya dari gangguan makhluk halus yang sering meneror warga.

Bahkan setelah sholat ashar, beliau juga sering berkeliling sembari berzikir dan mengingatkan penduduk untuk menghentikan pekerjaan mereka, serta mengajak untuk melaksanakan sholat maghrib.

4.3       Mengentaskan Kemiskinan Rakyat
Sunan Drajat terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi dengan selalu memperhatikan kaum fakir miskin. Sesuai dengan namanya Al-Qosim yang berarti orang yang suka memberi harta warisan, rampasan perang, dan sebagainya.

Ajaran Sunan Drajat lebih ditekankan pada kesejahteraan masyarakat berupa kedermawanan, solidaritas, gotong royong, menciptakan kemakmuran, dan pengentasan kemiskinan. Setelah hal itu terwujud barulah beliau memberikan ajaran dan pemahaman tentang Islam.

4.4       Dengan Kearifan dan Kebijaksanaan
Sunan Drajat menyampaikan ajaran Islam melalui metode dakwah bil-hikmah atau dengan cara-cara yang bijak dan tidak memaksa. Beliau menggunakan pendekatan lewat pengajian-pengajian di masjid, menyelenggarakan pendidikan pesantren, dan memberikan fatwa/petuah untuk berbagai masalah.

Selain itu, beliau juga mengajarkan kepada muridnya tentang kaidah untuk tidak saling menyakiti baik secara perkataan maupun perbuatan, seperti: “Hindari pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukannya”.

4.5       Melalui Kesenian Tradisional
Sama seperti Sunan Bonang, Sunan Drajat juga sering berdakwah melalui adat lokal dan kesenian tradisional, asalkan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Beliau sering menyampaikan petuah melalui tembang pangkur yang diiringi dengan alat musik gending.

Beberapa tembang pangkur yang diubah telah disimpan rapi di museum Sunan Drajat. Selain itu, keahlian bermusik Sunan Drajat juga dibuktikan dengan adanya seperangkat gamelan ‘Singo Mengkok’.

4.6      Lewat Pitutur Sosial
Di sisi lain, Sunan Drajat juga mengajarkan tata cara hidup sebagai makhluk sosial yang harus saling membantu. Terbukti dengan adanya artefak di komplek makam yang bertuliskan catur piwulang.

Adapun empat pokok yang diajarkan oleh Sunan Drajat tersebut meliputi: berikan tongkat pada orang buta, berikan makan orang yang kelaparan, berikan pakaian pada orang telanjang, dan berikan payung pada orang yang kehujanan.

5         Karomah Beliau      

5.1       Di Tolong Ikan Cucut dan Ikan Talang
Ketika kapal yang ditumpaginya karan atau tenggelam di lautan, sang sunan berpegangan pada kayuh atau dayung perahunya.

Sunan Drajat dapat bertahan karena pertolongan Allah. Karena kemudian muncul ikan cucut serta ikan talang atau cakalang yang akhirnya menyelamatkannya.

Kemudian setelah terombang-ambing ombak di lautan luas dan ditolong oleh ikan cucut atau ikan talang ini akhirnya beliau terdampar di desa di pesisir kota Lamongan.

5.2       Memancarkan Air dari Lubang Bekas Umbi
Ketika sunan Drajat mengadakan perjalalan dakwahnya, beliau dan pengikutnya merasa kehausan. Maka beliau meminta semua untuk istirahat dan mencari air untuk diminum.

Beberapa santrinya mencabut umbi hutan atau wilus untuk diambil airnya. Ketika itu sunan Drajat berdoa kepada Allah agar diberikan air, maka saat itu juga keluar air memancar deras dari bekas cabutan umbi hutan tersebut.

Hingga saat ini air keluaran dari bekas cabutan umbi hutan tersebut masih ada, bahkan dijadikan sumur oleh warga sekitar. Sumur ini menjadi sumur abadi yang ada di daerah itu.

5.3       Memindahkan Masjid Dalam Waktu Semalam
Ketika sunan sendang Dhuwur meminta masjid kepada Ratu Kalinyamat atau mbok Rondo Mantingan, ia diijinkan membawa masjid bangsawan yang ada di Jepara.

Ratu Kalinyamat mengijinkan untuk memindahkan masjid yang berada di Jepara tersebut unuk dibawa ke desa Sendang Dhuwur.

Namun dengan syarat, ketika nanti memindahkan tidak boleh ada bekas pindahan atau puing-puing pemindahannya. Selain itu juga syaratnya harus dipindahkan dalam satu malam.

Sunan Sendang Dhuwur kemudian meminta bantuan sunan Drajat untuk memindahkan masjid tersebut ke desa Sendang Dhuwur.

Akhirnya dalam waktu semalam masjid yang berada di Jepara bisa dipindahkan oleh sunan Drajat tanpa meninggalkan secuil potongan atau serpihan di tempatnya yang lama,

Esok harinya, warga desa Sendang Dhuwur merasa kaget karena muncul masjid bagus di desanya. Padahal kemarin tidak ada masjid di desanya. Mere ka sangat senang dengan adanya masjid dadakan tersebut.

Kemudian oleh masyarakat desa Sendang Dhuwur digunakan sebagai tempat sholat dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

6        Keteladanan Sunan Drajat

Dalam melakukan syiar ajaran Islam, Sunan Drajat memilih pendekatan melalui pendidikan moral. Ia dikenal sebagai wali yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat miskin. Sunan Drajat merupakan anggota Wali Songo yang mengembangkan dakwah Islam melalui jalur pendidikan moral. Ia juga dikenal sebagai wali yang punya kepudulian tinggi terhadap masyarakat miskin.

Dalam bukunya berjudul Atlas Wali Songo (2012), Agus Sunyoto mengisahkan bahwasanya Sunan Drajat mendidik masyarakat sekitar supaya memiliki kepedulian terhadap nasib fakir miskin, mengutamakan kesejahteraan umat, serta memiliki empati.

7        Penghargaan

Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo meng­kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.

Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-­benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.

Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, S.H. untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu­nan Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.

8        Referensi

https://wisatanabawi.com
https://www.biografiku.com

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya