Allah Maha Pencemburu, Sebuah Kajian Tasawuf Prof Buya Syakur

Allah Maha Pencemburu, Sebuah Kajian Tasawuf Prof Buya Syakur

LADUNI.ID, Jakarta - Tahukah Anda bahwa Allah itu maha cemburu? Tahukah Anda bahwa Allah itu juga tidak suka dimadu? Tulisan ini akan membahas mengenai pandangan tasawuf dari KH Buya Syakur Yasin tentang bagaimana mencintai Allah dengan sungguh-sungguh.

Konon, terdapat sebuah cerita tentang seroang murid yang belajar kepada seorang waliyullah. Setelah sekian puluh tahun murid ini belajar kepada sang waliyullah tersebut, akhirnya semua ilmu yang dipelajari sudah dikuasai semuanya dari sang waliyullah.

Akan tetapi, si murid masih ingin belajar lebih lagi. Lalu sang waliyullah tersebut mengatakan, “sudah ilmu saya segini. Kalau ingin lebih lagi, sana belajarnya di Lebanon, di Syiria, di Syam, di sana ada wali besar, silakan di sana belajar.”

Mengetahui hal tersebut, sang murid pun berangkat ke sana. Sesampainya di tempat sang wali besar itu, si murid kemudian meminta untuk menjadi muridnya. Akan tetapi, sang wali besar itu menolaknya. Ya, sang murid tidak diterimanya.

Sang wali besar itu pun lantas pergi meninggalkannya, tetapi si murid tetap mengejar. “Tolong terima saya sebagai murid,” kata si murid itu. Namun sang wali besar itu bilang tidak bisa. Lantas sang wali itu pun pergi, namun sang murid masih mengejarnya.

“Ya sudah kalau tidak mau ngajari, tolong ajari satu kata saja, masa gak dapat satu kalimat saja. Ya supaya aku sah menjadi muridmu, tolong ajari satu kalimat saja,” pinta si murid.

Lalu, sang wali besar itu pun berhenti dan mengatakan, “Oke kalau begitu, satu kata ya, ketahuilah bahwa Allah itu Maha Cemburu,” kata sang wali besar itu.

Setelah itu, si murid kemudian kembali kepada gurunya yang awal tadi. Lantas, sang guru itu pun menanyakan, “Apa yang kau dapatkan?”. Sang murid itu lantas menjawab,

“Allah Maha Pencemburu.”

Hal ini berarti bahwa, ibarat kita mencintai seorang perempuan, ketika kita mengatakan bahwa aku cinta kepadamu, maka tidak mungkin hal itu diucapkan kepada perempuan lain. Jika hal itu terjadi, maka itu namanya gombalan belaka. Bukan cinta.

Allah maha cemburu. Allah tidak mau dimadu dengan siapapun. Oleh karena itu, cinta itu hanya untuk Allah. Mengenai cinta dengan seorang istri atau suami, itu namanya adalah cinta kemanusiaan, dan tidak sama dengan cinta kepada Allah.

Jika cinta itu hanya kepada Allah, maka Anda harus mengatakan “you’re my everyting, engkau adalah segala-galanya, hidupku dan matiku hanya untuk-Mu. Ibadahku, shalatku, dan semuanya hanya untuk-Mu”.

Dengan demikian, maka cinta kepada Allah sangat berbeda dengan cinta makhluk kepada makhluk. Jika cinta kepada Allah meniscayakan penyerahan sepenuhnya, maka cinta kepada sesama makhluk pasti masih cinta yang bersyarat.

“Kepada suami, aku akan selalu mencintaimu selagi engkau masih setia kepadaku. Jadi kalau cinta bersyarat, selagi engkau ngasih uang nafkah, aku mencintaimu. Kalau tidak aku pergi ke Saudi.”


Artikel ini disarikan dari ceramah KH Prof Buya Syakur Yasin. Video selengkapnya lihat di sini.