INFAK / SEDEKAH/ DONASI/ SUMBANGAN untuk LADUNI.ID
Seluruh dana yang terkumpul untuk operasional dan pengembangan portal dakwah Islam ini
Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) didirikan sekitar pada tahun 1825 di dusun Gedang kelurahan Tambakberas, Kec. Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur
Nilai-nilai kebenaran diyakini dan diperjuangkan NU agar membawa maslahat bagi umat manusia, yang semuanya itu berlandaskan keilmuan kuat. Sebab, memang menegakkan kebenaran merupakan komitmen NU sejak dulu dan selalu konsisten dilanjutkan oleh generasi penerusnya.
Berawal dari motivasi dan desakan para alumni santri sang ayahanda KH. Anas Abdul Halim (Kiai Abdul Halim) untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan pondok pesantren, maka KH. Anas Abdul Halim dengan tekat bulat mendirikan PP. Miftahul Midad Sumberrejo Sukodono Lumajang guna meng”istiqomah”kan diri terhadap agama Islam.
Dalam khazanah pesantren, kita tahu tentang istilah Luhumul Ulama’ Masmuumah (daging ulama itu beracun). Kalimat ini cukup populer di kalangan penuntut ilmu.
Ada beberapa alasan mengapa kita harus mengikuti para ulama. Argumentasi yang paling mendasar adalah petunjuk dari Nabi Muhammad SAW yang memang memerintahkan untuk mengikuti ulama dalam banyak persoalan yang kita sendiri tidak mengetahuinya.
Perbedaan pendapat, jikalau dipahami dengan proporsional, maka tentu akan membawa rahmat. Umat Islam secara umum tinggal memilih satu pendapat yang lebih cocok, lebih sesuai dan lebih maslahat serta lebih mudah dijalankan, di antara sekian banyak pendapat.
Setiap malam, Abu Ayyub dan istrinya menyiapkan makanan untuk Rasulullah SAW. Mereka mengirimkannya dengan penuh hormat dan penuh harap akan keberkahan. Bila beliau mengembalikan sisa makanannya, mereka biasanya segera mencari bagian yang disentuh tangan beliau.
Diam terkadang lebih efektif dalam menyelesaikan masalah, karena terlalu reaktif walaupun niatnya baik, malah akan menambah rumit sebuah persoalan, apalagi yang berseteru keduanya sama-sama orang yang kita hormati, bisa keluarga, guru atau atasan sendiri.
KH. Rizqi Dzulqornain al-Batawi., M.A adalah ulama Nahdlatul Ulama (NU) asal Betawi, Jakarta.