DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan meniscayakan adanya tanggung jawab. Demikian pula terkait hal memilih menjadi juru damai.
“Ketahuilah, bahwa yang patut dan pantas disebut sebagai seorang ulama ialah sosok yang makananannya, pakaiannya, tempat tinggalnya (rumah) dan hal- hal lain yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, adalah sederhana, tidak bermewah-mewahan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan.”
Allah SWT menciptakan manusia dengan kehendak dan pilihan. Maka tidak benar jika seseorang berbuat dosa lalu beralasan bahwa perbuatan itu sudah ditakdirkan. Allah tidak memerintahkan keburukan dan tidak meridhoi kezaliman.
Kisah di balik Qosidah Burdah adalah potret nyata seorang manusia yang patah, lalu sembuh karena cintanya kepada Nabi SAW. Pegarangnya, Imam Al-Bushiri bukanlah seorang malaikat. Beliau adalah seorang ulama sekaligus penyair, yang juga mengalami kelelahan hidup, sakit, dan kehilangan harapan.
Manakala aku memaafkan orang dan tidak mendengki. Jiwaku menjadi tenang, tak hendak membalasnya (dan itu menjadi obat bagi stress dan hati yang sakit).
Keberkahan dan kebermanfaatan ilmu yang didapat tergantung seberapa besar ia menjaga adab sebagai seorang santri. Keterangan terkait hal ini, dalam Muqaddimah Majmu' Syarah Al-Muhadzab disebutkan beberapa hal yang menjadi adab seorang santri.
Secara umum "santri" adalah julukan seorang yang sedang menempuh belajar ilmu agama di pondok pesantren. Biasanya selain menuntut ilmu agama, santri diwajibkan juga untuk tinggal di asrama.
Terkait makna mati syahid, menurut para ulama adalah jaminan mati dalam keadaan husnul khatimah. Mereka akan masuk surga tanpa dihisab, bahkan semua dosanya langsung diampuni.
Dalam sebuah video pengajian yang tersebar di YouTube, Gus Baha pernah menegaskan, bahwa ulama yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar, hakikatnya aktivitas mengajar yang dilakukannya itu lebih utama daripada memperbanyak istighfar.
Setiap orang yang berstatus "santri" harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membersihkan pemikiran dari hal-hal yang merusak keimanan.