DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Sederhananya, khusyuk adalah suatu keadaan hati seseorang yang berupa ketenangan, ketundukan, rasa takut, kerendahan diri di hadapan Allah SWT yang nantinya akan memunculkan sikap dalam bentuk fisik, baik berupa ketundukan, kerendahan diri, menundukkan pandangan dan merendahkan suara.
“Cintamu terhadap surat ini (Al-Ikhlas) telah memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. Bukhari)
Pengakuan "saya tidak tahu" dari para ulama besar juga mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati. Dalam dunia yang serba cepat, di mana orang sering kali berlomba untuk menunjukkan kepintaran, keteladanan ini mengingatkan bahwa ilmu tidak pernah habis untuk dipelajari.
‘Ujub, atau perasaan bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri, adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Dalam Islam, ‘ujub bukan hanya dianggap sebagai dosa, tetapi juga salah satu pintu masuk setan untuk menyesatkan manusia.
“Ada tiga hal yang membinasakan; kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang 'ujub terhadap dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi)
KH. Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama yang biasa disebut Hadratussyaikh adalah sosok yang sangat alim sehingga mampu meringkas ilmu aqidah yang paling minimal untuk diketahui setiap Muslim hanya dalam beberapa kata.
Imam Abul Hasan Al-Asy’ari merupakan pendiri dari Mazhab Asy’ariyah, mazhab yang saat ini dianut oleh mayoritas ulama di dunia. Mazhab Asy’ariyah dianut karena wujud moderatismenya.
Dalam kitab Jala’ul Afham Syarhu Aqidatil Awam, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki menyertakan satu kisah menarik tentang mimpi pengarang Nadhom Aqidatul Awam, Syaikh Ahmad Marzuqi. Kisah tersebut ditengarai sebagaimana pengakuan dari pengarangnya sendiri yang dipertanggungjawabkan.
“Dan dirikanlah shalat, karena shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan mengingat Allah (dalam shalat) adalah lebih besar (keutamaannya).” (QS. Al-Ankabut: 45)
Syariat Islam yang diberlakukan kepada manusia memiliki beberapa tujuan utama guna menjaga dan menarik kemaslahatan serta menolak dan mengantisipasi timbulnya berbagai kerusakan. Hal ini terdapat pada lima hal pokok yang menjadi sendi-sendi kehidupan umat Islam.