DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Belum banyaknya para ulama di Nusantara yang memberikan perhatian penuh terhadap kajian hadis pada abad ke-20. Hingga datangnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, seorang santri dari Muhaddis Nusantara yang memiliki reputasi tinggi di Timur Tengah
Selain menjadi kebutuhan hidup, air juga menjadi kebutuhan dalam kelancaran beribadah.
Beberapa santri program Tahfidzul Qur'an sedang antri vaksin. Mereka menutup telinga karena ada suara music, gurunya memvideokannya. Sebagian netizen heboh. Sebagian oke, menghargai sikapnya, sebagian lagi menolak. Menganggapnya terlampau berlebihan.
“Cintaku untuk Siapa?” Tentu mudah menjawabnya, “Untuk Allah dan Makhluk-Nya!” Tuntas bukan. Tapi tak sesederhana itu, tentu diperlukan narasi yang dapat mengurangi dahaga intelektual para pecinta, yang notabene adalah insan manusia di mana pun kita berada
Kisah ini diceritakan oleh Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa. Ketika beliau Habib Munzir sedang berada di Hadhramaut, tepatnya saat tinggal di kota Syihir di Rubat Mustafa milik Habib Husin Al-Habsyi (karena saat itu di Tarim belum kondusif), beliau melihat jenazah wanita tua sedang diusung.
Burung pipit yang sedang jatuh cinta, layaknya kita, merayu membabi buta, sampai lupa segalanya. Seperti kita kah?
Childfree artinya nikah tanpa punya anak. Bayangkan saja andaikata orang tua kita dulu memutuskan childfree tentu hari ini kita tidak berwujud
Kemampuan berbicara di depan umum bukanlah kemampuan yang semua orang miliki, namun kemampuan ini bisa dipelajari dengan latihan
KH Abdul Hannan Ma’shum Kwagean merupakan sosok panutan, sebagai ulama, pemimpin, dan tokoh masyarakat, KH. Abdul Hannan Ma’shum menjadi tokoh panutan umat, segala tutur kata dan bentuk nyata selalu menjadi tolak ukur kehidupan masyarakatnya, termasuk dalam kehidupan keluarga
KH Abdul Wahid Zaini merupakan pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid, sejak muda beliau menujukkan kecintaan dan kepeduliannya pada pendidikan. Setelah dididik oleh sang ayah, KH Abdul Wahid Zaini meneruskan pendidikannya di Pondok Pesantren Peterongan Jombang