Biografi KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

 
Biografi KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Mustofa Bisri

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Pengasuh Pondok dan Sosok Penulis
  5. Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Karya-Karya
  7. Penghargaan

Kelahiran

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Beliau lahir dari seorang ibu yang bernama Nyai Marafah Cholil dan seorang ayah yang hebat bernama KH. Bisri Mustofa sang pengarang Kitab Tafsir Al Ibriz li Ma’rifah.

Ayah Gus Mus juga dikenal sebagai seorang orator atau ahli pidato. Bahkan menurut KH. Saifuddin Zuhri, KH. Bisri Mustafa mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit sehingga menjadi begitu gamblang, mudah diterima semua kalangan baik orang kota maupun desa.

Kemudian beliau juga mampu membuat hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, sesuatu yang membosankan menjadi mengasyikkan, sesuatu yang kelihatannya sepele menjadi amat penting, berbagai kritiknya sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan, serta pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan secara sopan dan menyenangkan.

Selain itu, Kakeknya, KH. Zaenal Mustofa adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama. Pada tahun 1955, KH. Zaenal bersama keluarganya  mendirikan Taman Pelajar Islam (Roudlotut Tholibin). Pondok pesantren tersebut kini diasuh oleh Gus Mus.

Keluarga

Gus Mus melepas masa lajangnya dengan menikah dengan Nyai Hj Siti Fatma putri Kiai Basyuni pada 19 September 1971. Buah dari pernikahanya, Gus Mus dan Istrinya dikaruniai enam anak perempuan diantaranya, lenas Tsuroiya, Kautsar Uzmut, Rudloh Quds, Rabiatul Bisriyah, Nada dan Almas serta seorang anak laki- laki, Muhammad Bisri Mustofa.

Dari ke enam putrinya, Gus Mus memiliki enam orang menantu diantaranya, Ulil Abshar Abdalla, Reza Shafi Habibi, Ahmad Sampton, Wahyu Salvana, Fadel Irawan, dan Rizal wijaya.

Pendidikan

Ayah Gus Mus sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, lebih dari sekedar pendidikan formal. Meskipun otoriter dalam prinsip, namun ayahnya mendukung anaknya untuk berkembang sesuai dengan minatnya.

Riwayat pendidikan Gus Mus dimulai dari SR (sekolah Rakyat) di Rembang, kemudian lanjut ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuki dan KH Mahrus Ali, Kurang lebih beliau belajar di Lirboyo sekitar dua tahun, kemudian beliau lanjut belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, di bawah asuhan KH Ali Ma‘shum dan KH Abdul Qadir, kurang lebih sekitar 4 tahun Gus Mus mondok di sana. Kemudian melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar Cairo.

Baca juga: Kenangan Lucu KH Mustofa Bisri Saat Mondok di Lirboyo

Pengasuh Pondok dan Sosok Penulis

Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, Leteh, Rembang. Pekerjaannya sebagai penulis dan staf pengajar di Pesantren Taman Pelajar Rembang; Penasihat di Majalah Cahaya Sufi dan Al-Mihrab Semarang. Ikut mengasuh situs Pesantren Virtual dan Gusmus.Net.

Beliau juga seorang budayawan yang aktif menulis kolom, esai, cerpen, dan puisi di berbagai media masa. Seperti: Tempo, Forum, Umat, Amanah, Ulumul Qur’an, Panji Masyrakat, Horison, Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Detak, Wawasan, Bali Pos, Dumas, Bernas, Pelita, Pesantren, Warta Nu, Aula. Selain menulis, beliau juga sering berceramah dan baca puisi.

Kepedulian Gus Mus yang tercurah media massa melahirkan konsep “MataAir‘. Konsep ini mewadahi mimpinya tentang media alternatif yang berupaya memberikan informasi yang lebih jernih, yang pada awalnya merupakan respons atas keprihatinannya terhadap kebebasan pers yang sangat tidak terkendali (setelah Orde Baru tumbang, 1998). Meski belum sepenuhnya hadir seperti yang diharapkan Gus Mus, konsep “MataAir‘ ini akhirnya terwujud dengan diluncurkannya situs MataAir, gubuk maya Gus Mus di www.gusmus.net  (2005), kemudian disusul penerbitan perdana majalah MataAir jakarta (2007) dan MataAir Yogyakarta (2007). “MataAir” mempunyai motto: “Menyembah Yang Maha Esa, Menghormati yang lebih tua, Menyayangi yang lebih muda, mengasisih sesama”.

Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

Sejak muda Gus Mus adalah pribadi yang terlatih dalam disiplin berorganisasi. Sewaktu kuliah di Al-Azhar Cairo, bersama KH Syukri Zarkasi (sekarang Pengasuh Ponpes Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur), Gus Mus menjadi pengurus HIPPI (Himpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia) Divisi Olah Raga. Di HIPPI pula Gus Mus pernah mengelola majalah organisasi (HIPPI) berdua saja dengan KH. Abdurrahaman Wahid (Gus Dur).

Baca juga: Gus Mus Ungkap Rahasia Kalimat ‘Begitu Saja Kok Repot’ ala Gus Dur

Tidak berbeda dengan para kiai lain yang memberikan waktu dan perhatiannya untuk NU (Nahdlatul Ulama), sepulang dari Cairo Gus Mus berkiprah di PCNU Rembang (awal 1970-an), Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah (1977), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, hingga Rais Syuriyah PBNU (1994, 1999). Tetapi mulai tahun 2004, Gus Mus menolak duduk dalam jajaran kepengurusan struktural NU. Pada pemilihan Ketua Umum PBNU 2004-2009, Gus Mus menolak dicalonkan sebagai salah seorang kandidat.

Pada periode kepengurusan NU 2010 – 2015, hasil Muktamar NU ke 32 di Makassar Gus Mus diminta untuk menjadi Wakil Rois Aam Syuriyah PBNU mendampingi KH. M.A. Sahal Mahfudz. Pada bulan Januari tahun 2014, KH. M.A. Sahal Mahfudh menghadap kehadirat Allah, maka sesuai AD ART NU, Gus Mus mengemban amanat sebagai Pejabat Rois Aam hingga muktamar ke 33 yang berlangsung di Jombang Jawa Timur. Pada muktamar NU di Jombang, Muktamirim melalui tim Ahlul Halli wa Aqdi,  menetapkan Gus Mus memegang amanat jabatan Rois Aam PBNU. Namun Gus Mus tidak menerima Jabatan Rois Aam PBNU tersebut dan akhirnya Mukatamirin menetapkan Dr. KH. Ma‘ruf Amin menjadi Rois Aam PBNU periode 2015-2020.

Selain itu, Gus Musa merupaka salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.

Karya-Karya

Saat belajar di Leteh, di pesantren ayahnya sendiri, selain pengajian dan olah raga, aktifitas lain yang digunakan Gus Mus adalah menulis Puisi. Hal yang sama juga dilakukan oleh kakaknya, Gus Cholil. Kedua kakak beradik ini saling berkompetensi untuk menunjukkan hasil karya siapa dulu yang dimuat di media massa.

Gus Mus ingat betul, betapa ia sangat jengkel saat karya puisi Gus Cholil muncul di sebuah harian yang terbit di Semarang. Lebih jengkel lagi ketika kliping karya puisi itu ditempelkan di papan pengumuman yang ada di pesantren, sehingga semua santri dapat membacanya.

Gus Mus memandang hal itu sebagai tantangan yang perlu dijawab. Ia berusaha keras menunjukkan kemampuan di bidang yang sama. Akhirnya, berkat kerja keras, tulisan puisi Gus Mus dimuat di media massa. Karya puisi itu kemudian ditempel pada papan yang sama di atas karya puisi milik kakaknya. Kejengkelan Gus Mus terobati.

Diantara karya-karya Gus Mus yang telah diterbitkan, antara lain: Kitab Pendidikan Islam: (Kimiya-us Sa‘adah (terj. Berbahasa Jawa, t,th, Assegaf, Surabaya), (Proses kebahagiaan (t.th, Sarana Sukses, Surabaya), Pokok-Pokok Agama (t.th., Ahmad Putra, Kendal), Dasar-Dasar Islam (1987, Abdillah Putra, Kendal), Ensiklopedi Ijmak (bersama K.H. Ahmad Sahal Mahfudz, 1987, Pustaka Firdaus, Jakarta), (Maha kiai Hasyim Asy‘ari (1996, Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta), (Metode Tasawuf Al Ghozali (terjemahan & komentar, 1996, Pelita Dunia, Surabaya), (Al-Muna, Syair Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi islam dan bahasa arab ini, sebelumnya menempuh pendidikan di SR 6 tahun (Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak(Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

Asma‘ul Husna (terj. Berbahasa Jawa tulisan pegon, cet.1, Al Miftah, Surabaya; 1417H/1997, cet.2, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang), (Fikih Keseharian Gus Mus, Bunga Rampai Masalah-Masalah Keberagamaan (Juni 1997, cet.1, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang bersama Al-Miftah, Surabaya; April 2005, cet.2; Januari 2006, cet.3, Khalista, Surabaya & Komunitas MataAir).

Kumpulan Esai: (Saleh Ritual Saleh Sosial, Esai-Esai Moral (1995, cet.2, Mizan, Bandung), (Pesan Islam Sehari-hari, Ritus Dzikir dan Gempita Umat (1997, cet.1; 1999, cet.2, Risalah gusti, Surabaya), (Melihat Diri Sendiri (2003, Gama Media, Yogyakarta), (Kompensasi (2007, MataAir Publishing, Surabaya), (Oase Pemikiran (2007, Kanisius, Yogyakarta), (Membuka Pintu Langit (2007, Penerbit Buku Kompas, Jakarta).

Kumpulan Puisi: (Ohoi, Kumpulan Puisi-Puisi Balsem (1998, stensilan; 1990, P3M), (Dr. Sapardi Djoko damono, Pengantar: H. Soetjipto Wirosardjono dan al-haj Stardji Calzoum Bachri), (Tadarus 1993, Prima Pustaka, Yogyakarta, Pengantar: Prof. Dr. Umar Kayam), (Rubaiyat Angin dan rumput (t.Th., Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, pengantar: Sapardi Djoko Damono), (Pahlawan dan Tikus (1995, Pustaka Firdaus, Jakarta, Kata Pembaca: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Danarto), (Wekwekwek, Sajak-Sajak bumi Langit (1996, Risalah Gusti, Surabaya), (Gelap Berlapis-lapis (1998, Yayasan Al-Ibriz, Rembang dan Fatma Press, Jakarta), (Gandrung, Sajak-Sajak Cinta (2000, cet.1, Yayasan Al-Ibriz, Rembang; 2006, cet.2, MataAir, Surabaya),

Baca juga: Gus Mus Ditunggui Sunan Kudus Saat Baca Puisi

(Negeri Daging (2002, Benteng, Yogyakarta), (Aku Manusia (2007, MataAir Publishing, Surabaya), (Syi‘iran Asmaul Husna (Berbahasa Jawa, t.th., cet.1, Al Huda, Temanggung; 1997, cet.2, MataAir Publishing, Surabaya), (Kumpulan Puisi bersama rekan penyair lainnya), (Antologi Puisi Jawa Tengah (editor Pamuji MS, 1994, Yayasan Citra Pariwara Budaya, semarang), (Takbir Para Penyair/The Poets Chant (editor Hamid Jabbar, Leon Agusta, Sitok Srengenge, 1995, Panitia Festival Istiqlal, Jakarta), (Sajak-Sajak perjuangan & Nyanyian Tanah Air, (Editor Oyon Sofyan, 1995, Penerbit Obor Jakarta), (Ketika Kata Ketika Warna (editor Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, 1995, Yayasan Ananda, Jakarta), (Horison Edisi Khusu Puisi Internasional 2002, (Horizon Sastra Indonesia, Buku Puisi).

Kumpulan Cerpen: (Lukisan Kaligrafi (2003, Penerbit Buku Kompas, Jakarta) Menerima Penghargaan Anugerah Sastra Asia‖ dari Majelis Sastra Asia (Mastera) (Malaysia, 2005), (Cerpen A. Mustofa Bisri Gus Jakfar bersama rekan-rekan masuk dalam antologi Waktu Nayla, Cerpen Pilihan Kompas 2003 (2003, Penerbit Buku Kompas, Jakarta), (Bacalah Cinta (editor Abdul wahid B.S., 2005, bukulaela, Yogyakarta).

Gubahan Humor: (Mutiara-Mutiara benjol (1994, cet.1, Lembaga Studi Filsafat, Yogyakarta; 2004, cet.2, Mata Air publishing Surabaya), (Canda Nabi & Tawa Sufi (Pengantar KH. Abdurrahman Wahid, Juli 2002, cet.1; November 2002, cet.2, Hikmah, Bandung). Gubahan Dongeng untuk Anak: (Awas Manusia (1979, Gaya Favorit Press, Jakarta) dan (Nyamuk Yang Perkasa)

Karena dedikasinya dibidang sastra, Gus Mus banyak  menerima undangan juga dari berbagai negara. Bersama Sutardji Colzoum bachri, Taufiq Ismail, Abdul hadi WM, Leon Agusta, Gus Mus menghadiri perhelatan puisi di Baghdad (Iraq, 1989). Masyarakat dan mahasiswa Indonesia menunggu dan menyambutnya di Mesir, Jerman, Belanda, Perancis, jepang, Spanyol, Kuwait, Saudi Arabia (2000). Fakultas Sastra Universitas Hamburg,mengundang Gus Mus untuk sebuah seminar dan pembacaan puisi (2000).

Penghargaan

Sewaktu kuliah di Al Azhar (Cairo), Gus Mus dikenal sebagai atlet bulu tangkis dan sepak bola yang andal. Selain bulu tangkis dan sepak bola, melukis dan menulis adalah kegemaran Gus Mus sejak muda. Hingga kini lukisan karya Gus Mus mencapai bilangan ratusan dan bisa disaksikan publik dalam berbagai pameran lukisan. Sebuah lukisannya yang pernah mengundang kontroversi berjudul “Berdzikir Bersama Inul” dipamerkan bersama karya Djoko Pekik, Danarto dan kawan-kawan di Surabaya (2003).

Ketika diselenggarakan Pameran Post-Kaligrafi Kalam dan Peradaban‖di Jogja Gallery (2007),  Arrahmaiani seorang penulis dan perupa mencatat lukisan Gus Mus berjudul Institusi (2007) menarik untuk direnungkan. Lukisan itu menurutnya mempersoalkan kecenderungan orientasi vertikal yang kemudian diinstitusikan, yang menyebabkan manusia lupa adab karena kerancuan antara penghayatan ketuhanan dan nafsu (Arrahmaiani, 2007:29 kolom 4). Saat ini Gus Mussedang menyelesaikan serial 30 lukisan yang ditajukinya Lukisan Malam‖.

Atas Pengabdian semua itu Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada dedikasi Gus Mus. Acara penyematan berlangsung di Istana Negara. Jakarta, 13 Agustus 2015.

Selain itu, Universitas Malaya (Malaysia) mengundangnya untuk seminar Seni dan Islam. Sebagai cerpenis, Gus Mus menerima penghargaan Anugerah Sastra Asia‖ dari Majelis Sastra (Mastera, Malaysia, 2005).

 

Pengikut Beliau

  • Adi Darhadi Adi Darhadi