15 Aug 2018 Β· 1.640 dibaca · Ringan Riuh
Oleh: Fariz Alniezar
Kawan saya di daerah Jakarta Utara bercerita bahwa ia sekeluarga datang ke Jakarta akhir tahun 80an. Sebagaimana nasib para perantau lazimnya, mulanya keluarga mereka juga hidup bergelimang kesusahan.
“Susahmu tidak ada apa-apanya. Apalagi perantau-perantau zaman sekarang. Bedanya generasi bapakku dengan generasi kita dan anak-anak sekarang itu cuma satu,” kawan itu berbusa-busa.
“Apa?”
“Keberanian”
Saya bengong. Kawan itu memegangi dagunya yang hanya ditumbuhi beberapa helai rambut. Kalau dari teksturnya, jenggot kawan itu lebih bersifat aksesoris, bukan ideologis, apalagi wahabis.
“Ibarat masuk hutan, anak sekarang ndak mau melangkah sebelum ia mendapat kepastian atau minimal informasi yang pasti bahwa di dalam hutan itu tersedia warteg, tempat karaoke, papan karambol, dan pos kamling. Kalau orang dulu tidak begitu. Yang penting masuk dulu. Perkara di dalam hutan nanti mau ngapain, pikir setelah itu. Lha merantau itu persis masuk hutan. Begitu kata Bapakku,&
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+