Politik Adu Domba Penjajah Belanda di Aceh

 
Politik Adu Domba Penjajah Belanda di Aceh
Sumber Gambar: Pinterest, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Taktik  yang  dipakai  oleh  Belanda  untuk  menundukkan  orang  Aceh adalah dengan menggunakan senjata membunuh rakyat yang melawan, dan bahkan mengeksekusi para ulama yang menolak untuk bekerja sama dengan mereka.

Dengan adanya eksekusi terhadap para ulama itu, Tgk. Kuta Karang, salah satu ulama terkenal yang mempunyai komitmen terhadap sosio-politik dan kesejahteraan rakyat Aceh, mengingatkan rakyat Aceh dengan menyebarkan selebaran yang menyatakan bahwa invasi Belanda akan merusak kehidupan masyarakat Aceh, baik itu nyawa maupun  harta.

Menurutnya,  masyarakat  telah  diperbudak,  anak-anak telah mengabdi kepada Belanda, orang-orang tua bekerja sebagai tukang kebun,  remaja  putri dijadikan sebagai gundik, dan perempuan- perempuan tua sebagai pelayan.  Pendapat-pendapat tersebut mungkin dibesar-besarkan karena Tgk. Kuta Karang menulis kisah yang agak detil sehingga mampu membangkitkan emosi rakyat Aceh.  

Meskipun demikian, banyak bukti yang mendukung kebenaran selebaran-selebaran Tgk.   Kuta   Karang   tersebut.   Misalnya,  masyarakat  yang   disebut kettingberen (buruh kasar) telah dikirim ke Aceh diperlakukan bagaikan binatang pembawa beban dan kadang-kadang Belanda menyiksa mereka.

Pengaruh-pengaruh yang menguntungkan agresi Belanda telah diperlihatkan dalam sejarah perang Belanda-Aceh. Dalam usaha mereka untuk menguasai Aceh, Belanda mencoba untuk memisahkan kekuatan- kekuatan tradisional sultan, uleebalang, dan ulama dengan menawarkan “pemerintahan sendiri” (

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN