Membaca Kembali KH. A. Wahid Hasyim, "Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama?"
Tulisan dari pemikiran KH. A. Wahid Hasyim ini disusun oleh A. Sjahri, dimuat Gema Muslimin Tahun ke I Nopember 1953 dengan judul "Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama?". Tulisan ini merupakan potret jelas tentang proses "meminang" organisasi versi Kyai Wahid Hasyim. Yang menarik, putra pendiri NU yang kelak menjadi arsitek moderasi Islam Indonesia, ternyata tidak serta-merta memilih NU karena faktor keturunan atau tekanan lingkungan. Beliau justru menguji semua partai Islam dan kebangsaan saat itu, lalu dengan sadar memilih NU meskipun mengakui banyak kekurangannya yakni lambat, miskin akademisi, dan "keras" dalam tuntutan agama. Keputusannya tidak didasari romantisme, melainkan hasil observasi bahwa NU terbukti efektif menjalar ke 60% wilayah dalam 10 tahun, sementara partai radikal lainnya hanya berputar di dua karesidenan. Ini pelajaran berharga bahwa efektivitas gerakan tidak selalu diukur dari retorika keras, tapi dari daya tahan dan hasil nyata.
Sebagai catatan sejarah, tulisan ini juga mengoreksi narasi bahwa NU adalah organisasi "kolot" atau "beku". Kyai Wahid justru melihat para ulama NU tidak memonopoli organisasi, melainkan berfungsi sebagai penjaga ajaran yang tetap bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman selama tidak bertentangan dengan pokok Islam. Kini, di era di mana banyak kader NU terjebak pada identitas tanpa substansi (bangga menjadi nahdliyin tapi tidak menjalankan ibadah dan etika keulamaan), tulisan ini menjadi pengingat bahwa masuk NU di mata Kyai Wahid Hasyim adalah komitmen berat, bukan sekadar atribut sosial. Jika hari ini NU ingin terus maju, ia harus kembali pada "uji mentalitas" dan "penjaringan ketat" yang dulu justru menjadi daya tarik bagi orang-orang serius seperti beliau. Berikut ini tulisan yang dimaksud:
Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama?
Pada bulan April 1934, ketika saya baru datang dari Luar Negeri, datanglah permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan dari beberapa perhimpunan dan Partai Islam agar saya menggabungkan diri pada mereka. Antaranya dari Nahdlatul-Ulama. Saya tidak segera memenuhi permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan itu. Hampir 4 tahun saya menimbang, baru menentukan sikap memasuki salah satu daripada perhimpunan-perhimpunan atau Partai-Partai tadi.
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp784.000
Rp101.100
Rp590.000
Rp368.750
Memuat Komentar ...