Kesultanan Mataram Islam saat Gemilang dan Retak

 
Kesultanan Mataram Islam saat Gemilang dan Retak
Sumber Gambar: Basuki Bawono/Ilustrasi laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Setelah Kesultanan Demak melemah akibat perpecahan internal dan digantikan oleh Kesultanan Pajang yang kekuasaannya hanya berlangsung singkat, di tengah hamparan sawah dan bukit pedalaman Jawa Tengah perlahan tumbuh satu kekuatan baru yang kelak akan menjadi raksasa politik dan budaya yakni Kesultanan Mataram Islam. Berbeda dengan kerajaankerajaan pesisir seperti Demak atau Cirebon yang hidup mengikuti deru kapal dagang dan riuh pelabuhan, Mataram berakar kuat dari kehidupan agraris, bertumpu pada kesuburan tanah, hasil panen, dan keteraturan kehidupan masyarakat bertani. Pusat pemerintahannya terletak di wilayah yang kini meliputi sebagian besar daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah, jauh dari hirukpikuk lalu lintas laut namun strategis sebagai titik pertemuan jalur darat penghubung antarwilayah.

Berdiri sekira akhir abad ke16, awalnya Mataram hanyalah sebuah wilayah kecil yang masih berada di bawah pengaruh Pajang. Namun, berkat kepemimpinan para pendirinya seperti Senopati Ing Ngalaga, kerajaan ini perlahan bangkit memperluas pengaruhnya. Ia mulai menyatukan kembali wilayahwilayah yang terpecah belah pascamerosotnya kejayaan Kerajaan Majapahit, mengumpulkan kekuatan dari kerajaankerajaan kecil di sekitarnya, dan membangun sistem pemerintahan yang makin teratur. Perlahan namun pasti, nama Mataram mulai terdengar disegani, mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan pendahulunya dan meletakkan dasar bagi kejayaan terbesar Islam di Jawa pada masamasa berikutnya.

Masa Gemilang di Bawah Pimpinan Sultan Agung
Perlahan namun pasti, nama Mataram mulai terdengar disegani, mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan pendahulunya dan meletakkan dasar bagi kejayaan terbesar Islam di Jawa pada masamasa berikutnya. Proses penyatuan ini tidak berjalan mudah; Senopati Ing Ngalaga dan penerusnya harus menghadapi berbagai kerajaan kecil yang masih ingin berdiri sendiri, sekaligus memperkuat sistem pertahanan dan pemerintahan agar tidak mudah terguncang. Karena berbasis agraris, Mataram juga membangun jaringan irigasi, mengatur pembagian hasil bumi, dan menjadikan kesuburan tanah sebagai kekuatan utama ekonomi kerajaan.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN