07 Mar 2019 Β· 4.822 dibaca · Islam Nusantara
LADUNI.ID, Jakarta - Teringat dulu waktu kelas 5 SD saya sudah diutus abah saya untuk menghafal tasrif Sharaf tanpa mengerti maksud dan tujuan beliau. "Pokok kudu apal. Nek ora apal ora usah muleh nang omah, nang pondok terus wae" kata beliau.
Kelas 6 pun saya sudah harus hafal teori nahwu dari pembagian kalimah, i'rab dan tanda-tanda i'rab hingga fiil fa'il dan mubtadak khobar tanpa mengerti maksudnya.
Tapi memang begitulah santri, manut dulu, urusan ngerti maksud Kiai, itu urusan belakang. "Mengko yen wis gedhe ngadepi urip sing hakiki lak ngerti dewea". Kata Kiai Asmuni pada Sudrun.
Syahdan, ketika sudah bisa membaca kitab kuning dan mengenal kehidupan dunia yang sesungguhnya, barulah saya mengerti dibalik kudu manutnya santri kepada sang Kiai terkait ilmu sharaf dan nahwu itu.
Kenapa santri harus belajar tasrif kalimah? Bukan sekedar karena tiap kata dalam bahasa Arab adalah bentukan dari satu kata yang dikembangkan jadi banyak kata. Tapi hidup
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+