15 Mar 2019 · 1.819 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta - Ada yang genit dalam menyikapi partisipasi ulama NU pada kontestasi politik nasional. Genit karena mereka mengkritisi keterlibatan ulama NU berpolitik praktis, sembari mereka sendiri yang berpolitik praktis. Mereka melarang perkara yang mereka lakukan. Tapi ini tidak lebih dari perang urat syaraf yang saling dilancarkan. Tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
Keterlibatan ulama dalam politik bukan hal yang tabu. Esensi aktivitas politik adalah ri’ayah syu’unil ummah (pengatur semua urusan umat). Aktivitas tersebuat sebagaimana yang dibebankan Allah SWT kepada nabi-Nya.
Pernyataan tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).
Jika diamati dengan seksama, dari 25 orang Nabi dan Rasul, empat orang yang menjadi penguasa yaitu Na
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+